Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari 17th, 2008

BE A WINNER!

BE A WINNER!

Winning is not a sometime thing; it’s an all time thing. You don’t win once in a while, you don’t do things right once in a while. You do them right all the time. Winning is a habit. Unfortunately, so is losing.

(Lombardi)

Read Full Post »

KORAN Rp. 1.000,- vs DETIK.COM

       Akhir-akhir ini di berbagai perempatan jalan sering kita lihat harian Kompas dan koran Tempo dijajakan dengan harga Rp. 1.000,-. Koran itu terbitan sore, tapi seringkali sudah muncul pada siang hari. Jadi bukan koran basi, benar-benar ‘berita hari ini’. Kompas edisi sore bahkan diluncurkan dengan halaman depan baru, berbeda dengan Kompas edisi pagi.

       Dibandingkan koran lokal yang dijual dengan harga sekitar Rp. 3.000,- koran-koran ibukota ini sangat murah. Katakanlah untuk pengecernya diberikan rabat Rp. 500,-, berarti koran itu dilepas oleh penerbit hanya dengan Rp. 500,- saja. Suatu angka yang jelas tidak cukup untuk mengganti biaya produksi dan distribusi. Semula saya menduga ini semacam ‘politik etis’ seperti di jaman Belanda dulu, program balas budi kepada rakyat karena merasa telah mengeruk keuntungan yang sangat besar. Kita tahu, Kompas dengan tirasnya yang sedemikian besar, serta iklannya yang berduyun-duyun, sudah memperoleh untung besar bahkan jika korannya dibagikan gratis.

       Benarkah koran Rp. 1.000,- ini program ‘politik etis’? Barangkali saya terlalu ‘romantik’, terlalu naif. Di dunia kapitalisme, konon katanya tidak ada sesuatu yang gratis. Jadi koran Rp. 1.000,- ini ya promosi saja, tak kurang dan tak lebih. Tapi, Kompas yang sudah sebesar itu, mosok masih perlu promosi? Memangnya siapa yang mau disaingi atau dikalahkan?

       Menurut sumber yang dekat dengan manajemen Kompas, koran ini ‘gerah’ setelah mengetahui bahwa Detik.com menangguk laba bersih diatas 50 milyar sebulan, sementara Kompas ‘hanya’ sekitar 27 milyar saja. Padahal kerja yang harus dihandel manajemen Kompas jauh lebih rumit, ribet, dan kompleks daripada kerja pengelola Detik.com.

       Mengapa Detik.com sukses menjadi portal berita? Karena beritanya sangat up to date. Dalam hitungan jam, bahkan menit, sebuah peristiwa yang terjadi di suatu pelosok nusantara sudah bisa dibaca di Detik.com. Mengapa para kontributor berita begitu rajin menyetorkan berita ke Detik.com? Karena Detik.com memberikan honorarium langsung kepada mereka, begitu beritanya masuk. Besar honor bervariasi, dihitung dari berapa jam berita tersebut masuk dari saat peristiwa terjadi. Semakin cepat berita tersebut masuk, semakin besar honornya, yang langsung ditransfer ke rekening wartawan/reporter pengirim berita. Dan siapakah gerangan para kontributor berita Detik.com tersebut? Tak lain dan tak bukan adalah wartawan dan reporter koran, termasuk wartawan dan reporter Kompas.

       Bisnis informasi digital ternyata melibatkan jumlah uang yang luar biasa besarnya. Kita tentu belum lupa bagaimana Yahoo akan dibeli oleh Microsoft sebesar 40 milyar dolar lebih. Apakah ini merupakan bukti dari ramalan Naisbitt?

       Bagi saya, apa pun motif penjualan koran Rp. 1.000,- itu, apakah politik etis atau promosi, tetap saja merupakan langkah yang memberikan manfaat bagi orang banyak. Menjual informasi dengan harga murah, mengajak orang agar mau membaca, mendidik orang untuk memperluas wawasan, bukankah itu program yang baik?

Read Full Post »

BINGKISAN KASIH MAHASISWA

BINGKISAN KASIH MAHASISWA

       Ketika saya lulus dari Teknik Geodesi UGM lebih dari duapuluh tahun yang lalu, saya memberikan kenang-kenangan berupa buku novel karya saya kepada seorang dosen penguji pendadaran, yang pada waktu itu sangat membantu saya melewati saat-saat sulit. Dua tahun yang lalu saya bertemu beliau lagi (hebatnya, beliau masih saja segar dan ganteng seperti dulu … he he …), dan beliau mengatakan bahwa novel itu masih beliau simpan. Wah, bukan main bahagia hati saya!
Demikian juga, sewaktu saya lulus dari Teknik Sipil UMY tahun 1998, saya memberikan bingkisan kepada dosen pembimbing skripsi saya. Tanpa maksud apa-apa, benar-benar tulus sebagai ungkapan terimakasih.

       Ternyata apa yang saya lakukan tanpa pretensi apa-apa itu, belakangan dibalas oleh para mahasiswa saya. Hukum karma ( lho ??!! ) mungkin. Memang tidak semua, tapi banyak mahasiswa yang saya bimbing penulisan tugas akhir S1 atau tesis S2, setelah lulus lalu memberikan bingkisan. Bentuk bingkisan itu sangat beragam, dari sekotak ayam goreng sampai jam tangan bermerk yang lumayan mahal harganya. Saya senang menerima bingkisan-bingkisan itu, tidak peduli apa pun wujudnya. Bagi saya, pemberian itu merupakan wujud rasa terimakasih, yang berarti saya telah melakukan sesuatu yang mereka rasakan berguna bagi mereka. Saya selalu berusaha membimbing mahasiswa dengan seluruh kemampuan yang saya milki, bisa dihubungi kapan saja dengan sms, meluangkan waktu di kampus ataupun di rumah (asal dengan janjian terlebih dahulu).

       Salah satu bingkisan yang sangat berkesan bagi saya adalah sebentuk cincin bermata kecubung. Pemberinya adalah mahasiswa dari Kalimantan Selatan, daerah yang memang kaya dengan batu mulia. Tetapi yang lebih mengesankan adalah cara mahasiswa tersebut memberikan bingkisan itu. Selesai ujian pendadaran, begitu disampaikan bahwa mahasiswa tersebut lulus, maka seperti biasa mahasiswa mendatangi para dosen penguji untuk bersalaman. Pada saat itulah, mahasiswa tersebut merogoh kantong celananya, mengeluarkan kotak kecil bertutup plastik transparan, dan mengulurkannya kepada saya. Karena tutupnya transparan, maka kelihatan bahwa isinya adalah cincin bermata batu warna ungu-violet. Saya terkesima. Pertama, karena wujudnya yang berupa cincin. Kedua, cara memberikannya yang ‘langsung dan seketika’ (biasanya mahasiswa baru memberikan bingkisan beberapa hari sesudah kelulusan, diantar ke meja kerja di kampus atau ke rumah). Ketiga, bingkisan itu tidak dibungkus sebagaimana layaknya kado. Dengan perasaan geli saya pandangi mahasiswa bertampang culun tersebut.


       “Apa ini?” saya bertanya
       “Ya untuk ibuk” jawab mahasiswa tersebut dengan lugunya.
       “Kamu melamar saya?” sifat jahil saya muncul tiba-tiba, ingin ngerjain mahasiswa tersebut.
       Mahasiswa culun itu kaget, bingung, dan gelagapan. Jangan-jangan kosa kata ‘melamar’ pun dia tak paham.
       “Maaf buk,” sahutnya masih kebingungan “Apa ibuk belum punya suami?”


       Saya tidak bisa menahan tawa, begitu juga dua orang rekan dosen yang sama-sama menguji pendadaran mahasiswa tersebut.

       Bingkisan yang diberikan sesudah mahasiswa lulus selalu menyenangkan hati. Tetapi bingkisan yang diberikan sebelum mahasiswa ujian benar-benar menjengkelkan, membuat kesal dan marah. Saya pernah diberi uang sebesar satu juta rupiah oleh sekelompok mahasiswa dari Riau, yang dititipkan melalui staf administrasi di Unilak. Mungkin maksud mereka untuk tambahan uang saku, karena waktu itu saya datang untuk keperluan bimbingan proposal tesis mereka. Tapi saya sungguh tidak senang. Untuk langsung mengembalikan uang itu, rasanya kok tidak baik juga, kurang ‘cantik’ begitu. Jadi uang itu saya belikan 6 helai batik (dengan sedikit tombok), dan saya bingkiskan kembali kepada mereka. Lunaslah sudah. Saya tidak punya beban moral. Kalau nantinya mereka tidak lulus, ya tidak lulus saja. Mosok saya dibeli hanya dengan satu juta (kalau satu trilyun barangkali yaaa dipertimbangkan, kan bisa dipakai untuk membangun perumahan dosen UII … he he …)

Read Full Post »