Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret 5th, 2008

SUSU BAYI, SUSU IBU, SUSU KITA
       Minggu-minggu terakhir ini kita dihebohkan dengan hasil penelitian dari IPB yang menyatakan bahwa susu bayi dan makanan bayi tercemar bakteri Enterobacter Sakazakii. Ibu-ibu yang selama ini memberikan susu formula kepada bayinya menjadi resah, bingung dan kelimpungan. Ada yang kemudian mengganti susu untuk bayinya dengan air tajin, air rebusan beras yang diberikan kepada bayi pada zaman ‘kolobendu’ dulu, ketika bangsa kita susah makan dan susah pakaian karena dijajah Jepang (sehingga karung goni pun dibuat celana).
       Para akademisi, pejabat pemerintah, dan kalangan LSM bersilang pendapat. Sri Estuningsih, dosen Fakultas Kedokteran Hewan IPB yang melakukan penelitian ini tiga kali sejak tahun 2003 yakin penelitiannya sahih (Kompas, 29 Februari 2008). Dua penelitiannya dilakukan di Jerman, yaitu di Deutscher Akademischer Austausch Dienst (2003) dan di Justus-Liebig-University (2004). Penelitian ketiga dilakukan di IPB, dengan hasil 22,73 persen susu formula dan 40 persen makanan bayi tercemar bakteri E Sakazakii.
        Menkes Fadilah Supari, pejabat yang paling dimintai ‘pertanggung- jawaban’ atas kehebohan ini, membantah keras bahwa susu formula dan makanan untuk bayi membahayakan. Ia bahkan menduga ada kepentingan tertentu dibalik penelitian itu, dengan menunjuk bahwa penelitian tersebut didanai oleh industri susu di Jerman (Koran Tempo, 28 Februari 2008). Sri Estuningsih balas membantah penelitiannya punya motivasi persaingan bisnis, sekalipun dananya memang berasal dari Milk Science Institut di Jerman.
       Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Fahmi Idris juga mengkritik hasil penelitian ini, karena penelitian ini hanya dilakukan pada mencit (tikus percobaan) yang hasilnya tidak bisa digeneralisasi pada manusia (Koran Tempo, 28 Februari 2008). Sementara itu Roy Sparringa, Asisten Deputi Urusan Perkembangan Ilmu Kedokteran Kesehatan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (busyeet … namanya panjang bener… ) menyatakan bahwa penelitian identifikasi adanya bakteri berbahaya dalam makanan bukan berarti berisiko bagi kesehatan (Kompas, 1 Maret 2008). Harus dilakukan penelitian lanjutan untuk menyimpulkan adanya risiko.
       Seto Mulyadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (KNPA), mendesak pemerintah agar segera menarik semua jenis susu dan makanan bayi yang beredar di pasar (Kompas, 4 Maret 2008). Ia menyatakan, “Demi keamanan, tarik dulu semua” (lha untuk bayi yang selama ini minum susu formula, lalu harus minum apa dong … ). Sekjen KNPA, Arist Merdeka Sirait bahkan mengancam, jika Departemen Kesehatan dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) tidak menarik produk susu yang tercemar bakteri itu dalam waktu sepekan, “Kami akan menempuh jalur hukum”.
        Ancaman itu segera dijawab oleh Husniah Rubiana, Kepala BPOM, bahwa BPOM tidak akan menarik produk susu formula yang sekarang beredar di pasar. “Kalau saya meminta seluruh produk susu formula ditarik dari pasar, saya salah karena semua memenuhi syarat”, katanya.
       Heboh …
       Bagaimana sih sebenarnya duduk perkara susu ‘rasa bakteri’ ini?

Read Full Post »