Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret 25th, 2008

Catatan :

Novelet ini terpaksa saya upload menjadi cerita bersambung, karena cukup panjang. “Diburu Bayang-Bayang” adalah salah satu novelet yang saya sukai, terinspirasi oleh tragedi kehidupan keluarga yang tinggal di depan rumah ibu saya. Novelet ini adalah Pemenang III Sayembara Novelet Femina 1984. Ilustrasi yang ada pada cerber ini saya ambil dari ilustrasi yang ada di majalah Femina, garapan ilustrator Yan Mintaraga.

Selamat menikmati.

DIBURU BAYANG-BAYANG

Pintu Laboratorium Anatomi terkuak. Puluhan mahasiswa yang selesai praktikum pagi menghambur seperti laron keluar dari liangnya setelah hujan lebat reda. Tetapi berbeda dengan laron-laron yang keluar dari sarangnya dengan mengepakkan sayap penuh gairah hidup, laron-laron yang keluar dari Laboratorium Anatomi itu kusut dan tampak mengerikan wajahnya. Dan … astaga! Apa pula ini? Aroma mereka! Angin yang timbul oleh desir tubuh mereka terasa mencekik nafas dengan bau formalin yang menusuk hidung. Bau mayat yang diawetkan!

Bulu kudukku meremang, dan nyaliku mengkerut tinggal sebesar biji kedelai. Betapa tidak. Sebentar lagi aku harus masuk ke ruang jagal itu dan meneruskan apa yang sudah mereka kerjakan : membedah mayat. Sosok jasad yang pernah hidup tak beda dengan diriku itu akan kusayat wajahnya, kukuliti tubuhnya, kucongkel matanya, kubelah dadanya, kuiris jantungnya, kurobek perutnya, serta kupotong kaki tangannya. Aku, manusia, akan merajam manusia lain yang telah kehilangan dzat hidupnya, yang semestinya lebih dihormati justru karena ia telah tidak berdaya lagi. Makhluk itu telah diambil kembali oleh Sang Khalik, tetapi kami dengan kepongahan ilmiah telah menahannya di dunia untuk dijadikan obyek pemuas rasa ingin tahu kami. Astaghfirullah, apakah ini bukan suatu kelancangan yang sungguh luar biasa pada kehendak Dia Yang Maha Mulia?

(lebih…)

Read Full Post »