Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April 15th, 2008

RUMAH KECIL DI SUDUT HALAMAN

Halaman rumah kami memang luas. Di sertifikat tanah, tercantum luasnya 1.100 meter persegi. Pohon nangka, jambu air, mangga, pepaya, pisang, belimbing, jeruk nipis, jeruk peras, srikaya, sawo dan beberapa tanaman hias menyejukkan halaman rumah kami dari sengatan matahari bahkan di musim kemarau yang paling terik. Bila sedang musim buah, anak-anak tetangga akan menyerbu untuk meminta jambu air atau mangga. Biasanya kami suruh mereka memanjat sendiri, sekalian memetik untuk kami. Tetapi lama kelamaan mereka datang setiap hari, dan ribut bukan main sehingga istirahat siang kami terganggu. Akhirnya setelah satu-dua kali memberi kesempatan kepada anak-anak untuk memanjat, Ibu menjual buah-buah itu kepada tukang ‘tebas’ yang biasa berkelilling kampung. Dengan demikian keributan anak-anak berakhir, dan Ibu mendapatkan tambahan uang belanja. Selain jambu air dan mangga, tidak ada pohon buah lain yang menarik perhatian anak-anak, sehingga lami dapat mengurusinya dengan tenang.

Bangunan rumah kami terletak di tengah, dengan halaman di kanan, kiri, dan depan rumah. Di belakang ada juga halaman sempit yang dipergunakan Ibu untuk memelihara ayam dan bebek. Setelah berusia dua puluh lima tahun, rumah kami masih kelihatan tegar dan kokoh, bahkan dibandingkan dengan rumah-rumah baru yang muncul di sekitar rumah kami. Tinggi puncak atap tujuh meter dari tanah, lancip dan di’kerpus’. Temboknya setebal satu baru. Semua rangka atap, jendela serta pintu-pintu terbuat dari kayu jati berlapis dua yang tebal. Bahkan cat jendela dan pintu yang sudah setua usiaku masih utuh dan berkilat seperti sedia kala. Ayah dan Ibu bukan orang kaya, tetapi mereka membangun rumah dengan bersungguh-sungguh. Lebih dari segala ketegaran bentuknya, rumah ini adalah kecintaan kami sekeluarga.

Kami pindah ke rumah ini beberapa saat sebelum aku lahir. Rumah ini adalah sahabatku, pelindungku, tempatku bermain, belajar, melewatkan tangis dan tawa …

(lebih…)

Read Full Post »