Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei 5th, 2008

TERJEBAK DI SARANG PENYAMUN

Tangan Ibu yang keriput dengan terampil dan gesit mewiru kain batik yang ada di pangkuannya. Setumpuk kain yang lain ada di samping Ibu, menunggu untuk diwiru juga. Ibu memang suka memakai kain wiron, kain batik yang dilipat-lipat seperti kipas pada ujung yang jatuh di bagian depan, sehingga kalau dipakai berjalan akan terbuka dan tertutup seperti kipas. Rapi dan cantik. Orang biasanya hanya memakai kain wiron pada saat menghadiri resepsi atau acara resmi, tetapi Ibu memakainya juga ke arisan atau pertemuan biasa. Ini menunjukkan kalau kita wanita yang rajin dan memperhatikan penampilan, kata Ibu.

“Ini kain apa namanya, Bu?” tanyaku sambil menggelar sehelai kain berwarna cokelat soga.

“Itu kain Sidomukti. Kalau yang warnanya putih, dengan corak sama seperti itu, namanya Sidoluhur. Ini Wirasat, Truntum Lar, Wahyu Tumurun, Parang Rusak, Klithik, Buntal, Tirtotejo …. ” Ibu menunjuk kain-kain itu sambil menyebutkan namanya masing-masing.

Wah, kalau Ibu sudah bicara tentang kain batik, sama seperti Prof Laksmi, dosen Anatomi kami, ketika menjelaskan organ-organ tubuh. Lancar dan fasih …

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »