Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei 18th, 2008

Keben, gerbang masuk ke kediaman Sultan

PUSAT BUDAYA JAWA YANG KHARISMATIK

Siapa pun pasti setuju, bahwa jika berbicara tentang pariwisata Yogyakarta, Kraton sebagai pusat budaya Jawa adalah tempat yang tidak boleh tidak harus dikunjungi. Kraton Yogyakarta, selain masih utuh terpelihara, juga memiliki eksistensi dalam kehidupan sosial politik yang masih berlaku. Hingga saat ini, Sultan Yogya adalah pemegang tampuk kekuasaan sebagai Gubernur, sedangkan Wakil Gubernur dijabat oleh Paku Alam.

Bangunan paling depan dari kompleks Kraton Yogyakarta adalah Pagelaran, yang menghadap langsung ke Alun-alun Utara. Pagelaran mengalami renovasi besar-besaran pada tahun 1927, pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII. Bangunan luas ini disangga oleh 8 buah tiang berwana putih, yang konon pada pondasi masing-masing tiang ditanam emas murni seberat 4,5 kg. Tiang yang berjumlah 8 menunjukkan pada urutan sultan, yakini HB VIII. Simbol 8 ini juga digambarkan pada motif lantai yang bersegi 8.

Tiang putih berjumlah 8 buah di Pagelaran, serta lantai bermotif segi 8 yang menyimbolkan urutan Sultan HB VIII.

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

BERITA MALAM YANG TAK TERDUGA


Bergegas aku keluar dari kamar Warni, langsung menerobos dapur. Ketika keluar dari pintu dapur, oppss!! Aku nyaris bertubrukan dengan sesosok tubuh anak lelaki. Topo! Kami sama-sama terkejut. Topo memandangku dengan heran dan penuh pertanyaan. Aku benar-benar tak tahu harus berubah wujud menjadi apa, untuk mengingkari kehadiranku disitu. Sungguh aku berharap saat itu menjadi jin yang bisa merubah diri menjadi kucing atau ayam. Tapi aku tetap saja masih manusia, dan jantungku yang belum lekat benar ke tangkainya sekarang meloncat-loncat hampir copot.

Aku meninggalkan Topo tanpa mengucapkan sepatah kata pun, bergegas ke rumah seperti dikejar hantu. Masuk melalui pintu samping, Ibu mencegatku di depan dapur.

“Mana kukusannya?” Ibu bertanya.

Whaatt?? Kukusan? Ku-ku-san …? Apaan sih?

“Mana kukusannya? Kok lama sekali to kamu ini? Aku sudah selesai membungkus nagasarinya, tinggal dikukus.” Ibu kelihatan agak kesal.

Astaghfirullah. Kukusan itu masih tergantung di dinding gedek dapur Warni. Sama sekali sudah lenyap dari ingatanku.

“Eee … Warni nggak ada, Bu. Rumahnya sepi …” aku menjawab sekenanya.

“Kalau begitu pinjam saja ke rumah Bu Prapto.”

Bu Prapto adalah tetangga sebelah rumah. Ibu rupanya benar-benar sudah terobsesi oleh kukusan. Mati hidup beliau sudah diabdikan untuk benda sepele dari anyaman bambu itu.

“Aku mau pergi, Bu.” sahutku sambil meloloskan diri pergi ke kamar.

“Hei, Ning! Hei …. ! Woalah, bocah ki piye to … “

Aku tak mendengarkan omelan Ibu, bergegas pergi ke kamar. Ada sesuatu yang harus segera kulakukan …..

(lebih…)

Read Full Post »