Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2008

GO, GO! FASTER! IT’S GERMANY!

BMW (Bayerische Motoren Werke) dan Mercedez Benz memang dibuat untuk dipakai ngebut. Untuk menjaga kinerja mesin, BMW harus dipanasi secara berkala dengan cara dikebut pada kecepatan minimal 160 km/jam. Di Jerman, ngebut dengan kecepatan segitu tidak masalah, tapi di Yogya? Di ring road saja, tiap beberapa km ada lampu merah di persimpangan. Mana mungkin tancap gas sampai spedometer menunjukkan angka 160 km?

Di Jerman, khususnya di jalan bebas hambatan, mobil melaju dengan kecepatan sangat tinggi. Ada batas minimal kecepatan yang harus dipenuhi. Kami melaju dengan kecepatan 160 km/jam, dan selalu saja disalip mobil lain, yang dalam sekejap sudah hilang dari pandangan. Pantas saja Michel Schummacher, pembalap F1 itu dengan gesit menggeber mobilnya sampai di atas 200 km/jam, lha wong sejak masih dalam kandungan sudah dibawa ngebut oleh emaknya …

Bisa dibayangkan kalau mobil yang melaju dengan kecepatan 160-an km/jam mengalami kecelakaan. Hebatnya, di Jerman justru jarang terjadi tabrakan atau kecelakaan. Karena sudah terbiasa mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, mereka terlatih untuk safe driving, mengemudi secara benar dan aman.

Spedometer menunjukkan angka 170 km/jam, dan kami masih saja disalip mobil-mobil lain!

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

ANTHURIUM, TANAMAN RAJA DENGAN HARGA GILA …

Percayakah anda ada tanaman hias seharga 1,25 milyar? Believe it or not, memang ada. Paling tidak, itulah harga yang ditawarkan seorang penjual Anthurium. Memang sih, belum terdengar kabar ada ‘orang gila’ yang mau membeli Anthurium itu …

Harga tanaman hias jenis Anthurium Jenmanii memang bisa membuat orang jatuh pingsan. Angka puluhan bahkan ratusan juta muncul begitu saja, seolah-olah uang sebanyak itu bisa dibuat dari lempung. Sebatang Anthurium Jenwave Black Buise ditawarkan oleh sebuah nursery seharga 250 juta (seharga sebuah rumah atau mobil sedan gres di showroom). Pengin lihat seperti apa tanaman itu?

Anthurium Jenwave Black Buise seharga 250 juta rupiah.

Bagi orang-orang ‘biasa’ (artinya bukan hobiis tanaman hias), harga anthurium, aglaonema, adenium, dan tanaman-tanaman hias lain memang terdengar tidak masuk akal. Bagaimana mungkin harga sebatang tanaman bisa melebihi harga sebuah rumah atau mobil? Sehebat apa pun tanaman itu, menurut saya it’s ridiculous.

Saya suka tanaman indah, tapi saya tidak akan mau membeli tanaman dengan harga ‘sinting’. Harga tanaman paling mahal yang masih saya ‘tolerir’ untuk saya bayar adalah Rp. 100.000,- Lebih dari itu, no way!

(lebih…)

Read Full Post »

MENYELAMATI RAJA DAN RATU SEHARI ….

Menerima undangan perkawinan adalah ‘konsekwensi logis’ hidup bermasyarakat. Frekuensi undangan perkawinan yang diterima seseorang nampaknya berbanding lurus dengan kesuksesan seseorang dalam hidupnya. Semakin luas pergaulan seseorang, semakin tinggi posisinya di masyarakat, semakin banyak juga undangan yang datang.

Menghadiri resepsi perkawinan adalah kewajiban sosial yang memiliki implikasi ekonomi. Coba kita tengok. Para tamu pastilah harus membawa amplop sumbangan, yang besarnya sangat bervariasi. Jumlah ‘angpao’ tergantung pada kedekatan hubungan antara tamu dengan tuan rumah, posisi sosial tamu, dan juga posisi sosial tuan rumah.

Untuk menghadiri pesta perkawinan, orang juga harus menyiapkan diri secara pantas. Mengenakan pakaian terbaik, kalau perlu dengan riasan khusus ke salon. Biaya transport juga harus dikeluarkan. Jika resepsi diadakan di kota lain yang jauh sehingga harus naik pesawat dan menginap di hotel, biaya transport dan akomodasi bisa membengkak sangat besar. Belum lagi waktu dan tenaga yang dikeluarkan, yang bagi orang-orang sibuk bisa sangat besar nilai ekonominya.

Jadi, menghadiri perkawinan adalah suatu hal yang menyenangkan atau justru menjadi beban?

(lebih…)

Read Full Post »

HUTANG BUDI DIBAWA LARI …

Hutang uang dibayar pedang, hutang budi dibawa lari. Mungkin ini pepatah yang ‘asbun’ banget, tapi sangat sering terjadi dalam kehidupan nyata (maupun cerita sinetron).

Dua terpidana mati rutan Medaeng Surabaya yang baru saja dieksekusi, Almarhum dan Almarhumah (tidak perlu kita sebutkan namanya) menghabisi lima nyawa karena masalah hutang-piutang. Pada kasus ini, pelaku menghabisi hayat para korban karena pelaku tidak bisa membayar hutangnya kepada korban. Logikanya, orang yang tidak membayar hutanglah yang dibunuh. Tapi di dalam kehidupan nyata, logika kadang-kadang memang absurd …

Hutang-piutang adalah masalah yang pelik. Sebagai sesama manusia, apalagi yang memiliki hubungan baik, sudah pasti kita harus saling tolong-menolong. Tidak mustahil, pada suatu saat seseorang berada dalam situasi darurat dan membutuhkan pinjaman uang. Yang menjadi dilema adalah bila kebutuhan uang tersebut cukup besar, dan kita tidak punya keyakinan bahwa uang tersebut akan kembali, sementara orang yang membutuhkan pinjaman tersebut adalah saudara atau sahabat baik kita, dan ia tahu kita memilikinya.

(lebih…)

Read Full Post »

Tiga Hari Dilanda Lara

MASUK ANGIN? KEROKAN SAJA ….

Sebenarnya Kamis malam itu saya merasa kurang fit, tapi karena sudah dua minggu off dari latihan dance, maka berangkat jugalah saya bersama tiga keponakan ke sanggar. Apalagi Mbak Lusi, pelatih kami sudah mulai dengan materi baru, Quick Step, jadi saya takut ‘ketinggalan kereta’. Di sanggar, latihan berlangsung satu setengah jam nonstop. Saya berlatih bersama lima orang remaja yang usianya 19 – 21 tahun (nggak tahu diri ya saya? egepe-lah). Toh, stamina saya tak kalah dari mereka (ehm …). Soalnya happy sih, jadi nggak terasa capek meskipun peluh bercucuran ….

Tiba di rumah jam 22.00 saya langsung mandi. Habis mandi, lho … lhoo …. kok tubuh dingin gemetaran, perut mual dan kembung, serta kepala terasa berputar seperti naik roller coaster. Aduh …..

Semalaman saya tidak bisa tidur. Tubuh meriang nggak karuan. Paginya, si Mbak yang melihat saya layu seperti tanaman seminggu nggak disiram, menawarkan untuk mengeroki saya. Kerokan? Wew, kosa kata itu sudah lama terhapus dari memory saya. Entah kapan terakhir saya dikerokin, mungkin waktu masih kanak-kanak. Itu pun karena paksaan ibu saya, jika saya masuk angin. Tapi karena badan saya sungguh terasa luluh lantak, dan rayuan si Mbak terdengar demikian manis, saya pun menyerah.

Maka dimulailah ritual ‘penyiksaan’ itu. Si Mbak mengoleskan minyak kayu putih dan menggoreskan uang logam ke punggung saya. Saya pun menggeliat, meringis, menghindar, dan berkali-kali meminta si Mbak mengurangi tekanan goresannya. Hasil kerokan saya berwarna merah tua, pertanda bahwa saya masuk angin beneran. Si Mbak menawarkan untuk mengerok juga lengan dan kaki saya. Oh, no! Saya belum mau menjadi zebra, apalagi zebra cross …

Kerokan sudah sangat dikenal sebagai pengobatan tradisional, tapi bagaimana sih analisisnya secara medis?

(lebih…)

Read Full Post »

JEJAK CHENG HO DI SEMARANG

Seorang teman mengatakan, kalau ke Semarang sempatkan pergi ke masjid Cheng Ho. Bangunan ini adalah obyek foto yang sangat bagus. Maka ketika sebulan yang lalu saya ke Semarang untuk urusan studi, saya meluangkan waktu untuk mencari tempat itu. Kisah tentang Laksamana Cheng Ho yang hebat sudah saya dengar, maka mengunjungi masjidnya tentu sangat mengasyikkan.

Setelah beberapa kali bertanya, akhirnya saya tiba di bangunan besar berwarna merah dengan arsitektur Cina yang sangat indah. Tetapi ketika masuk dan melihat-lihat, saya terheran-heran karena bangunan ini ternyata bukan masjid, melainkan sebuah klenteng. Namanya adalah Klenteng Agung Sam Poo Kong. Lho, bagaimana ini?

Tapi sudahlah, it’s okey. Lihat dulu apa yang ada, baru nanti cari informasi yang lebih valid.

Di pagar masuk menuju klenteng, dipasang tulisan berbunyi ‘selain untuk tujuan beribadah dilarang masuk klenteng’. Waduh, ya sudah. Saya berkeliling saja di luar, memotret sebanyak yang saya bisa.

Gerbang Klenteng Agung Sam Poo Kong

(lebih…)

Read Full Post »

YOGYA, NEVER ENDING STORIES ….

Yogya lagi?

So pasti. Yogya menyimpan begitu banyak cerita, sehingga tidak akan habis ditulis dalam satu buku (apalagi hanya dalam beberapa artikel di blog). Dari yang Jowuu (Jawa sekali) sampai yang kosmopolit, Yogya punya. Memang sih, aura Yogya lebih kental dengan nuansa Jawa. Maklum saja, di Yogya ada Kraton yang menjadi pusat budaya Jawa.

Oke, yuuk berangkat dari Kraton. Jalan pelan-pelan saja, namanya juga di Yogya …

Di sebelah barat Pagelaran, hanya dengan menyeberang jalan, kita akan sampai ke Museum Kereta Keraton. Yang disimpan disini sudah pasti kereta kuda, bukan kereta api (itu mah adanya di Ambarawa …). Di museum ini tersimpan 22 buah kereta milik Kraton, semuanya terawat dengan sangat baik, dan masih berfungsi dengan sempurna. Ketika mengamati dari dekat, memang terlihat kereta-kereta ini bersih, bahkan as rodanya tampak berkilat-kilat oleh minyak pelumas.

Seorang pemandu wisata menyambut saya, dan menawarkan untuk memberikan penjelasan. Sudah tentu saya menerima tawarannya dengan gembira. Bapak ini dengan lancar menceritakan satu demi satu asal kereta, tahun pembuatan, dan siapa saja yang pernah menggunakan kereta yang bersangkutan. Saya sungguh menyesal tidak membawa alat perekam, sebab mencatat semua keterangannya yang detil dan panjang lebar membuat jari-jemari saya keriting …

Kereta Kencana Garuda Yeksa, berlapis emas 18 karat ! Wow …

(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »