Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September 2nd, 2008

Hillary dan Obama

BERCERMIN KE AMERIKA

Banyak kritik dilancarkan ke Amerika, karena invasinya, ‘sok jago’nya dengan mencampuri urusan dalam negeri negara-negara lain, dukungannya pada zionis Israel, dan seterusnya. Itu semua benar. Tetapi di tulisan singkat ini saya ingin melihat Amerika dari sisi lain, yaitu sikap sportif dan patriotik dua calon presidennya, Hillary dan Obama.

Hillary dan Obama bersaing sangat ketat, bertempur mati-matian untuk menjadi calon presiden dari Partai Demokrat. Namun ketika pada perjalanannya Hillary mendapati kenyataan bahwa ia tidak mungkin memenangkan suara, dengan sikap sportif yang mengagumkan (dan juga mengharukan) ia mengundurkan diri, dan meminta para pendukungnya untuk memberikan suara kepada Obama. Sungguh sikap yang sangat simpatik. Hillary telah menunjukkan kebesaran hati, kedewasaan sikap berpolitik, dan kemampuan mengalahkan ego pribadi demi kepentingan yang lebih besar : kepemimpinan Amerika.

Hillary dalam kampanye di tahun 2007

Bagaimana dengan Obama sendiri? Setelah Hillary menyatakan mundur dan memberikan suara pendukungnya kepada Obama, calon presiden kulit hitam ini membalas kebesaran hati Hillary dengan membayar sebagian hutang yang telah dibuat Hillary untuk membiayai kampanyenya. Sungguh sikap kerendahan hati yang membuat kita dengan tulus mengacungkan dua ibu jari.

Obama di tengah massa pendukungnya

Bagaimana dengan para politisi kita?

Dengan sedih kita melihat PKB terpecah belah, ribut tak kunjung usai. Gus Dur dan Cak Imin bertikai, saling mengancam dan mencekik, tak ubahnya anak-anak kecil yang berkelahi di lapangan bola. Kita juga melihat PAN tanpa malu-malu memperlihatkan perpecahannya, dengan majunya Sutrisno Bachir dan Amin Rais sebagai calon presiden. Pada ceramah tarawih di Masjid UGM, Amin bahkan tak segan-segan mencemoh kader yang diorbitkannya sendiri melalui PAN.

Kita sungguh bersedih. Bukankah beliau-beliau itu para calon pemimpin, yang juga pemuka agama, yang seharusnya mengedepankan sikap tawadu’ dan rendah hati? Bukankah mereka seharusnya menjadi negarawan-negarawan yang menjunjung tinggi kepentingan rakyat dan negara, bukannya kepentingan pribadi? Bukankah perpecahan dan perebutan kekuasaan itu hanya membuat rakyat kehilangan panutan yang bisa dipercaya?

Mengapa kita kalah santun dari bangsa Amerika, yang sering kita kecam sebagai bangsa yang selfish dan arogan?

Mengapa ??

(foto : Wikipedia)

Read Full Post »