Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November 23rd, 2008

Pernikahan

PERNIKAHAN

Berpasangan kalian telah diciptakan

Dan selamanya kalian akan berpasangan

Bersamalah kalian tatkala Sang Maut merenggut hidup

Ya, bahkan bersama pula kalian, dalam ingatan sunyi Tuhan

Namun biarkan ada ruang di antara kebersamaan itu

Tempat angin surga menari-nari di antara kalian


Bercinta kasihlah, namun jangan membelenggu cinta

Biarkan cinta itu bergerak senantiasa, bagaikan air hidup

Yang lincah mengalir antara pantai kedua jiwa


Saling isilah gelas minumanmu, tapi jangan minum dari satu gelas

Saling bagilah rotimu, tapi jangan makan dari piring yang sama

Bernyanyi dan menarilah bersama, dalam segala suka cita

Hanya, biarkan masing-masing menghayati ketunggalannya

Tali rebana masing-masing punya hidup sendiri

Walau lagu yang sama sedang menggetarkannya


Berikan hatimu, namun jangan saling menguasakannya

Sebab hanya Tangan Kehidupan yang akan mampu mencakupnya

Tegaklah berjajar, namun jangan terlampau dekat

Bukankah tiang-tiang candi tidak dibangun terlalu rapat?

Dan pohon jati serta pohon cemara

Tiada tumbuh dalam bayangan masing-masing


Puisi di atas ditulis oleh Kahlil Gibran, seorang penyair, pelukis, dan ahli filsafat asal Libanon yang lahir pada 6 Januari 1883 dan wafat pada 10 April 1931. Puisi penuh makna ini saya kutip dari buku Kahlil Gibran yang paling terkenal, “Sang Nabi”. Bukan puisi yang sentimentil, romantis, dan mendayu-dayu, tetapi puisi yang mengajarkan bahwa perkawinan sesungguhnya merupakan penyatuan dua pribadi yang berbeda, dan akan langgeng jika pribadi-pribadi itu dihargai perbedaannya.

23 November 1985 saya menikah dengan pria yang saya cintai dengan sepenuh hati, Mahyudin Al Mudra, dan hingga hari ini, 23 November 2008, 23 tahun sudah kami hidup bersama. Sungguh perjalanan yang panjang, yang penuh dengan suka duka, sarat dengan pelajaran, pengalaman, dan perenungan tentang rahasia dan makna hidup.


copy-of-pernikahan423 November 1985

Perkawinan adalah proses penyesuaian antara dua individu yang tak pernah selesai. Dua individu yang dilahirkan dengan gen-gen yang berbeda, dengan latar belakang keluarga, budaya, dan sikap hidup yang berbeda, dengan harapan dan cita-cita yang berbeda, disatukan dalam sebuah ikatan sakral bernama perkawinan. Kemauan dan kemampuan untuk saling menyesuaikan diri, saling mengalah, saling memahami, dan saling berkorban merupakan kunci utama untuk menjaga perkawinan tetap utuh.

Semoga Allah SWT selalu melimpahkan Rahmat dan Karunia-Nya kepada kami, sehingga kami bisa menjaga perkawinan ini hingga akhir usia kami. Amin.


img_01103Setelah 23 tahun


Read Full Post »