Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember 4th, 2008

MARYAMAH KARPOV TAK BICARA TENTANG MARYAMAH

Novel ke empat Andrea Hirata yang merupakan buku terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov, telah terbit. Saya membaca novel setebal 504 halaman ini selama dua hari : pagi, siang, sore, dan malam. Halaman demi halaman Maryamah Karpov saya nikmati perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, takut cepat habis, ibarat makan prawn bruchetta yang hangat dan lezat. Tidak jarang satu kalimat saya baca dua kali, untuk meresapi keindahan kata-kata yang diuntai maestro Andrea Hirata. Seperti mengunyah sepotong prawn bruchetta, merasakannya terurai perlahan di dalam mulut dan kelezatannya meresap ke seluruh pori-pori lidah …


img_0782

Maryamah Karpov di antara ke empat tetralogi Andrea Hirata

Sebagaimana ketiga novel sebelumnya, Ikal (nickname Andrea) merangkai novelnya dalam kalimat-kalimat yang indah, bernas, kocak, namun juga mengaduk hati dengan keharuan. Baru sampai di halaman 11, air mata saya sudah menitik ketika Ikal mengisahkan ayah yang sangat dicintainya, buruh Maskapai Timah yang begitu bangga dan bahagia karena menerima surat pemberitahuan akan naik pangkat, ternyata mengalami cobaan nan tak tertanggungkan (istilah orang Melayu yang dipakai Ikal) gara-gara kesalahan administrasi.

Ayah Ikal tak dipanggil maju untuk menerima surat pengangkatan, padahal ia sudah berdiri antri berjam-jam di tengah halaman gudang beras, semua orang yang antri bersamanya sudah bersorak riang merayakan kenaikan pangkat. Ayah Ikal berdiri kebingungan di tengah halaman, sendirian, ditatap oleh ratusan rekan beserta keluarga mereka dengan pandang heran dan kasihan. Semua itu karena kesalahan administratif yang dilakukan Mandor Djuasin. Ayah Ikal yang buta huruf dan bekerja sebagai buruh rendahan, tidak akan pernah naik pangkat …

(lebih…)

Read Full Post »