Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli 13th, 2009

MENUNGGU MATAHARI DI BROMO

Banyak tempat di dunia ini yang memberikan pemandangan spektakuler ketika matahari terbit di ufuk fajar. Tetapi Bromo memiliki kekhasan, yaitu … dinginnya yang menusuk tulang!

Untuk menikmati matahari terbit di Bromo, kami berenam berangkat dari Surabaya pada jam 00.30 dini hari. Perjalanan tengah malam dengan mobil menuju ke gunung Bromo itu membuat saya yang biasanya tidak begitu alim jadi banyak berdoa. Jalan sangat sepi, gelap, sempit dan berkelok-kelok. MendekatiĀ  puncak Bromo, driver mobil semakin berhati-hati. Selain berkelok tajam, jalan sempit itu juga menanjak, dan jangan lupa, di sisi jalan jurang yang dalam menganga dalam kegelapan. Lebih mencekam lagi, tidak jarang pengemudi ‘diganggu’ dengan pandangan semu. Seakan-akan jalan bercabang, tetapi sesungguhnya jalan yang satu lagi tidak ada, sehingga kalau pengemudi salah mengambil ‘jalan semu’ itu, maka mobil akan langsung terjun ke jurang! Atau tiba-tiba pandangan pengemudi menjadi gelap, tidak bisa melihat jalan depan. Jika mengalami yang seperti ini, lebih baik berhenti. Berdoa dan membersihkan pikiran, agar ‘gangguan’ itu hilang …

Kami tiba di dusun Gadingsari pada pukul 03.00. Mobil yang membawa kami dari Surabaya harus berhenti di sini. Selanjutnya perjalanan ke puncak Bromo dilakukan dengan mobil jeep karena akan mengarungi medan pasir dan tanjakan terjal.

Begitu keluar dari mobil, bbrrrr …. udara dingin menyergap. Kami seketika menggigil kedinginan, gigi sampai gemeletuk! Padahal semuanya sudah memakai jaket, tetapi dinginnya memang luar biasa. Buru-buru kami berenam menghambur kembali ke dalam mobil dan tertawa terpingkal-pingkal. Mentertawakan diri sendiri, karena semula kamiĀ  ‘memandang remeh’ udara dingin di Bromo. Tidak percaya kalau udara di Bromo betul-betul dingin, sehingga enggan dan merasa lebay membawa jaket tebal.

Untunglah banyak pedagang menawarkan kaos tangan, penutup kepala, kaos kaki, dan syal tebal. Harganya juga tidak terlalu mahal, hanya sepuluh ribuan. Maka kami berenam pun segera melengkapi diri dengan segala perlengkapan penahan dingin itu. Sebetulnya lebih ideal kalau memakai ‘topi maling’ (itu tuuh … topi yang menutup seluruh kepala, dan hanya menyisakan lobang untuk mata dan mulut). Ada juga orang yang menyewakan mantel tebal, dengan tarif Rp. 25.000,-.

Jam 04.00, puluhan jeep, semuanya jenis hardtop, beriringan naik ke Penanjakan, view point untuk menyaksikan sunrise. Maka bersiap-siaplah untuk terguncang-guncang, terutama ketika mengarungi lautan pasir di sekitar gunung Batok dan gunung Bromo. Udara lebih dingin lagi di Penanjakan, bisa mencapai 5 derajad Celcius.

Dan inilah hasil jepretan saya pada menit-menit menjelang terbitnya matahari …

IMG_1591

IMG_1592

IMG_1598

IMG_1611

Kegelapan yang sedikit demi sedikit terkuak oleh semburat merah ….

(lebih…)

Read Full Post »