Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2009

RAMADHAN ING KAMPUS

Sholat tarawih adalah ibadah malam yang utama dilakukan pada bulan Ramadhan. Dimanakah tempat favorit saya untuk berjamaah tarawih? Jawabnya adalah : Kampus UGM.

Sejak tahun 80-an, ketika masih kuliah, saya selalu sholat tarawih di kampus UGM. Pada waktu itu, sholat tarawih dilaksanakan di Gelanggang Mahasiswa, di dekat Bunderan UGM. Meskipun jauh dari rumah, saya merasa paling sreg tarawih di kampus. Jamaah yang didominasi mahasiswa, penceramah yang memberikan wawasan luas, dan berbagai kegiatan intelektual yang mengiringi, sangat sesuai dengan jiwa muda dan kapasitas pemikiran saya. Jamaah selalu membludak, tidak jarang sampai meluber ke jalan aspal dan rumput-rumput boulevard kampus.

Sampai sekarang, hampir tiga puluh tahun kemudian, kampus UGM tetap menjadi tempat favorit saya untuk sholat tarawih. Setelah UGM memiliki Masjid Kampus yang besar dan megah, sholat tarawih pindah ke masjid. Tempat bagi jamaah putri yang terdapat di balkon selalu tidak mampu menampung jumlah jamaah yang hadir, sehingga jamaah meluber sampai ke halaman.


IMG_0265

Tidak sebagaimana umumnya masjid, Masjid Kampus UGM tidak memiliki kubah yang bulat mblenduk

Nah, saya selalu memilih sholat di halaman, bahkan meskipun masih ada tempat di dalam masjid sesudah puasa berjalan setengah bulan, dan jumlah jamaah menyusut karena banyak mahasiswa yang sudah pulang kampung. Di halaman, para jamaah membuat shaf di atas rumput, di bawah naungan pohon-pohon palem dan lampu-lampu taman.

Sholat di bawah langit terbuka memberi rasa khusuk yang berbeda, jauh lebih merasuk ke dalam jiwa dan relung sanubari. Selain itu, ada suasana ‘romantis’ (halah, sholat kok romantis … ), ketika sambil duduk di atas sajadah yang digelar di rerumputan, dalam temaram lampu taman, kita bisa menengadah dan melihat bintang serta bulan di antara daun-daun palem. Udara sejuk semilir, jarak dengan jamaah di kanan kiri lebih longgar, sehingga kita bisa bergerak lebih nyaman dan leluasa.

Sudah pasti dinding dan atap sama sekali tidak mengurangi kecepatan sampainya do’a kita kepada Allah, atau mengurangi maknanya, namun berdoa di bawah langit terbuka membuat seolah-olah kita bisa terhubung langsung dengan Allah. Memang Allah ada dimana-mana, di setiap tempat, tetapi kita selalu mengasumsikan bahwa Allah bersemayam ‘di atas langit’, bukan? Bukankah ketika Nabi Muhammad SAW melakukan mi’raj, beliau naik sampai ke langit ke tujuh?


IMG_0284

Di bawah palem-palem ini, saya suka mengintip bintang, dan menjalin kontak dengan Allah yang pastilah selalu on line

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

HARUS DISAYANG SEBELUM HILANG

Ribut dengan negara tetangga akibat budaya kita diserobot nampaknya sudah menjadi ‘agenda rutin’ tahunan. Setelah reyog Ponorogo, musik angklung, lagu Rasa Sayange, dan banyak lagi, baru-baru ini kita kembali tersengat oleh penayangan iklan pariwisata Malaysia yang menampilkan wayang dan tari Pendet. Heboh ini semestinya menyadarkan kita akan dua hal : betapa kayanya budaya kita, dan betapa kita harus serius menjaganya agar tidak hilang diserobot orang.

Batik adalah salah satu cipta budaya tertinggi bangsa kita. September 2009 nanti, batik akan diajukan ke UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda milik Indonesia, mengikuti wayang (2003) dan keris (2006) yang sudah lebih dulu diakui oleh UNESCO.

Batik, siapa tak suka? Saya penggemar batik, meskipun tidak berarti setiap hari saya mengenakan batik. Ketika kecil saya punya beberapa teman yang orangtuanya memiliki perusahaan batik, dan kami sering bermain di antara para perajin batik yang sibuk bekerja. Saya masih ingat aroma malam, gondorukem, soga, dan suasana ‘dapur’ batik. Sekarang, saya mengoleksi berbagai kain batik. Jika ada waktu luang, koleksi itu saya keluarkan dari lemari, saya gelar satu demi satu, saya nikmati keindahan corak dan warnanya.

Orang tua saya juga lekat dengan batik. Ibu saya, sejak kecil hingga wafat pada usia 92 tahun, tak pernah lepas dari kain batik dan kebaya. Ayah saya, meskipun tidak terlalu sering mengenakan pakaian Jawa, tapi memiliki beberapa bebed dan blangkon batik (dan beliau sungguh gagah sekali dengan pakaian itu).


Copy of IMG_1788

Batik yang dikenakan keluarga bangsawan Jawa tempo doeloe (cover buku “Batik” by Rudolf G. Smend)

Jangan salah, foto di atas bukan foto saya bersama ayah dan ibu saya. Jelas dong. Pertama, saya bukan berasal dari keluarga bangsawan. Kedua, mosok sih orang tua saya tega mencukur rambut saya seperti pelawak Gogon begitu … hihihi …

(lebih…)

Read Full Post »

Braakk …. Criing !!

HANCURNYA REPUTASI SANG SOPIR

Begitulah. Ibarat pepatah : “Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya makan juga” ($%&?? …. perasaan ada yang salah ya? yee …  kok makan sih? jatuh ‘kali! mentang-mentang puasa, ingatnya makan melulu …)

Begitu tupai, begitu pula saya. Secanggih-canggih saya nyetir, akhirnya nabrak juga. Hiks!

Peristiwanya sungguh tak terencana (ya iyalah, mana ada tabrakan direncanakan). Dua hari yang lalu, ketika sedang melaju pelan di jalan Kusumanegara, dua orang gadis berboncengan sepeda motor tiba-tiba oleng dan jatuh. Saya berjarak tiga mobil di belakangnya, tetapi melihat dengan jelas peristiwa lucu itu (sumpe, dua gadis itu jatuhnya lucu sekali, soalnya pelan-pelan, kayak slow motion di film). Mobil Honda Civic di belakang kedua gadis itu langsung ngerem. Mobil kijang di belakang Honda Civic ikut ngerem mendadak. Saya, di belakang mobil kijang, karena terpana melihat kejatuhan kedua gadis itu, terlambat menyadari bahwa kedua mobil di depan saya berhenti mendadak. Saya pun geragapan menginjak rem, tapi terlambat ….

Cuiiitt … !! Gubraakk …. !! Jedheerr …. !! Krompyang …. !!

Eh, nggak … sebenarnya nggak sedramatis itu kok. Saya cerita hiperbolis aja … hihi. Suaranya cuma ‘krepyek …  krusek … cring’ gitu, wong nabraknya pelan, paling dalam kecepatan 30 km per jam. Meskipun begitu, saya kaget setengah mati. Loh, kok nabrak sih? Langsung deh lemes …


Danger head Bukan … bukan ini peristiwanya …

(lebih…)

Read Full Post »

250

I  DID  IT !

Angka 250 itu besar atau kecil? Banyak atau sedikit? Tinggi atau rendah?

Tentu saja tergantung pada apa yang ditunjukkannya. Jika angka itu menunjukkan isi dompet kita dalam satuan sen (uff …  satu sen itu berapa rupiah sih?), sudah pasti kita masuk dalam golongan kaum termiskin di dunia. Tetapi jika angka itu menunjukkan jumlah rumah atau mobil yang ada di bawah kekuasaan kita, berarti kita cukup kaya. Mungkin kita adalah developer atau pemilik showroom mobil (bisa juga makelar sih … ).

Nah, angka 250 yang saya bicarakan disini adalah jumlah posting saya di Tuti Nonka’s Veranda (haiyah, kenapa juga pakai bahasa Inggris? emang bahasa Indonesia kurang keren apa?). Dibanding jumlah posting Mbak Imelda di Twilight Express yang sudah lebih dari 600, atau di blog ‘tanpa nama’ milik Mbak Edratna yang pengunjungnya sudah lebih dari 500.000, atau ‘ruang pelatihan’ Om Trainer yang tiap hari tidak pernah absen posting, sudah pasti jumlah posting saya maupun jumlah pengunjung di blog saya bukan apa-apa. Tapi, boleh dong saya mensyukuri dan menyelamati diri sendiri (daripada nggak ada yang nyelamatin) karena telah berhasil menelurkan (ayam ‘kali …) 250 tulisan dalam berbagai bentuk dan corak. Berbagai bentuk itu, ada yang penyok, gepeng, mbrenjol, berduri, dan sebagainya. Dan coraknya, kadang seriosa, jazz, klasik, pop, rock, maupun keroncong …


IMG_1749

Tiga sahabat yang kebetulan baru saja menulis komen (foto diambil tanggal 22 Agustus)

(lebih…)

Read Full Post »

Shaum

MARHABAN YA RAMADHAN

Bulan suci Ramadhan telah tiba. Selama satu bulan penuh, umat Islam di seluruh dunia akan menjalankan ibadah puasa, dan ibadah-ibadah lain yang utama dilaksanakan pada bulan penuh rahmat ini.

Mengapa umat Islam berpuasa?

Waktu kita masih kanak-kanak, guru di sekolah maupun guru mengaji mengatakan, bahwa dengan menahan lapar sejak subuh hingga maghrib, kita akan bisa merasakan penderitaan orang-orang miskin yang tidak mampu memperoleh makanan. Tentu saja penjelasan itu tidak salah, tapi tidak memadai lagi ketika kita semakin bertambah dewasa dan pikiran kita semakin kritis.

Allah memerintahkan kita berpuasa bukan untuk membuat kita menderita. Itulah sebabnya orang yang sedang sakit, orang yang sedang dalam perjalanan jauh, orang yang harus bekerja berat, ibu hamil dan menyusui, serta orang tua yang tubuhnya sudah lemah, tidak diwajibkan berpuasa.

Laparnya orang berpuasa juga tidak sama dengan laparnya orang yang memang tidak memiliki sesuatu untuk dimakan. Meskipun lapar, orang yang berpuasa selalu memiliki kepastian bahwa pada saat maghrib mereka akan bisa menyantap apa saja untuk menghilangkan lapar dan dahaga mereka, lapar mereka hanyalah lapar sementara. Sedangkan orang yang lapar karena tidak memiliki makanan, mereka tidak memiliki harapan seperti itu, mereka tidak tahu kapan lapar mereka akan berakhir.

Jadi, puasa bukanlah sekedar melaparkan diri agar bisa merasakan penderitaan orang yang tidak mampu memperoleh makanan.

Puasa adalah mengendalikan diri dari segala nafsu duniawi. Bukan hanya nafsu yang berkaitan dengan kebutuhan fisik, tetapi juga nafsu yang muncul berkaitan dengan hati dan pikiran. Puasa adalah pembersihan diri. Menurut Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, secara psikologis bulan Ramadhan adalah bulan interupsi, edukasi dan revitalisasi melawan rutinitas hidup yang cenderung membuat aktivitas kita bersifat mekanistik tanpa kedalaman makna.


IMG_5213

Memupuk kehidupan spiritual adalah inti dari puasa

(lebih…)

Read Full Post »

MENCARI MERAH PUTIH

Merdeka!

Setiap tanggal 17 Agustus, seluruh pelosok negeri tercinta ini gegap gempita merayakan hari kemerdekaan. Bendera merah putih berkibar dimana-mana, lagu kebangsaan bergema dari setiap dada, kemeriahan disorakkan oleh balita hingga manula. Bagaimana dengan tahun ini di kotaku tercinta, Yogyakarta?

Jam sepuluh pagi, jeng … jeng … jeng … saya keluar rumah untuk melakukan liputan (halah!). Sudah pasti kamera menjadi piranti yang nomer satu dibawa. Kacamata hitam lebar tak lupa nangkring di atas hidung. Emang jam segitu sudah silau banget? Nggak sih, cuma biar keren aja …. hihi.


IMG_1717 Merah putih dan garudaku

Saya parkir di depan gedung Bank Indonesia, di tengah kota. Begitu turun dari mobil, Pak Parkir yang dengan sukses menggiring saya memarkir mobil di tempat panas, langsung menarik upeti.

“Lima ribu, Mbak” ia berkata dengan ramah dan senyum sopan.

Ahaha … berasa muda dipanggil ‘mbak’, tapi … wait! Lima ribu? Busyet! Yang bener aje!

“Limang ewu? Parkir kok limang ewu! Sampeyan tak laporke Pak Walikota, sesuk mboten entuk markir teng riki malih lho!” saya mengancam.

Pak Parkir kaget, dan langsung mengkeret. Nggak nyangka dia, pengemudi mobil yang diparkirnya ternyata macan betina.

“Nggih … nggih. Tigang ewu Bu … ” ia gurawalan mengulurkan karcis parkir, yang memang bertuliskan angka Rp. 3.000,-

Wooo  …. dasar! Saya puas berhasil menaklukkan pemeras kecil ini. Tapi agak kecewa juga, karena ia sekarang menyebut saya ‘bu’. Artinya, tiba-tiba ia melihat saya bertambah tua sekian puluh tahun, dan sekarang saya harus menerima kenyataan memang sudah kelihatan emak-emak.  Beugh!

Tujuan pertama saya adalah Gedung Agung, istana negara di Yogya yang hingga kini masih difungsikan. Di halaman Gedung Agung, setiap Hari Kemerdekaan diadakan upacara bendera seperti yang dilakukan di Istana Negara Jakarta. Tapi saya terlambat, rupanya upacara sudah selesai. Kursi-kursi untuk tamu undangan sudah kosong, dan tampak banyak orang berfoto di halaman istana, dengan latar belakang Gedung Agung. Ya, kapan lagi bisa berfoto di tempat terhormat itu?

Saya menyelusup, bergabung di antara masyarakat yang berdesakan di luar pagar. Ya iyalah, saya kan rakyat jelata yang tidak pantas masuk halaman istana.

Sekelompok orang, yang tampaknya tamu dari beberapa negara sahabat, berfoto ramai-ramai. Salah seorang tamu, seorang gadis muda-cantik dengan rok luebaaar dan tutup kepala warna pink, laris diajak berfoto oleh para tamu lain. Penampilannya yang atraktif membuat siapa pun ‘napsu’ ingin berfoto bersamanya.


IMG_1700

Si Manis Jembatan Ambrol … eh, Si Manis Bergaun Amboi  sibuk mengatur orang-orang yang ingin berfoto bersamanya

IMG_1701

“Aku sudah kelihatan cantik belum Maaaas …. “

IMG_1704

Bu Baju Biru, kalau motret memang harus meliukkan pinggul begitu ya …

(lebih…)

Read Full Post »

BUKAN SATRIA BERGITAR, TAPI PENDEKAR GITAR

Anda kenal Jubing Kristianto? Kenal? Ah, baguslah. Bingung? Nggak apa-apa, nggak kenal Jubing juga nggak bakal masuk penjara kok …

Semula, saya juga cuma pernah baca entah dimana, bahwa Jubing adalah salah satu gitaris terbaik di Indonesia selain Balawan dan Tohpati. Yang kemudian membuat saya ‘agak kenal’ Jubing adalah teman baik saya, Mr. Dhum (hallo Mr. Dhum, how are you today?). Teman baik saya ini adalah mantan pemain band (yang kemudian tersesat menjadi aktivis masjid … ). Ia pengagum Jubing, dan mengatakan bahwa Jubing adalah gitaris nomer satu di Indonesia.

Karena penasaran, saya membeli CD pertama Jubing, “Becak Fantasy”. Yah, memang bagus. Tapi selama ini saya lebih terpesona pada piano, karena menurut saya piano lebih elegan, lebih anggun, sekaligus kaya variasi nada, dan bisa dimainkan untuk musik berirama apa saja. Mendengar saya menilai Jubing “bagus” (tapi dengan nada yang ‘sederhana’ saja) sohib saya itu rupanya kurang terima. Dia bilang, karena saya nggak tahu soal gitar, nggak pernah belajar main gitar, maka saya nggak bisa menangkap keindahan dan kehebatan permainan gitar Jubing.

Woooh … dibilang ‘nggak tahu soal gitar’, ganti saya yang nggak terima. Oke, saya akan belajar memahami permainan gitar, akan menyimak Jubing dengan lebih cermat, dengan menggunakan segenap kekuatan indera, ketajaman rasa, kepekaan musik, serta intelektualitas saya (holoh, holoh … lebay!) supaya saya bisa menangkap keindahannya, supaya saya nggak dibilang ‘nggak tahu’ lagi …

And … yes! I got it! The fantastic of Jubing.


IMG_1720

“Becak Fantasy”, album fantasi pertama Jubing

(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »