Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus 29th, 2009

HARUS DISAYANG SEBELUM HILANG

Ribut dengan negara tetangga akibat budaya kita diserobot nampaknya sudah menjadi ‘agenda rutin’ tahunan. Setelah reyog Ponorogo, musik angklung, lagu Rasa Sayange, dan banyak lagi, baru-baru ini kita kembali tersengat oleh penayangan iklan pariwisata Malaysia yang menampilkan wayang dan tari Pendet. Heboh ini semestinya menyadarkan kita akan dua hal : betapa kayanya budaya kita, dan betapa kita harus serius menjaganya agar tidak hilang diserobot orang.

Batik adalah salah satu cipta budaya tertinggi bangsa kita. September 2009 nanti, batik akan diajukan ke UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda milik Indonesia, mengikuti wayang (2003) dan keris (2006) yang sudah lebih dulu diakui oleh UNESCO.

Batik, siapa tak suka? Saya penggemar batik, meskipun tidak berarti setiap hari saya mengenakan batik. Ketika kecil saya punya beberapa teman yang orangtuanya memiliki perusahaan batik, dan kami sering bermain di antara para perajin batik yang sibuk bekerja. Saya masih ingat aroma malam, gondorukem, soga, dan suasana ‘dapur’ batik. Sekarang, saya mengoleksi berbagai kain batik. Jika ada waktu luang, koleksi itu saya keluarkan dari lemari, saya gelar satu demi satu, saya nikmati keindahan corak dan warnanya.

Orang tua saya juga lekat dengan batik. Ibu saya, sejak kecil hingga wafat pada usia 92 tahun, tak pernah lepas dari kain batik dan kebaya. Ayah saya, meskipun tidak terlalu sering mengenakan pakaian Jawa, tapi memiliki beberapa bebed dan blangkon batik (dan beliau sungguh gagah sekali dengan pakaian itu).


Copy of IMG_1788

Batik yang dikenakan keluarga bangsawan Jawa tempo doeloe (cover buku “Batik” by Rudolf G. Smend)

Jangan salah, foto di atas bukan foto saya bersama ayah dan ibu saya. Jelas dong. Pertama, saya bukan berasal dari keluarga bangsawan. Kedua, mosok sih orang tua saya tega mencukur rambut saya seperti pelawak Gogon begitu … hihihi …

(lebih…)

Read Full Post »