Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus 31st, 2009

RAMADHAN ING KAMPUS

Sholat tarawih adalah ibadah malam yang utama dilakukan pada bulan Ramadhan. Dimanakah tempat favorit saya untuk berjamaah tarawih? Jawabnya adalah : Kampus UGM.

Sejak tahun 80-an, ketika masih kuliah, saya selalu sholat tarawih di kampus UGM. Pada waktu itu, sholat tarawih dilaksanakan di Gelanggang Mahasiswa, di dekat Bunderan UGM. Meskipun jauh dari rumah, saya merasa paling sreg tarawih di kampus. Jamaah yang didominasi mahasiswa, penceramah yang memberikan wawasan luas, dan berbagai kegiatan intelektual yang mengiringi, sangat sesuai dengan jiwa muda dan kapasitas pemikiran saya. Jamaah selalu membludak, tidak jarang sampai meluber ke jalan aspal dan rumput-rumput boulevard kampus.

Sampai sekarang, hampir tiga puluh tahun kemudian, kampus UGM tetap menjadi tempat favorit saya untuk sholat tarawih. Setelah UGM memiliki Masjid Kampus yang besar dan megah, sholat tarawih pindah ke masjid. Tempat bagi jamaah putri yang terdapat di balkon selalu tidak mampu menampung jumlah jamaah yang hadir, sehingga jamaah meluber sampai ke halaman.


IMG_0265

Tidak sebagaimana umumnya masjid, Masjid Kampus UGM tidak memiliki kubah yang bulat mblenduk

Nah, saya selalu memilih sholat di halaman, bahkan meskipun masih ada tempat di dalam masjid sesudah puasa berjalan setengah bulan, dan jumlah jamaah menyusut karena banyak mahasiswa yang sudah pulang kampung. Di halaman, para jamaah membuat shaf di atas rumput, di bawah naungan pohon-pohon palem dan lampu-lampu taman.

Sholat di bawah langit terbuka memberi rasa khusuk yang berbeda, jauh lebih merasuk ke dalam jiwa dan relung sanubari. Selain itu, ada suasana ‘romantis’ (halah, sholat kok romantis … ), ketika sambil duduk di atas sajadah yang digelar di rerumputan, dalam temaram lampu taman, kita bisa menengadah dan melihat bintang serta bulan di antara daun-daun palem. Udara sejuk semilir, jarak dengan jamaah di kanan kiri lebih longgar, sehingga kita bisa bergerak lebih nyaman dan leluasa.

Sudah pasti dinding dan atap sama sekali tidak mengurangi kecepatan sampainya do’a kita kepada Allah, atau mengurangi maknanya, namun berdoa di bawah langit terbuka membuat seolah-olah kita bisa terhubung langsung dengan Allah. Memang Allah ada dimana-mana, di setiap tempat, tetapi kita selalu mengasumsikan bahwa Allah bersemayam ‘di atas langit’, bukan? Bukankah ketika Nabi Muhammad SAW melakukan mi’raj, beliau naik sampai ke langit ke tujuh?


IMG_0284

Di bawah palem-palem ini, saya suka mengintip bintang, dan menjalin kontak dengan Allah yang pastilah selalu on line

(lebih…)

Read Full Post »