Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2009

JALAN KAKI DARI JAWA KE SUMATRA

Kelak, kita akan bisa berjalan kaki dari Jawa ke Sumatra. Kalau mau, naik kebo juga boleh. Naik kuda lumping? Boleh juga sih, siapa tahu malah dapat duit hasil ngamen sepanjang jalan (asal jangan mecahin lampu jembatan untuk dimakan … )

Jalan kaki melintasi Selat Sunda? Yes, absolutely! Sudah pasti bukan berjalan di atas permukaan air (memangnya David Copperfield?), tapi melintasi jembatan yang membentang di atas Selat Sunda. Memang masih merupakan impian, tapi ini mimpi yang sangat mungkin menjadi kenyataan.

Jembatan Selat Sunda digagas pertama kali oleh Prof. Sedyatmo (almarhum), seorang guru besar ITB, pada tahun 1960 (wow … sunguh luar biasa wawasan ke depan beliau!). Jembatan itu disebut “Tri Nusa Bimasakti” yang berarti ‘penghubung antara tiga pulau’, yaitu Sumatra-Jawa-Bali. Pada tahun 1965 Presiden Soekarno memerintahkan kepada ITB untuk membuat desain dan melakukan uji coba. Desain awal penghubung ketiga pulau ini berupa tunnel (terowongan bawah laut), yang diserahkan kepada Presiden Soeharto tahun 1989. Selanjutnya, pada tahun 1997 Presiden Soeharto memerintahkan kepada BJ Habibie selaku Menristek untuk mewujudkan proyek prestisius tersebut. Apa boleh buat, sejarah mencatat bahwa pada tahun itu Presiden Soeharto meletakkan jabatan, sehingga proyek Jembatan Selat Sunda pun tertunda.

Pada tahun 1990an, Prof Wiratman Wangsadinata dan Dr. Ir. Jodi Firmansyah melakukan pengkajian kembali pada perencanaan penghubungan Sumatra dan Jawa. Hasil kajian mereka menyatakan bahwa jembatan lebih layak dari pada terowongan bawah laut. Selain karena ahli-ahli konstruksi Indonesia sudah menguasai teknologi pembuatan jembatan dengan baik, terowongan dinilai lebih riskan terhadap bahaya gempa bumi serta kebakaran. Jumlah kendaraan yang bisa melewati terowongan juga terbatas karena dalam konsepnya mobil diangkut dengan kereta, sementara melalui jembatan mobil bisa melintas langsung. Lagipula, dengan adanya jembatan Indonesia akan memiliki land mark yang akan menjadi simbol kebanggaan bangsa.


Gambar rencana jembatan Selat Sunda, rancangan Prof. Dr. Ir. Wiratman Wangsadinata (foto : Kompas/www.jembatanselatsunda.com)

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Kopdar Yogya Berlanjut …

THE BEAUTY OF BLOGGING

*Sungkem dulu ke Om Trainer karena pinjam kalimat trade mark beliau*

The beauty of blogging bener-bener berlaku di dunia maya maupun di alam baka nyata. Keindahan dunia virtual itu mengejawantah (maap kepada yang nggak ngerti bahasa Jawa) ke dalam kasunyatan (hah, bahasa Jawa lagi!), dalam bentuk kopdar. Kopdar, kopi darat, ini bukan saudaranya susu, teh, atau coklat, tapi sepupuan dengan rendezvous (halah!) atau gathering (sok ah!).

Siapa ‘bintang’ kopdar Yogya tanggal 28 November ini? Siapa lagi kalau bukan seleblog kita, Eka Situmorang-Sir . Oke, tanpa banyak prolog (takut keburu disoraki teman-teman yang mulai bosan baca ocehan saya), saya akan menyampaikan laporan pandangan mata dan sentuhan tangan saya pada kopdar tadi siang. Ini siaran tunda sekitar 9 jam, tapi masih cukup anget kok …

Memenuhi keinginan saudara muda saya, Uda Vizon ,  kopdar kami laksanakan di Bumbu Desa Resto. Saya tiba di sana paling dulu (meskipun sudah telat 15 menit dari janjian kami jam 12.00). Setelah cek ini-itu-ina, saya pun duduk manis menunggu teman-teman lain datang. Yang pertama muncul adalah Muzda . Gadis mungil-cantik ini pernah kopdar dengan saya dan Krismariana di resto ini juga, bahkan di meja yang sama. Walaah … Muzda semakin mungil aja. Kalau Muzda mengijinkan, kayaknya saya bisa mengangkat dia dengan sebelah tangan (Herculi ‘kali… ).  Selang beberapa menit, muncul Uda Vizon dan Uni Icha. Saya sempat beberapa detik ‘silap wajah’ terhadap Teuku Ryan … eh, Uda Vizon. Soalnya ‘ustadzt uda’ ini memakai baju hitam dengan beberapa tempelan badge, jadi saya pikir ada reporter Metroteve yang mampir mau makan … hihi.

Sang bintang Eka Situmorang muncul pada kloter ketiga, bersama suaminya, Adrian. Saya sempat terpesona melihat si mungil bin centil ini. Iya, iya, foto-foto di blognya memang sangat nyata memperlihatkan kenarsisan kemanisan Eka, tapi aslinya, Eka lebih cantik dan bening lho dari fotonya. Suer. Saya sempat berpelukan dengannya dan memegang lengannya ketika bercipika-cipiki. Wow … kenyal!

Siapa tamu berikutnya? Kami senang sekali ketika Bunda Dyah Suminar ketebang-ketebang (ups! bahasa Jawa lagi!) muncul, masih lengkap dengan kain batik dan selendang, wong habis njagong manten. Saya meng-sms Bunda hari Sabtu pagi, dan sebenarnya tidak terlalu berharap beliau bisa hadir mengingat kesibukan beliau yang pasti sangat padat. Eee … lha kok ternyata beliau bisa rawuh. Rejeki, rejeki!

Nah, yang muncul terakhir adalah Wijna , anak muda yang perilakunya rada aneh bin ajaib. Mungkin dia memiliki titisan darah Majapahit, sehingga di zaman global dan serba virtual ini, dia rela dan bahagia menghabiskan hidupnya dengan nguplek-uplek  candi dan segala benda peninggalan nenek moyang dari zaman dahulu kala. Dan coba tebak apa pendidikannya? Sarjana Matematika UGM! Hwalah, apakah dibutuhkan kuliah di jurusan Matematika sekian lama untuk bisa menghitung jumlah batu dan bata penyusun candi? Hanya wajah penuh ketawa Wijna jawabnya …


Sebelum makan poto dulu aah …  Uni Icha, Uda Vizon, Adrian, Wijna, Muzda, Tuti, Bunda Dyah, dan Eka.

Apa yang heboh pada kopdar kali ini? Jangan kemana-mana, kisah akan berlanjut setelah teman-teman mengklik ‘Lanjut Baca’ di bawah ini …

(lebih…)

Read Full Post »

How Big Can You Be?

OVERWEIGHT, OBESITY, BMI

Hughes mencampakkan 300 bajunya, karena sudah tidak cocok lagi dengan ukuran badannya. Apa pasal? Pasalnya, berat presenter berbadan subur ini sudah berkurang dari 130 kg menjadi 95 kg, susut 35 kg dalam waktu 9 bulan. Hebaatt!! Ini prestasi yang benar-benar harus diapresiasi, karena sungguh tidak mudah menurunkan berat badan sebanyak itu secara alamiah (tanpa obat-obatan maupun lipo suction). Hughes bertekad akan menurunkan berat badannya 20 kg lagi, agar mencapai berat ideal. Salut untuk Hughes!

Hughes, yang dulu merasa pede dengan ukuran tubuhnya, bahkan sampai membuka butik ‘Big is Beautiful’ yang khusus menyediakan baju-baju berukuran super besar, akhirnya merasa perlu mengecilkan tubuhnya. Ia termotivasi untuk pindah dari ‘kelas berat’ ke ‘kelas terbang’ karena terpilih sebagai juru bicara Persatuan Artis Penyanyi Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI) pada Indonesian Song Festival 2009 dan ASEAN Song & Culture Festival 2010 mendatang. Sebagai juru bicara festival, sudah pasti ia akan menjadi sorotan kamera, dan meskipun kamera akan mampu ‘memuat’ seberapapun besar tubuhnya, agaknya Hughes tak suka ‘menyita tempat’ di panggung, di kamera, maupun di halaman media cetak ….


Hughes 130 kg (foto dari sini ) dan Hughes 95 kg (foto : Nur Ichsan)

Dunia entertainmen Indonesia makin hari memang makin ramah kepada ‘orang-orang besar’. Tentu ini fenomena yang positif, karena entertainer bukan lagi semata dilihat dari penampilannya, tetapi juga talenta dan kapabiliti yang mereka punyai. Selain Hughes, tercatat beberapa artis berbadan ektra lebar yang juga sukses memenuhi layar kaca, seperti TikaPanggabean (Poject Pop) dan Rina Gunawan. Tika, yang semula membebani timbangan dengan 108 kg, akhirnya rela mengurangi lemak di tubuhnya, dan sekarang berbobot 92 kg saja. Rina Gunawan, belum terdengar kabar akan mengepras ukuran baju.


Tika Panggabean dan Rina Gunawan (foto dari sini )

Ukuran tubuh seseorang dikategorikan menjadi underweight, overweight dan obesity, yang ditentukan oleh angka BMI (Body Mass Index). Anda tahu berapa angka BMI anda? Ayuk kita lihat …

(lebih…)

Read Full Post »

SETELAH SEKIAN LAMA BERJALAN BERSAMA …

Adakah di antara anda yang belum pernah merasakan jatuh cinta menggelora, yang membuat gurun pasir serasa penuh bunga, langit mendung seakan penuh bintang kejora, gubug derita bak surga, dan dunia bagai milik berdua? Jika belum, rugi sangat …

Passionate love, cinta yang membikin seseorang mabuk kepayang seakan melayang terbang, biasa dialami seseorang ketika bertemu dengan pasangan (calon pasangan) hidupnya. Cinta yang penuh hasrat dan romantisme seperti inilah yang akan membuat seseorang mampu menerjang badai sehebat apa pun, dan halangan-rintangan setinggi apapun. Emosi dan khayalan yang sarat menyertai passionate love membuat seseorang seringkali tidak mampu melihat kekurangan dan potensi ketidakcocokan antara dirinya dengan pasangannya. Kalaupun mereka melihatnya, mereka menanamkan keyakinan dalam hati mereka bahwa everything’s will be okay.

Begitulah, dan pasangan yang dilanda passionate love akan melangkah ke jenjang pernikahan dengan penuh kebahagiaan …

Dalam beberapa tahun perjalanan pernikahan, passionate love tersebut masih akan ada di antara keduanya. Namun dengan semakin bertambahnya waktu, secara perlahan gelora yang menggebu itu akan perlahan-lahan mereda. Setelah menikah dan hidup bersama, merasakan dan menjelajahi segala hal yang dulu hanya menjadi khayalan, melihat dan mengetahui watak serta perilaku keseharian pasangan, maka kedua pasangan akan dihadapkan pada jati diri sebenarnya dari pasangan mereka. Khayalan tentang cinta yang dulu ada, sekarang dihadapkan pada realita.

Dibutuhkan rasa kasih yang tulus, kesabaran yang luas, kedewasaan yang penuh pertimbangan, keteguhan pada komitmen, dan kelapangan hati bagi kedua pasangan untuk bisa menerima jati diri pasangan sebagaimana adanya, serta mengatasi konflik-konflik yang mungkin terjadi di antara mereka. Cinta romantis penuh hasrat yang dulu mengikat mereka, secara perlahan berubah menjadi cinta persahabatan dan persaudaraan yang berisi saling memahami dan menghormati. Pada tahap ini, passionate love berubah menjadi companionate love.

Transisi dari passionate love menjadi companionate love tidak selalu berjalan mudah. Kedua pasangan harus berjuang dengan sekuat tenaga untuk bisa menumbuhkan companionate love, karena cinta jenis inilah yang akan membuat sebuah perkawinan bertahan. Setelah usia bertambah, cumbu rayu bukan lagi menjadi kebutuhan utama. Yang dibutuhkan adalah teman berbincang dan berbagi rasa yang menumbuhkan rasa damai, keyakinan akan adanya seseorang yang akan selalu mengasihi dan mendampingi.

Ketika menemukan pasangan yang cocok, seseorang dikatakan telah menemukan ‘pelabuhan hati’. Pernikahan sering diibaratkan dengan ‘melayari samudera kehidupan’. Sebuah perumpamaan yang sungguh tepat, sebab begitu biduk dilayarkan ke samudera, maka keselamatan dan kesejahteraan biduk itu sepenuhnya berada di tangan kedua orang yang mengemudikannya, yaitu suami dan isteri. Persis sama seperti kehidupan manusia, laut pun penuh misteri dan memiliki ‘perilaku’ yang seringkali tak bisa diprediksi. Cuaca cerah bisa berubah menjadi badai. Riak-riak kecil tak mustahil berubah menjadi gulungan ombak. Dibutuhkan keteguhan, keberanian, dan ketrampilan untuk menyelamatkan biduk agar tidak karam dan bisa meneruskan pelayaran dengan tenang sampai ke pantai tujuan.

Di manakah pantai tujuan pernikahan? Jika salah satu atau kedua penumpang biduk pernikahan kembali kepada Yang Maha Kuasa, maka biduk pernikahan itu berlabuh di pantai tujuan. Jika kedua penumpang berpisah selagi berada di tengah samudera, berarti biduk pernikahan tersebut karam.

Hari ini, kami telah 24 tahun melayarkan biduk pernikahan kami. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmatNya, hingga biduk kami selamat sampai ke pantai tujuan. Amin.

 

 

 

Read Full Post »

Kembarkah Kami?

LHO ! KOK WAJAH KITA SAMA?

Pernahkah anda terkejut karena bertemu dengan seseorang yang wajahnya mirip dengan anda sendiri? Atau ada orang mengatakan wajah anda mirip si Anu, atau persis si Una, atau plek-ketiplek-duplek dengan si Inu? Padahal anda tidak mengenal ‘kembaran’ anda tersebut, apalagi bersaudara seindung telur ….

Saya beberapa kali dikatakan orang ada kesamaan wajah dengan Neno Warisman, Teh Ninih (istri Aa’ Gym), malahan Sitoresmi juga (yang saya sebut orang-orang terkenal saja, soalnya kalau saya ceritakan saya juga dibilang orang mirip dengan Waginah atau Tulkiyem, kan anda nggak bisa membayangkan wajah Mbok Wag dan Yu Tul itu kayak apa … ). Hwahaha! Mungkin orang-orang yang mengatakan wajah saya ada kesamaan dengan Neno, atau Teh Ninih, atau Mbak Sito, itu lupa nggak memakai kaca mata mereka, sehingga wajah saya yang remuk redam terlihat hampir serupa dengan wajah wanita-wanita ayu itu … (ya nggak papa sih, sering-sering aja lupa pakai kacamata … hihi).

Tapi sekali ini, saya benar-benar tercengang ketika melihat foto Buhan. Rasanya seperti berada di depan cermin, dan melihat wajah saya sendiri. Hehehe … lucu sekali, ketika melihat wajah kita menempel di kepala orang lain (enak aja, itu wajah Buhan sendiri, tauu!).

Siapakah Buhan? Nama aslinya adalah Siti Maslakhah. Saya menyebutnya Buhan, karena kalau meninggalkan jejak di blog ini, dia menuliskan identitasnya sebagai Bundanya Hanafi, sehingga saya singkat saja menjadi Buhan. Untuk penyingkatan ini, dia sudah membubuhkan tanda tangan persetujuan (halah!). Kebetulan Han adalah juga nama suaminya. Yo wis, klop lah.

Kebetulan kami sama-sama tinggal di Yogya bagian selatan, bahkan katanya Buhan sering lewat di depan rumah saya (meskipun belum pernah mampir untuk sekedar ngantar gudeg atau chicken cordon bleu … *lho?! kok ngarep*). Kami sama-sama berprofesi sebagai Bu Guru, sama-sama juga merangkap sopir. Soal usia, kalau menurut perhitungan saya, Buhan lebih muda sekitar 7 tahun dibanding saya.

Selama ini, kalau meninggalkan jejak kaki di blog, foto Buhan tidak muncul, jadi saya tidak tahu wajahnya seperti apa. Nah, beberapa hari yang lalu, dia meng-add saya di FB, dan …. badalaaa!! Saya tercengang karena foto wajahnya mirip wajah saya. Ketika saya katakan hal itu lewat message FB, Buhan bilang bahwa kedua putranya pun mengira foto saya yang banyak bertebaran di blog (tanpa tahu malu itu) itu adalah ibunya. Yeeiy!

PR lagi untuk para murid : yang manakah Buhan, dan yang manakah Butut? (alamaak … singkatan nama saya kok jelek banget ya … hiks … hiks … )

 


Sama-sama berjilbab merah, sama-sama berkacamata, sama-sama cantik dan pinter, lipstikpun sama-sama merah cabe …  ya’elaaah!


Untuk kali ini, penebak jitu tidak mendapat hadiah (yeeeiy … emang kemarin ada hadiahnya?)

Read Full Post »

RADIO, DUNIA SUARA SEPANJANG MASA

Di radio aku dengar lagu kesayanganmu
Kutelepon di rumahmu sedang apa sayangku
Kuharap engkau mendengar
Dan kukatakan rindu

Malam Minggu pukul tujuh aku apel ke rumahmu
Kubersiul dan bernyanyi membayangkan dirimu
Bercanda dan bercumbu duduk berdua denganmu

Reff:
Tetapi mimpi apa aku semalam
Kulihat engkau duduk berdua
Bercanda mesra dengan seorang pria
Kau cubit kau peluk kau cium

Di radio aku dengar lagu kesayanganmu
Kututupi telingaku dengan dua tanganku
Biarlah cepat berlalu dan kugadaikan cintaku

Kugantungkan cintaku … yeee..

Kugadaikan cintaku ….

Laaaa..lalala….lala..


Lirik lagu yang dinyanyikan oleh almarhum Gombloh di atas sebenarnya cukup mengenaskan, tapi mau tak mau kita tersenyum geli mendengarnya. Semula saya mengira judulnya adalah “Di Radio”, eh … sesudah nemu  di sini baru tahu kalau judulnya adalah “Kugadaikan Cintaku”. Lagu tersebut pernah sangat populer pada tahun 80-an (buat teman-teman yang lahir sesudah tahun 80, ma’ap … ). Gombloh yang memiliki nama asli Soedjarwoto Soemarsono meninggal 9 Januari 1988 pada usia 39 tahun.


Gombloh (foto : Wikipedia)

(lebih…)

Read Full Post »

AGAR TAK CUMA SAKIT YANG DIDAPAT

Kata-kata mutiara di atas saya peroleh dari sebuah buku saku berjudul “Inspiring Words” yang disusun oleh Ida Prastiowati, diterbitkan oleh Penerbit Indonesia Cerdas, Yogyakarta. Buku kecil ini (10 x 14 cm) menghimpun kata-kata mutiara, kata-kata emas, dan kata-kata berlian dari para tokoh di seluruh dunia, meskipun ada juga yang anonim. Nah, kalimat indah di atas diucapkan oleh Oswald Avery.

Siapakah Oswald Avery? Saya bertanya kepada Paman Google, dan menemukan informasi yang cukup memadai dari Wikipedia . Avery adalah warga negara Amerika berasal dari Canada. Ia dilahirkan pada 21 Oktober 1877 dan wafat pada 2 Februari 1955. Avery adalah seorang ahli biologi molekular, immunochemistry, gen dan chromosom. Ia bekerja di Rockefeller University Hospital, New York City.


Oswald Avery Oswald Avery (1877 – 1955)

Saya sangat terkesan pada kata-kata Avery, dan pernah memuatnya di status Face Book beberapa waktu yang lalu. Peristiwa tak mengenakkan yang menimpa saya beberapa hari kemarin, yang pernah saya tulis dalam dua posting terakhir (yang kemudian saya hapus), mengingatkan saya kembali pada kata-kata Avery.

Sebenarnya kata-kata Avery bukan sesuatu yang sangat baru. Sebelumnya kita pasti sudah pernah mendengar kalimat sejenis, yang intinya adalah : ambilah hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi. Kalimat Avery jadi mengesankan karena saya membayangkannya secara visual :

Ketika kita jatuh terjerembab, tubuh berdebum ke bumi, dan wajah mencium tanah (mungkin dengan hidung berdarah), jangan langsung bangkit dan kembali berjalan. Ketika wajah kita begitu dekat ke permukaan tanah, itulah kesempatan bagi kita untuk mengamati apa yang ada di atas permukaan tanah itu, yang selama ini mungkin tak pernah kita perhatikan (misalnya, semut ternyata memiliki pinggang yang sangat ramping … ).

Lalu perlahan-lahan kita duduk, mengamati permukaan tanah di sekitar kita dalam area yang lebih luas. Mencari sebab kenapa kita jatuh : mungkin ada lobang yang tidak kita lihat, mungkin ada batu yang kita sandung, mungkin karena ada tali melintang yang sengaja dipasang orang untuk menjegal kita, tapi mungkin juga karena kita berjalan dengan gembelengan dan pethakilan.

Nah, apa pun sebab yang membuat kita jatuh, jangan berdiri tanpa ‘memungut sesuatu’  dari tempat kita jatuh. Sudah pasti yang harus kita pungut adalah sesuatu yang bermanfaat, misalnya koin yang tercecer, sandal jepit yang tertinggal, ataupun tali melintang yang sudah membuat kita jatuh (lumayan kan buat bikin tali jemuran di rumah …). Nah, jatuh kita bisa menjadi berkah melimpah kalau yang kita temukan adalah berlian segede durian …

Sekarang pertanyaannya adalah : bagaimana kalau teman yang berjalan di sebelah kita jatuh? Pe-er untuk direnungkan, dan dikumpul secepatnya ke meja Bu Guru …


Read Full Post »

Older Posts »