Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember 13th, 2009

MERAYAP DI CISOMANG DAN MENEROBOS CISAAT

Hari Sabtu jam 5 pagi, ketika banyak orang Betawi masih dibuai mimpi (‘kali aja ada yang mimpi jadi Anggodo), saya uthuk-uthuk meninggalkan rumah kakak di Pasar Baru. Karena jarak ke Gambir cukup dekat, saya pilih naik bajay saja. Lima belas ribu nggak pake nawar. Abang pengemudinya gendut, membuat ingatan saya langsung konek dengan Mat Solar dalam sinetron “Bajay Bajuri”.

Suara bajay yang sember merobek pagi yang masih sedikit remang, membuyarkan kedamaian sesaat kota Jakarta. Abang bajay membawa saya bermanuver melewati Monas, menerobos dekat Masjid Istiqlal, lalu sreeet … jegrek, berhenti di depan stasiun Gambir.


Stasiun Gambir (foto boleh pinjem dari Yunus, http://www.panoramio.com)

Setelah bajay saya bayar lunas (ya iyalah, mosok ngutang), saya masuk ke stasiun. Beberapa orang portir (terimakasih kepada para fans teman, yang telah menjawab pertanyaan saya tentang istilah yang lebih halus untuk ‘kuli angkut’, semoga amal ibadah teman-teman semua diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa, amiiin …) menawarkan diri untuk membawakan kopor saya. Saya menggeleng sambil bilang ‘No, thank you’ (eh … nggak ding, pake bahasa Indonesia kok, hihi) dan langsung masuk ke dalam. Celingak-celinguk, saya tidak menemukan pintu dimana saya bisa naik ke kereta api saya.

“Pak, kalau mau naik Argo Gede di mana ya?” akhirnya saya bertanya kepada salah satu portir.

“Oh, di sono nooh … jauh, Neng! Mending saya antar aja” bapak tersebut menjawab dengan sigap.

Iya deh. Akhirnya kalimat saya ‘No, thank you’ (karena sok gagah mau bawa kopor sendiri) berubah menjadi ‘Yes, please’ (karena ternyata nggak tahu medan). Pak Portir itu langsung memanggul kopor Elle merah saya yang cantik ke atas bahunya, dan mencangklong tas berat penuh berisi buku di bahu yang satu lagi. Saya kasihan juga melihat tubuhnya yang kurus dan pasti belum sarapan sepagi itu.

“Pak, kopornya ditarik aja, ada rodanya kok.” saya bilang.

“Nggak papa Neng, ude biase …” jawab Pak Portir sambil berjalan dengan tegap. Langkahnya cepat, membuat saya terponthal-ponthal berusaha mengikuti dari belakang.

Yeeiy … ternyata pintu masuk yang benar cukup jauh, pakai naik tangga pula. Coba saya bawa kopor dan tas buku saya sendiri, pasti deh basah berkeringat.

Nah, inilah kereta yang akan membawa saya ke Bandung.


Kereta 3 nomor kursi 9D, itulah tempat duduk saya (foto : Majalah “Rel”)

Setelah menunggu sekitar 15 menit (sempat baca buku 5 halaman), pada jam 06.10 kereta Argo Gede yang saya tumpangi mulai bergerak. Jes … jes … jes … tuiiiiit!! Minggir, minggiiir … keretaku mau lewaat!

(lebih…)

Read Full Post »