Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2010

Pria-Pria Lezat

PARA PRIA PEMANJA LIDAH

Ketika seorang keponakan laki-laki saya, waktu itu kelas 3 SMP, menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke SMK Jurusan Boga, kami semua tertegun. SMK? Jurusan Boga? Plis deh …

Bukannya apa-apa, dalam sejarah keluarga kami, mulai dari saya sesaudara kandung, sampai ke anak-anak kakak saya, tidak ada satupun yang masuk SMK. Semuanya melanjutkan ke SMA, lalu perguruan tinggi. Lha kok ini ada satu keponakan yang nganeh-anehi, punya keinginan masuk SMK. Jurusan Boga lagi. Padahal dia laki-laki, cukup tampan, dan lumayan pinter. Duh Gusti Allah …. cobaan apa gerangan yang Kau turunkan kepada kami (eh, nggak ada yang ngomong gitu ding … lebay buuk!)

Kalau keponakan ini memilih SMK Jurusan Bengkel atau Perlistrikan, mungkin masih rada masuk akal. Tapi Jurusan Boga? Urusan masak-memasak?

Setelah berembug dengan saudara-saudara, meminta pendapat dan saran dari kami, kakak saya menyarankan agar putra tersayangnya masuk ke SMA saja. Selain belum ‘rela’ sang putra menghabiskan hidupnya di antara asap dapur (hahah… lebay lagi!), kami juga ingin memberi bekal pengetahuan umum yang cukup terlebih dahulu kepada anak ini, sekaligus menguji kemantapan hatinya. Kalau sudah terlanjur masuk SMK Jurusan Boga, lalu dia berubah pikiran ingin menjadi dokter atau insinyur, kan repots! (bah, kenapa sih selalu dua profesi itu yang dibanggakan orang tua? emang jadi polisi yang nyemprit di jalan itu nggak membanggakan?)

Anak yang baik ini menurut. Dia melanjutkan ke SMA, dan masuk ke jurusan IPA. Nilai-nilainya lumayan bagus. Lulus SMA, dia kembali menyatakan keinginannya untuk kuliah di Jurusan Boga. Kali ini kami tak bisa berkata apa-apa lagi. Tampaknya dia memang mantap dengan pilihannya. Kami pun tak mau lagi menghalang-halangi dia mewujudkan cita-citanya : menjadi chef. Ya, dia memang suka makan. Maka dengan sepenuh hati, kami semua mendukung pilihannya. Sekarang dia sudah hampir selesai kuliah di akademi pariwisata jurusan boga, dan sedang magang di sebuah hotel yang cukup besar di Yogya.

Sejak keponakan ini mantap terjun di dunia masakan, saya mulai menaruh perhatian pada para pria yang hidup dari memasak. Kebetulan pada saat ini ada tren baru di televisi, yaitu menampilkan para chef pria. Sebut saja Edwin Lau, Bara Pattiradjawane, Rudy Choirudin, William Wongso, dan masih sederet lagi nama-nama ‘pria lezat’ lainnya.

Yang menarik, berbeda dengan pria yang terjun di dunia mode atau kecantikan, yang cenderung ‘kemayu’ dan ‘melambai’, pria-pria jago masak ini penampilannya tetap ‘lelaki beneran’. Pernah lihat Edwin Lau? Ini dia fotonya. Wow, six pack man … (awaaas, teman-teman perempuan jangan melotot! hehe … )


Edwin Lau, menyabet gelar Runner Up ke 2 Mr. Indonesia 2007 (foto : dariĀ sini)

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Jiwa-jiwa Yang Retak

MEREKA HIDUP DI ALAM MEREKA SENDIRI

Waktu saya kecil dulu, di dekat rumah saya tinggal seorang wanita cantik, sebut saja Den Ayu . Ia dikaruniai wajah cantik dan kulit bersih, tetapi jiwa dan pikirannya kosong. Saya tidak tahu apa penyebabnya, yang jelas dia sakit jiwa, pikirannya tidak normal, dan dia tidak memiliki kemampuan mengontrol perilakunya.

Kami, saya dan anak-anak kecil di kampung, suka menggoda Den Ayu. Kami memanggil-manggil namanya, lalu berteriak bersama-sama : “Den Ayuu … buka tokooo… !!”. Maka Den Ayu pun akan membuka ‘toko’nya, yaitu mengangkat roknya hingga setinggi pinggang. Padahal … Den Ayu tak pernah memakai apa-apa dibalik roknya ….

Setelah Den Ayu ‘membuka toko’, anak-anak akan tertawa berderai-derai dan bersorak-sorak ….

Puluhan tahun kemudian, detik ini, ketika menulis posting ini, saya menangis. Alangkah jahatnya perilaku kami waktu itu. Alangkah buruknya moral kami! Den Ayu, maafkan kami, maafkan kami, maafkan kami ….. Saya tak bisa minta maaf langsung kepadanya, karena wanita malang itu sudah lama berpulang. Saya berdoa, semoga Allah memberi ia tempat yang terbaik di sisiNya …

Saya tak tahu, mengapa pada waktu itu tidak ada yang menegur atau mengajarkan kepada kami, anak-anak, bahwa kita tidak boleh memperlakukan orang sakit jiwa dengan buruk. Orang tua saya, juga orang tua teman-teman saya, memang tidak tahu kelakuan nakal kami, tetapi mereka tahu tentang keberadaan Den Ayu, dan semestinya mengajarkan kepada kami bagaimana seharusnya memperlakukan orang yang sakit seperti dirinya. Kenyataannya, masyarakat justru menjadikan orang sakit jiwa sebagai bulan-bulanan : ditonton, dihina, ditertawakan, dipermainkan, meskipun juga ditakuti kalau dia mulai mengamuk.

Apa yang terjadi dengan nurani kita?

Padahal, penderita sakit jiwa adalah manusia juga. Sakit jiwa adalah ciptaan Tuhan juga. Jika kita menghina mereka, bukankah sama saja kita menghina Tuhan? Mereka adalah insan-insan yang malang, yang menderita sakit bukan karena kemauan atau kesalahan mereka sendiri. Seharusnya kita, orang-orang yang waras ini, mengasihani, mengasihi, dan melindungi mereka.


Sosok malang yang kehilangan kesadaran atas dirinya (foto : Mira Chandra, dipinjam dariĀ sini )

(lebih…)

Read Full Post »

Masehi Dan Hijriyah

MATAHARI DI TANGAN KIRI, REMBULAN DI TANGAN KANAN


Kalender 2010 Bank Mandiri (foto : Tuti)

Tahun 2010 baru saja kita mulai. Jika ramalan suku Maya bahwa tahun 2012 dunia bakal kiamat benar-benar terbukti, maka hidup kita di bumi tinggal 2 tahun lagi. Woiii … yang belum nikah, yang belum lulus sekolah, yang belum banyak beribadah, ayo cepetaaan …. ! Keburu kiamat loh!! Bagi yang punya utang, bikin reschedulling aja, bayar utangnya mundur sesudah tahun 2012 … hahah!

Tahun 2010 ini adalah tahun dalam kalender Masehi, disebut juga kalender Gregorian. Penanggalan yang dipakai secara internasional ini diperkenalkan oleh Aloysius Lilius, dan dideklarasikan oleh Pope Gregory XII pada 24 Februari 1582. Awal pemakaiannya sendiri adalah pada tanggal 15 Oktober 1582. Lho, jadi sebelum itu pakai kalender apa? Sebelumnya, dipakai kalender Julian. Kalender Gregorian adalah penyempurnaan dari kalender Julian dengan menambahkan tahun Kabisat, yaitu penambahan 1 hari setiap 4 tahun pada bulan Februari, sehingga pada tahun Kabisat bulan Februari berumur 29 hari.


Relief yang menggambarkan ketika Pope Gregory XII mendeklarasikan kalender Gregorian (foto : Wikipedia)

Kalender Masehi diterima secara aklamasi oleh masyarakat internasional, meskipun kalender ini sebenarnya mengandung beberapa ‘keanehan’ …

Kalender Masehi berasal dari kalender Romawi, yang kemudian diambil oleh orang Kristen (disebut juga orang Masehi). Karena berasal dari kalender Romawi, maka nama-nama bulan dan hari dalam kalender ini diambil dari nama dewa-dewa Romawi serta angka-angka dalam bahasa Romawi, yaitu : Martius (dewa Mars), Aprilis (dewa Aperire), Maius (dewa Maia), Junius (dewa Juno), Quintilis (bulan ke 5), Sextilis (bulanke 6), September (bulan ke 7), Oktober (bulan ke 8), November (bulan ke 9), Desember (bulan ke 10), Januarius (dewa Janus), dan Februarius (dewa Februus).

Adapun nama-nama hari adalah Sunday (matahari), Monday (bulan), Tuesday (Tioe, anak dewa Wodan), Wednesday (dewa Wodan), Thursday (dewa Donar, anak dewa Wodan), Friday (Frigga, istri dewa Wodan), dan Saturday (Saturnus). Wooow … hebat bener Dewa Wodan ini, anak-istri dan namanya sendiri diborong untuk menamai hari! Kalau saya sih menafsirkan Tuesday adalah dari Tuti-day, nama saya … hihi.

Apa yang aneh dari kalender Masehi? Ini lho …

(lebih…)

Read Full Post »

REFLEKSI, RESOLUSI

Bagaimana anda melewatkan Malam Tahun Baru 2010?

Melebur bersama massa di jalan-jalan, meniup terompet, dan bergembira menyaksikan kembang api? Atau lebih elit : berbaur dengan kalangan jetset di ballroom hotel bintang 5, menyaksikan konser diva musik dari luar negri? Atau gaya pecinta alam : membakar api unggun di puncak gunung? Atau model orang rumahan : nonton teve sambil makan sebaskom pop corn?

Biasanya, saya melewatkan malam tahun baru dengan model yang terakhir : tinggal di rumah, duduk manis (emang manis gitu?) di depan teve. Tapi tahun ini tiba-tiba kami ingin mencoba melewatkan malam tahun baru dengan makan di luar (di restoran maksudnya, bukan di halaman rumah … ). Maka pada jam 20.30 kami berangkat. Baru seratus meter meluncur di jalan, tanpa diduga kami sudah terjebak macet. Padahal rumah kami agak jauh dari pusat keramaian di seputar Malioboro. Dalam hitungan menit, mobil kami sudah tak bisa bergerak, terjepit di antara deretan mobil-mobil dan sepeda motor. Walah!


Macet total di Jl. MT Haryono. Pemandangan yang sungguh langka di Yogya.

Yogya macet! Puluhan tahun tinggal di Yogya, saya tak pernah mengalami macet di jalan. Tapi malam ini, bahkan di Jl. MT Haryono yang lebar dan malam ini dibuat satu arah, lalu lintas macet tak alang kepalang, tak ubahnya Jl. Sudirman Jakarta sore hari saat pulang kantor. Dari pertigaan Jl. Sisingamangaraja – Jl. Kol. Sugiyono sampai ke perempatan Plengkung Gading, yang jaraknya kurang dari 1 km, kami menghabiskan waktu 1 jam. Luar biasa. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang saja! Selain tak tahan macet di jalan, perut sudah kelaparan, kami juga ragu masih bisa mendapatkan tempat duduk di restoran. Maka di perempatan Plengkung Gading kami berbelok ke selatan, mengambil arah pulang ke rumah. Tak apalah di rumah saya bikin nasi goreng atau mie goreng instan, dari pada terjebak macet dengan perut kelaparan …. hiks!

(lebih…)

Read Full Post »