Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2010

Akh … Khan!

BOLLYWOOD  ALA HOLLYWOOD

Bisakah anda melafalkan nama Shahrukh Khan dengan benar? Bisa? Eiiit …. jangan terlalu yakin dulu! Boleh jadi lidah dan tenggorokan anda memerlukan latihan berat untuk bisa mengucapkan ‘Khan’ dengan benar. Bukan …. bukan ‘Khan’, tapi ‘Khkhkhgaaan’. Diucapkan dengan suara dari tenggorokan terdalam. Silahkan dicoba, tapi untuk menjaga ketenteraman publik dan keamanan lingkungan, mungkin lebih baik anda berlatih di kamar mandi yang tertutup rapat ….

Seumur-umur, inilah pertama kalinya saya nonton film India, dan sudah pasti pertama pula melihat penampilan Shahrukh Khan (kadang ditulis Shah Rukh Khan, atau disingkat SRK) dan Kajol. Wajah SRK sendiri sudah terpatri di dalam benak saya, dari membaca berita-berita di media massa (saya nggak kuper-kuper amatlah …). Selain bintang film papan atas Bollywood, yang membuat SRK sangat populer tentu saja karena wajahnya yang — apa boleh buat harus saya akui — bolehlaaah ….  Kalau skala kegantengan mempunyai rank dari 1 – 10, SRK cukup oke diberi nilai 8 …

Ya iyalah, sudah pasti saya bicara tentang film “My Name Is Khan” (MNIK), film garapan Karan Johar yang diproduksi oleh Dharma Production dan Red Chilies Entertainment. Film ini mempertemukan kembali SRK dengan Kajol, sesudah film fenomenal mereka “Kabhi Khushi Kabhie Gham” pada tahun 2001. MNIK yang berdurasi 161 menit ini mengusung isu kemanusiaan, pluralisme, dan multikulturalisme.


Begitu beragamnya bangsa dan budaya manusia penghuni planet bumi ini, namun sesungguhnya manusia hanya dibedakan menjadi dua : manusia baik dan manusia buruk. Issue ini menjadi sangat crucial di tengah semakin memanasnya pertikaian berbagai bangsa di dunia yang disebabkan oleh perbedaan warna kulit, agama, ras, dan golongan. Aksi-aksi terorisme yang terjadi di berbagai belahan dunia membuat orang tergiring untuk memberikan stigma buruk pada umat tertentu, padahal pelaku-pelaku teror itu sesungguhnya justru mengkhianati ajaran murni agama mereka sendiri. Contoh paling jelas adalah prejudice bangsa Amerika kepada umat Islam sesudah terjadinya tragedi 11 September 2001 yang meruntuhkan WTC di New York. Nah, film MNIK menggambarkan paranoia bangsa Amerika terhadap apa saja dan siapa saja yang memiliki identitas keislaman, termasuk tokoh dalam film ini, Rizwan Khan.


(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Hilang

PELAJARAN TERBAIK : IKHLAS

Apa yang terjadi pada diri kita, jika tiba-tiba kita menyadari bahwa tas, laptop, mobil, atau barang berharga kita lainnya telah raib, lenyap dari tempat di mana seharusnya benda tersebut berada, dengan kemungkinan besar dicuri orang? Kaget, panik, mungkin untuk sekejap jantung berdegup kencang dan pikiran serasa blank. Begitu juga jika tiba-tiba saja kita mengalami kecelakaan, entah tabrakan kendaraan, jatuh dari suatu tempat, atau musibah yang lain.

Sesudah rasa kaget dan panik itu reda, maka yang muncul biasanya adalah penyesalan. Coba tadi begini, kalau saja tadi begitu, pasti musibah tidak terjadi. Rasanya kita ingin sekali membalik waktu, dan akan melakukan hal yang lebih baik, lebih benar. Tetapi waktu tidak pernah berjalan mundur, tidak pernah bisa di-rewind. Beberapa detik yang mengakibatkan kerugian dan kehilangan besar itu tak bisa lagi dikoreksi.

Ketika mengalami musibah, reaksi seperti apa yang kita harapkan dari orang-orang di sekitar kita? Sudah pasti dukungan moril, penghiburan, dan simpati. Tasmu yang berisi uang dijambret orang? Ya sudahlah, toh pabrik tas masih terus berproduksi dan kamu bisa beli tas yang lain, lagipula tabunganmu masih numpuk uwel-uwelan di bawah kasur sampai jamuran. Mobilmu remek nabrak sepur? Ah, nggak apa-apa … yang penting bukan sepurnya yang remek … eh, bukan badanmu yang remek

Tapi, ada kalanya reaksi yang diberikan orang justru membuat kita semakin sedih, bahkan kesal dan sesak hati. Ada kalanya, tanpa sadar kita sendiripun suka memuaskan nafsu kita dengan memberikan respon yang negatif.  Apa aku bilang …. kamu sih, suka sembarangan! Makanya, ati-ati kalau nyimpen barang! Ini pelajaran buat kamu, lain kali jangan sembrono! Pasti sedekahmu kurang, jadi Tuhan mengambilnya dengan cara seperti ini! Bla bla bla … tet teretetet …!

Beughh!!

Padahal, tanpa disalah-salahkan, tanpa dituding-tuding, tanpa dijebles-jebleskan pun, kita sudah menyesal setengah mati. Memangnya ada orang lain yang lebih sedih dan menyesal, ketika diri kita mengalami musibah?

*haiyyah …  saya ngomong apa sih?*

(lebih…)

Read Full Post »

Pengalaman Pertama

GAGAL TOTAL …

Konon, pengalaman pertama selalu luar biasa. Luar biasa menyenangkan, atau luar biasa menyakitkan. Menyenangkan tentunya kalau sukses, dan menyakitkan pastinya kalau gagal. Nah, saya baru saja memiliki pengalaman pertama gagal total! Bagaimana rasa hati saya? Hiks … hiks … kecewa dan sakit banget!

Sesudah “24 Sauh”, proyek berikutnya yang akan dikerjakan adalah menulis novel bersama. Proyek baru ini disambut dengan antusias oleh teman-teman. Beberapa teman memang tidak bisa ikut karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tapi beberapa penulis baru bergabung, menggantikan posisi penulis yang absen. Saya, meskipun seharusnya juga sibuk (sumpe, seharusnya saya bahkan prei ngeblog!), tetap nekad bergabung. Setelah dua puluh tahun ‘mati suri’, jiwa kepengarangan agaknya ditiupkan kembali ke dalam tubuh saya. Saya seperti hidup untuk yang ke dua kalinya. Penuh semangat dan gairah!



Menandatangani novel untuk sahabat (foto : Yoga)

Asyik juga kayaknya menulis novel berantai. Saling menyambung, saling menimpali. Masing-masing dengan kreativitas, imajinasi, dan keunikan gaya yang sudah menjadi ciri khas setiap penulis. Rasanya sudah tidak sabar lagi menunggu giliran, menyambung kisah yang sudah ditulis teman sebelumnya. Komunikasi intens pun dijalin lewat threat di Facebook.

Bab pertama ditulis oleh seorang teman, yang sekaligus menjadi pemrakarsa dan koordinator proyek. Supaya semua teman bisa mengikuti jalan cerita sejak awal, maka Bab I tersebut dikirimkan ke e-mail masing-masing teman. Saya membuka attachment berisi Bab I dan dengan penuh antusias membaca baris demi baris …..

Alinea pertama hingga ke tiga biasa saja. Namanya juga baru pembukaan. Ibarat artis tampil di panggung, baru mengambil nafas, membangun suasana, dan menjajagi penonton. Alinea ke lima, sang artis mulai beraksi, dan kening saya berkerut. Alinea ke delapan, mata saya terbelalak. Alinea ke sepuluh, saya tersedak. Alinea ke tiga belas, duduk saya mulai melorot di kursi. Alinea ke enam belas, ke dua puluh, ke sekian ….. saya benar-benar terhenyak! Huwaaaaa ….. !!

Saya shock berat! Tubuh lunglai, tulang belulang serasa berlepasan. Semangat pun runtuh berantakan …

(lebih…)

Read Full Post »

Astaga … Jakarta Lagi?

KALI INI PIM DAN PIM

Betul, teman-teman. Maafkan jika saya menyiksa teman-teman dengan cerita tentang Jakarta lagi, tentang “24 Sauh’ lagi. Apa daya, saya sedang terpikat pada ibukota negara kita ini. Apa hendak dikata pula, aktivitas saya masih tentang antologi cerpen “24 Sauh”. Tapi saya janji, demi angin dan hujan (soalnya nggak berani demi Tuhan), ini adalah tulisan terakhir saya tentang topik yang insya’allah sudah membuat teman-teman merindukan obat mual …

Hari Kamis malam, saya mengirim sms kepada Mbak Enny , mengundang beliau untuk hadir pada acara diskusi “24 Sauh” di Gramedia Pondok Indah Mall pada hari Jum’at malam. Alhamdulillah Mbak Enny bersedia hadir. Saya khusus mengundang Mbak Enny, karena pada kunjungan saya ke Jakarta sebelumnya, yaitu pada tanggal 13 dan 14 Februari, kami tidak sempat bertemu. Saya juga menanyakan hotel yang bagus di dekat-dekat PIM, minimal di wilayah Jakarta Selatan, karena pengetahuan saya tentang Jakarta sungguh nol besar. Eeeh … siapa nyana Mbak Enny malah menawarkan kepada saya untuk menginap di rumah beliau!

Sejujurnya, pilihan pertama saya jika pergi ke suatu kota adalah menginap di hotel. Bukan apa-apa, saya hanya tidak mau merepotkan jika menginap di rumah seseorang. Lagipula saya menginginkan privacy. Apalagi jika acara saya di kota tersebut cukup padat dan melelahkan, saya ingin tempat istirahat yang nyaman dan memberikan keleluasaan. Dengan tinggal di hotel, saya bisa pergi dan pulang kapan saja, bisa langsung tidur atau mau bermalas-malasan sambil membaca. Bisa order room service atau laundry. Kalau menginap di rumah orang, mana bisa saya berperilaku tak elok demikian? Bisa-bisa kopor saya dilempar ke jalan oleh tuan rumah … hihi.

Tapi tawaran Mbak Enny untuk menginap di rumah beliau sungguh menggoda iman saya. Meskipun baru satu kali bertemu dengan beliau pada Februari 2009, dari tulisan-tulisan di blog beliau, saya tahu beliau sangat kaya ilmu dan pengalaman hidup. Menginap di rumah beliau tentu akan memberi kesempatan yang sangat luas bagi saya untuk menimba ilmu dan belajar banyak. Maka, dengan suka cita saya menerima tawaran untuk menginap di rumah Mbak Enny yang ada di Jl. Ci*****k  (eh, maaf …. saya harus merahasiakan alamat rumah beliau, karena kalau semua orang tahu, bisa-bisa Mbak Enny repot kebanjiran permintaan tamu menginap … hehe).

Selain Mbak Enny, saya juga bertemu (lagi) dengan Yoga Amalia , yang saya kenal pada Februari 2009, pada waktu kopdar bersama Mbak Enny dan Mbak Imelda. Wah, senangnya bertemu Yoga lagi …


Santap malam yang lezat, dengan obrolan yang akrab. Pantes nggak sih kalau kami mengaku tiga kakak beradik?

(lebih…)

Read Full Post »