Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2010

Gelas Tanah Liat

Salam Sahabat …

Ada kalanya kita membaca sebuah cerpen, atau novel, yang begitu menghanyutkan perasaan kita, membius pikiran kita, membuat kita terhenyak dan dalam waktu lama terbenam dalam emosi yang pekat. Begitulah yang saya rasakan ketika membaca cerpen mini “Gelas Tanah Liat”.

“Gelas Tanah Liat” ditulis Eva dengan bahasa yang indah, namun bernuansa sendu. Penggambarannya yang sedikit kabur tentang tokoh-tokoh dalam cerpen ini — tak ada satu nama pun disebut — membuat kita seakan menonton sebuah film dalam tirai kabut. Kesenduan dan bobot emosi yang kental dalam setiap kalimatnya membuat kita tak bisa mengelak dari keterlibatan emosi yang sama kentalnya.

Eva Budiastuti, sahabat saya ini memiliki hobi menulis cerita dan puisi. Ia ikut serta dalam komunitas Cafesastra Musikalisasi Puisi di Facebook. Cerpennya tersebar di berbagai mass media. Salah satu cerpennya ikut pula menyemarakkan antologi cerpen dan puisi “24 Sauh”. Arsitek lulusan Trisakti ini memutuskan untuk resign dari sebuah bank asing agar bisa sepenuhnya mengasuh putra tunggalnya yang kini berusia 9 tahun.



Eva, lantunkan kisahmu, dan biarkan kami terbenam hanyut dalam rindu bersamamu ….

*melipat tangan dengan rapi, memusatkan perhatian ke alunan tutur kata Eva yang menoreh hati*

…………………………….

(lebih…)

Read Full Post »

Linda dan Henny

SAHABAT-SAHABAT

Dear Friends … 🙂

Sesuai dengan janji saya (eh, janji Henny ding …) pada posting Lemak Nian Oiiii …! , saya akan memilih satu komentator yang paling heboh, dan Henny akan mengirimkan paket pempek kepada komentator pilihan saya. Nah, memilih satu orang dari sekian banyak komentator, yang semuanya heboh-heboh (dan kayaknya semua pengin dapet pempek … hihihi … 😀 ) sungguh bukan pekerjaan yang mudah bagi saya. Penginnya sih ngasih ke banyak orang, tapi karena paketnya cuma satu, yah … apa boleh buat, saya terpaksa harus jadi Ratu Tega … 😀

And the winner is ……….. Elindasari ! Kriteria penilaiannya banyak, macem-macem, berlapis-lapis, sudah berdasarkan UUD 45, Keppres, dan Kepmen, jadi kalau ada teman-teman yang merasa penilaian ini kurang adil, silahkan mengajukan banding ke Mahkamah Agung atau uji materiil ke Mahkamah Konstitusi …

Inilah dia pempek Henny yang sudah terhidang di meja makan  Mbak Linda. Foto yang indah ini saya pinjam dari posting di blog Mbak Linda. Hmmm ….. siapa nggak nelan ludah, coba?


Elindasari, sang Bintang


Orang baik akan bernasib baik, begitu alam menjalankan hukumnya. Henny, yang begitu baik hati mau mengirimkan paket pempek kepada seseorang yang belum dikenalnya, terbukti mendapatkan kebaikan yang sama dengan kebaikan yang telah disebarkannya. Ketika membuka TV beberapa waktu yang lalu, saya bersorak girang ‘menangkap’ komentator pada angka cantik, 6996. Dan siapakah komentator cantik tersebut?

Henny … ! 😀



Sayang sekali, sulit menemukan foto Henny di Henny’s Site. Satu-satunya foto yang ada sudah pernah saya upload ketika Henny memenangkan kuis menebak foto ibu kandung saya di Congratulation , dan satu-satunya foto Henny bersama saya sudah saya pajang pula pada posting “Lemak Nian Oiii”. Yang banyak saya temukan di blog Henny adalah foto Ping, putri kecilnya yang cantik nan lucu. Dan karena Henny begitu cinta kepada putri kecilnya ini, maka pastilah dia tak keberatan foto Ping saya upload di sini.



Ping bermain hulahop. Ayo Ping … goyang pinggulmu! Yang digoyang-digoyang yang …

Henny memiliki toko boneka dan berbagai pernik untuk membuat kreasi yang serba indah. Apapun yang dihasilkan dari tangannya, adalah sesuatu yang cantik, indah, dan pastinya memiliki nilai personal. Rangkaian bunga, kartu ucapan, kotak hadiah, sampul buku, semuanya, adalah karya-karya indah hasil kreasi tangan terampilnya. Ini adalah salah satu kartu ucapan yang saya impikan …


Nah, untuk Henny akan saya kirimkan bingkisan juga, karena telah menjadi komentator ke 6996. Bingkisannya apa? Ups … rahasia dong, just between me and Henny … 😀

Ohya, sebelum pempek Yuk Henny dinikmati Yuk Elindasari, saya sudah terlebih dulu menikmatinya. Dikirim langsung dari Palembang ke Yogya, saya terima masih hangat (meskipun hangatnya karena dekat mesin pesawat kali ya … 😀 ). Tapi betul, pempek itu dikirim pagi dan tiba di rumah saya sore hari, jadi memang masih fresh. Langsung dikukus sebentar, digoreng, dan ….. nyam nyam …

Hmmm …. indahnya berbagi dengan para sahabat 🙂


Read Full Post »

Tim Kecap Ikan Patin

Helloow ….. 😀

Senang sekali teman-teman masih mau mampir ke beranda ini. Sejujurnya, saya merasa khawatir beranda ini terlihat mulai suram, membosankan, old fashioned, out of date, dan out-out lainnya 😦  . Saya masih belum dalam kondisi bebas dari sandera, masih belum memiliki keleluasaan penuh untuk bercengkerama di beranda saya. Kesediaan sahabat-sahabat untuk menjadi tamu saya di beranda ini, dengan sajian yang masing-masing memiliki keistimewaannya sendiri, sungguh membuat saya terharu dan berterimakasih ….

Kali ini tamu saya adalah wanita cantik yang sudah malang melintang di jagad maya, baik blog, facebook, maupun twitter. Tulisannya selalu menyentuh relung hati kita, membuat kita merenung, berpikir ulang, dan menemukan kesadaran baru dalam perspektif yang berbeda. Ia selalu bicara tentang hati dan pikiran manusia, yang kadang sederhana, namun ternyata tak terduga, dan seringkali menyimpan rahasia.

Bukunya, “The Blings of My Life” mendapat sambutan yang sangat bagus dari masyarakat. Tutur kalimatnya yang mengalir lembut dan indah, sekaligus penuh tenaga dan kaya warna, adalah kekuatan tulisan Lala Purwono yang selalu membuat saya iri … (dalam arti positif pasti 🙂  ). Jeung Lala memang dilahirkan sebagai penulis, mewarisi bakat almarhum papanya yang juga seorang penulis.



Lala Purwono, cantik, ceria, mempesona dengan kata …


Lala, sudah masakkah ikan patinnya? Oke, mari kita duduk dan menikmatinya bersama-sama. Suap demi suap, sampai remah terakhir. Jika masih kurang, tidak dilarang untuk menjilati kuah yang tertinggal di jari … 🙂

…………

(lebih…)

Read Full Post »

Ngejazz Bareng Ireng

IRENG MAULANA DAN BINTANG-BINTANGNYA

Ireng itu bahasa Jawa, yang artinya hitam. Kalau ada orang bernama Ireng, pasti kita membayangkan sosoknya berkulit hitam legam, bahasa Jawanya jelitheng. Mungkin tambah rambut keriting kriwil dan mata melolo (kalau itu mah orang habis kesetrum listrik …. hihihi 😀 ).

Nah, Ireng yang saya kagumi ini (iya deh, saya sayangi juga … musiknya maksud saya 🙂 ) tidak berkulit gelap. Memang sembarangan saja orang tua angkat yang memberi panggilan ‘Ireng’ kepada Eugene Lodewijk Willem Maulana ini. Adik pemusik jazz Kiboud Maulana ini semasa kecilnya bandel bukan buatan (jadi beneran gitu loh …), sehingga oleh orangtuanya dititipkan kepada tetangganya. Nah, tetangga yang baik hati inilah yang memberi nama Ireng. Jangan tanya kenapa Ireng, kenapa bukan Biru atau Belang, saya juga gak tau … 😉



Eugene Lodewijk Willem (Ireng) Maulana (foto : Kapanlagi.com)

Saya bukan pakar musik jazz, nggak paham merah-ijonya jazz. Saya pecinta musik yang dimainkan Ireng Maulana dan teman-temannya, yang tergabung dalam Ireng Maulana All Stars, itu saja. Bahwa musik mereka digolongkan sebagai musik jazz, ya monggo sajalah. No problemo.

Saya kenal Ireng sudah lama (meski nggak pernah satu kelas, nggak pernah satu kota, nggak pernah saling bersapa). Sumpah, Ireng bahkan nggak tahu apakah Tuti Nonka itu nama seorang wanita yang manis dan baik hati, sejenis es krim, atau merk pompa air. Saya aja yang sok kenal dan sok dekat. Lha gimana saya nggak kenal baik Ireng, wong saya penggemar acara “Berpacu Dalam Melodi” yang disiarkan TVRI antara tahun 1989 – 1998. Dalam acara yang disiarkan seminggu sekali itu Ireng Maulana All Stars berlaku  sebagai musik pengiring, dan mereka selalu menampilkan permainan musik yang membuat saya bersyukur dikaruniai telinga bolong.

Oke, bagi teman-teman yang belum pernah mendengarkan musik Ireng Maulana, silahkan cari di toko musik, di Youtube atau di mana saja (asal jangan di lapak CD bajakan ya!). Ini lho CDnya …

(lebih…)

Read Full Post »

Sahabat …

Apa yang paling nikmat menemani Anda ketika sedang blogging, ketika melewatkan golden times? Orang-orang tercinta? Owgh, pasti. Musik yang indah? Sure. Camilan yang kress? Setuju. Tapi semua itu tak akan lengkap kalau tidak ada sesuatu yang diminum, yang mengalir perlahan di kerongkongan, penuh rasa dan membuat hidup menjadi sempurna ……….

Apa gerangan minuman yang membuat hidup Anda terasa sempurna?

Sahabat saya, seorang penulis yang memiliki bahasa begitu indah (yang di status facebooknya selalu ia tulis ‘dipetik dari langit’), menghadiahkan sebuah tulisan yang sangat saya suka, yang sekarang saya hadirkan di TV untuk dinikmati sahabat-sahabat semua. Ia memiliki kepekaan rasa begitu dalam, dan kebeningan hati yang menenteramkan siapa saja. Widyawati Puspita Dewi, nama lengkapnya, tapi ia suka dipanggil Dada. D-a-d-a? Iya, Dada. Bukan paha atau kepala. Ya iyalah, dia kan bukan ayam goreng … ow-ow!

Dada belum memiliki blog. Adakah di antara teman-teman yang bersedia membuatkan blog untuk sahabat saya ini? Owgh … Dada pasti akan senang sekali, absolutely! Dada sudah menulis cerpen dan menjadi reporter sejak SMP, dan beberapa kali memenangkan lomba penulisan cerpen dan novelet di majalah Gadis, Femina, dan lain-lain. Cerpennya juga ada dalam antologi “24 Sauh”.


Bu Tut (bukan Buntut loh …) dan Dada

Paling nikmat menyimak tulisan Dada sambil menyeruput minuman kesayangan saya : teh. Jadi, saya akan menyeduh teh asli kegemaran saya, sambil mempersilahkan Dada membagi kisahnya tentang minuman yang sama …

Dada, silahkan disajikan “Teh”nya ….

*menata cangkir untuk menuang teh panas dari poci*

………………..

(lebih…)

Read Full Post »