Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2010

Bertamu

Jika pergi ke suatu kota, di mana Anda lebih suka tinggal? Di hotel, atau di rumah saudara/teman?

Bagi saya ini pilihan yang relatif, artinya ‘tergantung pada’ : tergantung pada kedekatan hubungan saya dengan saudara/teman yang diinapi, dan pada tujuan kepergian saya ke kota tersebut. Tetapi pada umumnya, pilihan pertama saya adalah tinggal di hotel. Mungkin saya sudah terpapar virus ‘orang kota’ yang menginginkan privacy. Tinggal di hotel jelas memberikan privacy yang lebih leluasa dari pada menginap di rumah orang. Fasilitas pun — pada umumnya — lebih baik. Minimal ada room service 24 jam (bayangkan kalau kita menginap di rumah orang, dan tengah malam kelaparan, masak mau gerilya di dapur atau di meja makan? ๐Ÿ˜› ), taksi selalu tersedia, kamar dengan AC, televisi dan air panas, bahkan sekarang banyak hotel yang menyediakan internet gratis di kamar. Dan, ini yang paling penting bagi saya, kita bisa datang dan pergi semau kita, kalau capek bisa tidur sesuka kita, tanpa perlu merasa telah menjadi tamu yang tidak beradab … ๐Ÿ˜€


Menu breakfast yang lengkap di Hotel Atlet Century Jakarta termasuk yang saya sukai ๐Ÿ™‚

Di hotel Atlet Century ada larangan untuk breakfast dengan mengenakan kaos singlet, celana pendek, dan sendal. Mematikan selera makan tamu yang lain ๐Ÿ˜ฆ


Tetapi, tinggal di rumah kerabat atau teman yang memiliki hubungan baik juga merupakan hal yang sangat menyenangkan. Merasakan suasana kehidupan sehari-hari, melihat setiap sudut dan pernik rumah seseorang, dan mengenal seluruh anggota keluarganya, adalah hal-hal positif yang tak ternilai bagi hubungan persahabatan dan persaudaraan. Untuk kehangatan hubungan seperti ini, kenyamanan fasilitas bolehlah dinomorduakan.

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Bila Mata Mau Bergaya

Rasanya saya tidaklah bodoh-bodoh amat (emang siapa bilang Amat bodoh? ๐Ÿ™‚ ), tapi di kelas 1 SMP rapot saya kurang memuaskan. Nilai-nilai ulangan saya pas-pasan saja, terutama untuk mata pelajaran matematika (dulu namanya aljabar), dan mata pelajaran IPA yang banyak angka-angka. Padahal kalau mengerjakan soal dari buku, saya bisa menyelesaikannya dengan baik. Apa pasal? Karena … ya, karena saya sering salah membaca soal yang dituliskan guru di papan tulis. Angka 3 bisa saya baca 8, angka 5 jadi 6 … hiks ๐Ÿ˜ฆ

Saya tahu penglihatan saya mulai kurang tajam sejak kelas 5 SD, dan saya tahu saya harus memakai kacamata untuk membaca jarak jauh. Ayah dan tiga kakak saya memakai kacamata sejak muda. Tapi jaman itu (djaman doeloe … ) anak kecil memakai kacamata sangatlah malu. Bisa menjadi bahan olok-olok. Maka saya keukeuh sumekeuh tidak bilang kepada siapa pun, bahwa saya kesulitan membaca tulisan di papan tulis pada jarak lebih dari 5 meter.


Foto di ijazah SD, belum berkacamata


Sampai suatu ketika di kelas 1 SMP, pada saat ulangan aljabar, saya benar-benar tidak bisa membaca soal yang dituliskan Bu Guru di papan tulis. Saya lalu membaca soal yang dituliskan teman di sebelah saya. Bu Guru rupanya melihat, dan langsung menyuruh saya keluar karena mengira saya menyontek. Semua teman melihat kepada saya dengan pandangan mencemoh. Saya malu sekali, sampai menangis. Ketikaย  Bu Guru bertanya mengapa saya menyontek, saya bilang bahwa saya tidak menyontek, hanya menyalin soal saja karena saya tidak bisa membaca soal di papan tulis …

Peristiwa itulah yang membuat kebandelan saya tidak mau memakai kacamata runtuh. Saya menyerah. Sejak hari itu, kacamata tak pernah lepas bertengger di atas hidung saya, menjadi bagian tak terpisahkan dari wajah manis saya … ๐Ÿ˜€


Tiga foto dengan tiga kacamata berbeda. Foto kiri : ijazah SMP. Itu Tuti apa Toto ya? ๐Ÿ˜› . Foto tengah : ijazah SMA. Kuyuus … ๐Ÿ˜ฆ . Foto kanan : ijazah S1. Lumayaaan … ๐Ÿ˜€


(lebih…)

Read Full Post »

Paket Misterius

Ini kisah nyata, pengalaman pribadi yang membuat saya melongo … ๐Ÿ˜ฎ (jelek amat, nggak eilekhan … *minta ijin pinjam ‘eilekhan’nya Om Nh* )

Gimana saya nggak melongo. Beberapa hari yang lalu, seorang wanita datang ke rumah ibu saya, dan menyerahkan sebuah tas berisi vcd player sambil mengatakan, “Ini punya Mbak Tuti yang penulis … “. Lalu buru-buru pergi mengendarai sepeda motor. Kakak saya, yang nggak sempat menanyakan siapa dirinya, menerima saja vcd player itu. Esoknya, vcd player itu diantarkannya ke rumah saya.

Saya tentu saja terheran-heran, karena vcd player itu bukan milik saya. Saya bahkan belum pernah melihat vcd player seperti itu *jujur-kampungan*. Kakak saya ikut terheran-heran. Aneh sekali. Siapa gerangan wanita ini, yang memberikan sesuatu yang bukan milik saya? Lagi pula, sangat aneh mengapa ia mengantarkannya ke rumah ibu saya, padahal saya sudah lebih dari dua puluh tahun tidak lagi tinggal di rumah itu.


Inilah vcd player misterius itu …


(lebih…)

Read Full Post »

Sahabat Maya

Sahabat bisa kita temukan di mana-mana : di dunia nyata maupun di dunia maya. Bahkan, sahabat yang awalnya hanya kita kenal di dunia maya, pada akhirnya bisa juga menjadi sahabat di dunia nyata. Ajaibnya, sahabat di dunia maya ada kalanya lebih akrab dibanding teman yang sudah sekian lama ada di sekeliling kita di dunia nyata. Mengapa demikian? Karena di dunia maya (khususnya di blog) kita bisa mengenal aktivitas, karakter, pemikiran, sampai perasaan seseorang lewat tulisannya, sementara di dunia nyata belum tentu kita bisa berbicara seleluasa itu dengan seorang teman.

Tidak semua orang mau membuka jati dirinya di dunia maya. Banyak yang menjaga ketat privacynya, sehingga orang tidak tahu siapa nama aslinya, dimana dia tinggal, apa profesinya, boro-boro foto dirinya. Sebaliknya, ada juga yang tampil bak rumah kaca, setiap orang bisa melihat foto wajahnya (yang bahkan berganti setiap minggu … ๐Ÿ™‚ ), tahu apa profesinya, mengenal keluarganya sampai ke pembantu, binatang peliharaan, tetangga, dan teman-temannya. It’s okay, adalah hak setiap orang untuk menentukan sampai seberapa jauh dia membuka dirinya di dunia maya.

Saya sendiri merasa tidak ada yang perlu saya sembunyikan tentang diri saya. Foto saya bertebaran dengan narsisnya (maaf jika membuat teman-teman mules … ๐Ÿ˜€ ). Pekerjaan saya jelas. Umur saya semua orang tahu. Saya bersuami dan tidak punya anak. Tapi memang ada yang tidak saya buka, yaitu alamat rumah dan nomor henpon. Bukan apa-apa, takut saja bakal sering dapat kiriman kue (ya’olooh … ge-er powl ๐Ÿ˜ฎ ), kan bisa bikin saya tambah endhut …ย  hihi ..


Narsis lageee …. ๐Ÿ˜€


(lebih…)

Read Full Post »