Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Dance’ Category

Menari Bersama Bintang

Mulai bulan Maret kemarin, setiap Malming saya punya acara baru yang tidak bisa diganggu-gugat : nonton Dancing With The Stars. Acara ini ditayangkan Indosiar, merupakan kerjasama dengan BBC Worldwide dari program asal bernama Strictly Come Dancing. Menurut Wikipedia, hingga November 2010 program ini sudah dibeli lisensinya oleh 32 negara (sekarang pastinya sudah bertambah).

DWTS adalah kompetisi dansa yang diikuti oleh 12 pasangan selebriti/public figure dengan seorang professional dancer, terdiri atas 6 pasangan selebriti pria dengan professional dancer wanita, dan 6 selebriti wanita dengan professional dancer pria. Mereka berkompetisi dengan sistem eliminasi, hingga di babak grand final tersisa 3 pasang penari. Ada dua jenis tarian yang dikompetisikan, yaitu Ballroom Dance (Waltz, Quickstep, Tango, Slow Foxtrot, Viennese Waltz) dan Latin Dance (Chacha, Rhumba, Jive, Samba, Paso Doble). Seru … ūüôā


Foto dipinjam dari sini

(lebih…)

Read Full Post »

30 Jam Untuk 3 Menit

MEMBANTING TULANG, MEMUNTIR OTOT, MEMERAS KERINGAT

Posting ini tidak ada hubungannya dengan¬†mabuk 300 jam , meskipun sama-sama berbasis angka 3 …..

Beberapa waktu yang lalu saya nonton acara Kick Andy yang menampilkan grup cheerleader Indonesia. Saya berdecak kagum melihat penampilan cheerleaders ini, yang dengan sangat indah melakukan gerakan-gerakan sulit seperti salto, split, melempar tubuh seorang pemain ke udara dan menangkapnya dengan akurat. Saya membayangkan alangkah keras, lama, dan melelahkan latihan yang mereka jalani untuk bisa menampilkan atraksi seperti itu.

Sebuah pertunjukan yang bagus tak muncul begitu saja. Permainan sulap yang hanya berlangsung dalam beberapa detik itu (makanya kalau ada sesuatu yang berubah dengan cepat, orang bilang ‘disulap’ … ) membutuhkan latihan puluhan bahkan mungkin ratusan jam. Itulah sebabnya saya selalu mengapresiasi sebuah penampilan, betapapun sederhananya, karena dibutuhkan latihan yang menguras waktu, energi, pikiran, dan juga emosi, untuk menampilkan sebuah atraksi seni, olah raga, ataupun yang lainnya.

Pada saat berlatih, seorang atlet ataupun pekerja seni harus bersungguh-sungguh mengerahkan segenap kemampuannya. Sangat salah jika ada pikiran¬† ‘ah, kan baru latihan … ntar aja kalau tampil beneran’. Berbagai faktor seperti sorotan mata penonton, arena dengan situasi yang berbeda dengan tempat latihan, serta beban psikologis (terutama jika tampil dalam sebuah kompetisi), seringkali membuat performance hanya mencapai 80% dari saat latihan. Nah, jika pada saat latihan hanya mengeluarkan 75% dari kemampuan yang sesungguhnya, bisa dipastikan pada saat tampil performance akan jauh dari maksimal.

Tampil dalam sebuah grup lebih sulit daripada tampil solo, karena dalam sebuah grup dibutuhkan kerjasama dan kekompakan. Kesalahan yang dibuat oleh salah satu pemain bisa merusakkan penampilan keseluruhan tim. Bayangkan jika dalam sebuah atraksi tim cheerleaders ada salah satu pemain yang salah posisi atau kurang cepat bergerak sehingga pemain yang lain jatuh berdebum, sudah pasti atraksi mereka hancur berantakan. Bermain dalam tim juga menanggung beban psikologis lebih berat, sebab jika melakukan kekeliruan, akan timbul rasa bersalah kepada pemain yang lain.


Berapa jam latihan yang diperlukan untuk bisa menampilkan atraksi seperti ini? (foto : Wikipedia)

(lebih…)

Read Full Post »

INCREDIBLE ARTS PERFORMANCE!

Warning :

Posting ini berisi sangat banyak foto. Saya juga mengkhianati komitmen saya semula untuk membatasi tulisan sekitar 1.000 kata. Posting kali ini cukup panjang, 2.900 kata. Jadi kalau anda berniat serius membacanya (terimakasih jika bersedia menyiksa diri demikian), matikan dulu kompor di dapur, tutup kran air, kandangkan ayam-ayam serta kambing yang berkeliaran di dalam rumah (hah??!), dan siapkan secangkir kopi di tangan (nggak boleh sama rokok ya … )


Rabu, 7 Oktober 2009

Kegagalan saya yang tragis untuk menonton kirab budaya pada hari Rabu sore (kisah lengkapnya di sini ) membuat saya bertekad untuk sukses nonton Jogja International Performing Arts Festival 2009 (JIPA Fest 2009) pada malam harinya. Festival akbar ini sudah dimulai pada malam sebelumnya, yaitu tanggal 6, tapi saya baru membaca liputannya di koran pada tanggal 7 pagi. Lagi-lagi telat informasi ….

JIPA Fest 2009 dilaksanakan di gedung Societet Art Hall Taman Budaya Yogya, yang terletak di sebelah timur Taman Pintar. Ini gedung kuno peninggalan Belanda yang sudah direnovasi. Di sebelah selatan gedung Societet terdapat gedung baru yang lebih besar, yaitu Concert Hall.

Malam pertama (yang tidak sempat saya tonton itu) menampilkan pantomimer kawakan Jemek Supardi dari Yogya dan tari Kinanti Sekar Rahina. Dari luar negri, tampil Andrea K. Schlehwein (Austria), Nam Jeong Ho (Korea) dan Kazeo Takemoto (Jepang). Karena nggak nonton, saya nggak punya otoritas untuk cerita.

Pada malam kedua, acara dibuka oleh Bimo Dance Theater dari Yogya. Kelompok seni ini mengawali pertunjukannya dengan menampilkan musik perkusi yang dimainkan oleh empat orang. Gebukan gendang menghentak dalam irama yang dinamis, dan mendapat applaus meriah dari penonton.


IMG_2279

Dua di antara empat pemain musik perkusi yang mengawali tampilan Bimo Dance, dan terus mengiringi sepanjang tarian

Saya benar-benar dibuat terpukau oleh tarian yang menyusul kemudian. Sejumlah penari perempuan dan laki-laki tampil di panggung dalam komposisi gerakan yang luar biasa indah. Enerjik, full power, tapi sangat lentur dan indah. Gerakannya adalah perpaduan dari tari Jawa klasik dan tari modern. Kostum yang simpel, tanpa aksesori apa pun, justru menonjolkan olah tubuh prima para penari. Ada seorang penari kecil yang lucu, aneh, sekaligus menakutkan, karena gerak dan penampilannya seperti wewe, hantu perempuan bermuka tembok yang sangat dikenal di kalangan masyarakat Jawa.


IMG_2285

‘Wewe’ kecil ini gerakan tubuh dan tarikan wajahnya sangat ekspresif …

(lebih…)

Read Full Post »

Ultimate Beauty

LET’S GO DANCING!

Keindahan yang terindah. Itulah yang saya temukan ketika menyaksikan dansa ballroom.  Musik yang indah, gaun dancer wanita yang mempesona, dan ayunan langkah yang mengagumkan.

Tanpa sedikitpun mengurangi rasa cinta saya pada budaya nasional, saya mencintai tari yang berasal dari sono ini. Semata-mata karena keindahan dan tekniknya yang tinggi. Jadi please jangan dihubungkan kecintaan saya ini dengan nasionalisme, okay?

Untuk ke sekian kalinya, saya memanajeri (halah!) tiga keponakan saya untuk ikut serta dalam 1st Surabaya International Dancesport Championship 2009 yang berlangsung tanggal 11 Juli lalu. Ini adalah kompetisi yang cukup besar, karena pesertanya berjumlah sekitar 170 orang yang berasal dari 14 negara, dengan 21 juri yang berasal dari 10 negara.

Iin dan Nadi turun dalam kategori dansa Latin untuk jenis dansa ChaChaCha dan Rumba, pada kelas Beginner. Sedangkan Aan dan Dhany berlaga (haiyah, emang ayam jago?) dalam kategori dansa Ballroom, atau disebut juga Standart, untuk jenis dansa Waltz dan Quickstep, pada kelas Beginner juga. Dalam kompetisi dansa, ada pembagian kelas-kelas mulai dari Beginner (pemula), Novice, Juvenile, Junior, Senior, Pro-Amateur, Rising Star, dan Professional. Kelas Pro tentu saja adalah kelas tertinggi, dan dansanya sudah benar-benar hebat.


IMG_1461

Aan dan Dhany dalam dansa Waltz. Awaas …. keseleo punggungnya! Senyum dan mengerling penonton jangan lupa …

(lebih…)

Read Full Post »

KE SEMARANG KITA BERDANSA …

Kompetisi lagi, berjuang lagi, menang lagi …

Semarang Open 2008 Dancesport Championship dilaksanakan pada tanggal 1 November 2008 di Ambassador Semarang Plaza. Tiga keponakan saya : Iin, Aan, dan Dhany, sudah sejak beberapa bulan sebelumnya jungkir balik berlatih. Dua minggu menjelang kompetisi, hampir setiap hari mereka mandi peluh di sanggar, berlatih keras hingga habis napas …

Aan berpasangan dengan Dhany akan menguji diri dalam nomor Medal Test Ballroom/Standard Category dan Medal Test Latin Category, sedangkan Iin berpasangan dengan Nadi akan bertanding dalam nomor Novice Latin Category. Medal Test adalah category paling bawah, baru menilai kemampuan teknik dasar. Sedangkan Novice adalah category yang lebih tinggi, sudah melihat improvisasi dan kerumitan koreografi. Musik yang dipakai di Novice juga lebih cepat dan sulit, sehingga atlet (dancer) yang belum piawai bisa terjebak dalam off beat, yang sudah pasti bakal langsung dicoret para juri.

Kostum sudah jauh-jauh hari disiapkan. Untuk membuat pakaian dansa, ada penjahit khusus yang menjadi langganan para dancer di Yogya. Memang tidak semua penjahit bisa membuat pakaian jenis ini. Selain bahannya harus strecht, garis potongan harus pas di badan, namun tidak menghalangi gerak. Saya selalu takjub melihat gaun dansa yang dipakai para dancer dalam kompetisi-kompetisi. Indah, penuh detil yang rumit, seperti sayap kupu-kupu yang berwarna-warni.

147 Gaun dansa biru yang mempesona

(lebih…)

Read Full Post »

Dansa Yuk Dansa ….

DEWAN JURI YANG TERHORMAT …. INILAH CHA CHA !

Setelah mengalami pengunduran waktu dan perubahan tempat, akhirnya Kompetisi Dansa yang diadakan oleh IODI Kabupaten Sleman dengan peserta se-DIY berhasil terlaksana pada hari Minggu, 4 Mei 2008. Jenis dansa yang dikompetisikan adalah dansa Latin (Cha Cha, Rumba, Samba, dan Jive), dengan kategori “Medal” dan “Beginner” untuk dansa couple dan line dance group.

Sebagaimana biasa, sebelum kompetisi dimulai, terlebih dahulu dilakukan floor test. Kesempatan ini sangat perlu dimanfaatkan peserta, selain untuk merasakan licin-kesatnya lantai dansa, mencoba musik yang akan dipakai (jangan-jangan CD nggak bisa diputar, kan gawat …), juga untuk ‘mengintip’ persiapan rival bertanding. Ketika mengikuti kompetisi internasional di Jakarta, dua keponakan saya Aan dan Iin baru pertama kali ikut bertanding. Pada waktu floor test, melihat dancer dari Philipina, Singapura dan Hongkong yang rrruaarrr biasa hebat, mereka hampir menangis karena kecut hati dan ciut nyali. Untung akhirnya semangat mereka bisa bangkit, dan berhasil mendapatkan sertifikat meskipun hanya sebagai Pemenang Harapan.

Setelah floor test, tahap berikutnya adalah inspeksi kostum. Pakaian yang akan dikenakan atlet dicek dulu oleh panitia, dan harus memenuhi persyaratan. Sebegitu pentingkah kostum ini pada event kompetisi? Oh ya! Pada kompetisi internasional, banyak pedansa Latin yang mengenakan busana ‘minimalis’, hampir memperlihatkan seluruh tubuhnya. Di Indonesia, terutama di tingkat daerah, busana diatur dengan ketat. Kostum pedansa wanita tidak boleh memperlihatkan punggung, harus berupa gaun terusan (sehingga perut mustahil kelihatan), tidak boleh sama dengan warna kulit (karena akan kelihatan seperti tanpa pakaian), dan seterusnya. Ini aturan yang sangat bagus, untuk menjaga agar dansa tidak diasosiasikan sebagai olahraga yang menonjolkan sensualitas.

(lebih…)

Read Full Post »

It’s Tango, Dear …

Tango termasuk dalam jenis dansa ballroom. Stepnya perpaduan antara slow dan quick. Gerakan putaran kepala yang menyentak¬† menjadi ciri khas dari dansa ini. Ada ritme sedikit berderap pada musik berirama Tango. Pokoknya asyik …..

Tango berasal dari Buenos Aires, Argentina, yang diciptakan oleh para imigran dari Eropa. Beberapa teori mengatakan bahwa kata ‘tango’ berasal dari bahasa Latin ‘tangere’ yang berarti ‘menyentuh’. Teori lain mengatakan ‘tango’ berasal dari bahasa Perancis ‘tanguer’ yang berarti ‘berayun’.

Ada pepatah di Argentina yang mengatakan bahwa  orang-orang Buenos Aires adalah orang Italia yang berbahasa Spanyol, berpikir secara Inggris, dan berorientasi ke Perancis. Masyarakat kelas atas di Buenos Aires selalu menginginkan untuk pergi ke Eropa, terutama Perancis. Pada akhirnya, mereka memang menyebarkan dansa tango ke ruang-ruang dansa (ballroom) di Paris.

Di London, tango ditampilkan oleh George Grossmith dan Phyllis Dare pada pentas musikWest End, The sunshine Girl, pada tahun 1912. Pada tahun 1914 tango ditampilkan di hadapan Queen Mary pada pesta untuk menghormati Grand Duke Michael of Russia.

Tango juga muncul dalam film-film, dipelopori oleh Carlos Gardel. Dua penari yang sukses mempolerkan tango melalui film adalah Fred Astaire dan Ginger Rogers dalam film “Flying Down to Rio” yang diproduksi pada tahun 1933. Adapun Bernardo Bertolucci membuat film “Last Tango in Paris” pada tahun 1972.

Read Full Post »

Older Posts »