Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Kontemplasi’ Category

Ulang tahun selalu menjadi hari istimewa bagi siapapun juga. Bagaimana cara seseorang memperingati hari ulang tahunnya? Sudah pasti macam-macam. Pada umumnya dengan makan bersama, atau lebih meriah lagi dengan pesta. Tapi saya pernah menjumpai seseorang memperingati hari ulang tahunnya dengan cara yang sangat istimewa, yaitu dengan memberi kado kepada ibundanya. Mengapa justru ibu yang diberi kado? Ya, bukankah pada saat seseorang lahir, ibu adalah orang yang paling berjasa dan berjuang paling keras menghantarkan sang bayi hadir ke dunia? Wanita istimewa yang memiliki cara istimewa untuk merayakan ulang tahun ini adalah Uni Icha , istri tercinta Uda Vizon.

Saya sendiri biasanya memperingati ulang tahun dengan cara sederhana : makan bersama orang-orang terdekat. Oh ya, ulang tahun saya adalah tanggal 10 Mei kemarin. Bagi teman-teman yang belum tahu, masih terbuka kesempatan untuk mengucapkan selamat dan mengirim doa loh …  (apalagi mengirim kado … hahaha 😛 ).

Tahun ini, saya merasa sudah bukan waktunya lagi memperingati ulang tahun dengan bersenang-senang. Dengan semakin bertambahnya usia, saya ingin memperingati hari kelahiran dengan cara yang lebih ‘kontemplatif”, lebih berupa penghayatan rasa syukur atas hidup yang telah diberikan Allah SWT. Merefleksi kembali apa yang sudah saya lakukan bagi sesama. Ya iyalah, mosok sudah tambah tua kok masih tetap pecicilan 😛

Yang pertama-tama, saya menziarahi makam ayah dan bunda saya, orang-orang tercinta yang telah menjadi perpanjangan tangan Allah menghadirkan saya ke dunia.


Di sinilah ayah dan bunda saya beristirahat bersama …

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Perfect Life

Kapankah hidup dikatakan sempurna? Jika kita memiliki pernikahan yang hebat, anak-anak yang sukses, karier yang melejit, kesehatan yang prima, dan materi berlimpah? Siapapun pasti akan setuju, setiap orang mengidamkan kehidupan seperti itu. Dan bahwa itu adalah hidup yang sempurna, yes indeed. Tetapi apakah hidup yang sempurna harus memiliki semua hal di atas? Jika ya, berapa banyak manusia di muka bumi ini yang beruntung memilikinya?

Kesempurnaan hidup bisa berbeda ukurannya bagi setiap orang. Kehidupan yang di mata orang lain terlihat menyedihkan, bisa jadi oke-oke saja bagi yang menjalaninya. Sebaliknya, seseorang yang tampak memiliki segalanya, belum tentu merasa hidupnya sempurna.

Jadi, dimanakah letak kesempurnaan itu?

Barangkali, ada di dalam keikhlasan hati. Ketika seseorang ikhlas menerima dan menjalani hidupnya, disitulah ia merasakan kesempurnaan hidup. Maka, kesempurnaan hidup bisa dimiliki oleh siapapun juga, dalam kondisi seperti apapun juga ….



Hari Sabtu yang lalu, saya berkumpul dengan tiga orang teman wanita. Usia kami sebaya, tetapi dengan latar belakang yang aneka rupa. Satu orang memiliki pernikahan yang bahagia, satu orang menikah tapi acap merasa kecewa dengan pernikahannya, satu orang dalam proses divorce setelah menikah selama 22 tahun, dan satu orang lagi belum menikah. Satu orang berprofesi financial consultant, satu orang wartawan senior, satu orang manager perusahaan bahan kimia, dan yang satu orang lagi adalah dosen. Komposisi yang hebat, bukan? Bak empat wanita dalam serial “Se* And The City” … haha! 😀


Jika empat perempuan matang (mangga ‘kali … 🙂 ) berkumpul dan bicara dari jam tujuh malam sampai jam satu dini hari, apa yang dibicarakan? Sudah pasti tentang hidup dan aneka permasalahannya. Dari pembicaraan itulah muncul perenungan saya tentang kesempurnaan hidup.

Orang dengan mudah ‘menuduh’ wanita yang tidak menikah pasti hidupnya sedih, kesepian, sengsara. Demikian juga wanita yang bercerai pantas ‘dicurigai’ hidupnya amburadul, berantakan, dan penuh penderitaan. Pada kenyataannya, tidak selalu demikian. Teman saya yang tidak menikah menjalani hidupnya dengan happy, santai, dan penuh kebahagiaan. Teman saya yang memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya merasa hari-harinya ringan, penuh harapan, dan lega luar biasa.

Pada umumnya, perempuan lebih tough menghadapi permasalahan hidup. Perempuan lebih tangguh menghadapi gempuran persoalan. Perempuan juga lebih siap untuk menjalani hidup sendirian. Mengapa? Mungkin karena perempuan suka menjalin kebersamaan dengan orang lain, perempuan suka berbagi dan saling mendukung. Perempuan mudah berbagi perasaan dan beban hati dengan berbicara kepada sesama perempuan, hal yang jarang dilakukan oleh pria.

Perempuan memiliki perasaan yang lebih lembut. Perempuan gampang menangis. Tetapi kelembutan hati dan air mata itu bukan berarti perempuan lemah.



Hidup memang beraneka ragam. Tak selalu sempurna. Lagipula, apakah hidup memang harus sempurna?


Read Full Post »

Setelah umat Islam di Indonesia ‘tersenyum’ dengan jatuhnya Hari Raya Idul Fitri 1431 H (2010 M) pada tanggal yang sama, Hari Raya Idul Adha tahun ini kembali dirayakan pada tanggal yang berbeda. Sebagian sudah sholat Ied pada tanggal 16 November, sebagian lagi baru pergi ke masjid pada tanggal 17. Penyebab perbedaan ini, sebagaimana pernah saya ulas di “Minggu Atau Senin” adalah perbedaan cara penentuan tanggal, yaitu dengan cara hisab dan rukyah.

Ada satu artikel menarik yang saya baca di harian Kompas (16 November), yang membuka wawasan baru bagi saya, sehingga ingin saya share di sini. Bagi teman-teman yang sudah sempat membacanya juga, mungkin bisa ikut urun pendapat.

Selama ini, ternyata banyak dari kita (khususnya saya … 🙂 ) yang mencampur adukkan antara sistem kalender Masehi yang berdasarkan peredaran bumi mengelilingi matahari, dengan sistem kalender Hijriyah yang berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi. Tanggal (dan perbedaan waktu) pada sistem kalender Masehi ditentukan berdasarkan garis bujur, yaitu garis yang menghubungkan Kutub Utara dan Kutub Selatan, dengan titik nolnya di Greenwich (Inggris). Indonesia terletak di Bujur Timur, sehingga kita melihat matahari lebih dahulu daripada orang Inggris. Waktu Indonesia (untuk WIB) lebih cepat 7 jam dari Greenwich, dan lebih cepat 4 jam dari Makkah (Arab Saudi).

Nah, jika dihitung dengan sistem kalender Hijriyah, perbedaan waktu itu tidak mengikuti garis bujur, melainkan mengikuti garis ketinggian hilal 0 derajad. Ohya … hilal adalah kenampakan bulat sabit pertama, yang menandakan awal bulan baru. Menurut logika kalender Masehi, waktu di Indonesia selalu lebih dulu 4 jam dari waktu di Makkah, sehingga kalau Arab Saudi sudah merayakan Idul Adha, maka Indonesia seharusnya juga sudah. Tetapi berdasarkan garis ketinggian hilal yang dipakai sebagai dasar pada kalender Hijriyah, waktu Arab Saudi  dan waktu Indonesia bisa sama, lebih cepat, atau lebih lambat.


Garis bujur (vertikal bengkok-bengkok) yang memisahkan tanggal 6 November 2010 dan 5 November 2010, dan garis ketinggian hilal 0 derajad yang melintang di atas Indonesia, Asia selatan dan Afrika utara (foto : Kompas)


Dari gambar di atas terlihat bahwa dua tempat yang terletak di garis bujur yang sama, yang menurut sistem kalender Masehi memiliki waktu sama, dalam sistem kalender Hijriyah bisa memiliki waktu yang berbeda. Garis kalender Hijriyah memiliki 235 variasi yang berbeda setiap bulannya. Garis penanggalan bulan ini akan kembali ke tempat yang sama dalam kurun sekitar 19 tahun. Satu lagi yang berbeda, kalender Masehi dimulai sesudah tengah malam (jam 00.00), sedangkan kalender Hijriyah dimulai sesudah matahari tenggelam.

Rumit? Sebenarnya menarik, bagi yang suka Astronomi (seperti saya … 😀 ). Tapi supaya teman-teman tidak keburu hengkang dari posting ini karena bosan, iya deh … saya sudahi saja penjelasan tentang sistem kalender Masehi dan Hijriyah (yang sebetulnya baru sekelumit).

 

Orbit bumi, bulan, dan matahari (foto : dipinjam dari sini)

Bulan sabit di atas ufuk (foto : dipinjam dari sini)

(lebih…)

Read Full Post »

Berbagi Hati, Berbagi Harta

Jika Anda berlebih dalam harta, bagilah kesejahteraan Anda. Bila Anda hanya punya sedikit, berikanlah hati Anda. Tetapi entah banyak atau sedikit, berikanlah dengan cinta Anda (E. Crique)

Uang receh yang engkau jatuhkan ke dalam tangan-tangan rapuh yang terulur di hadapanmu adalah satu-satunya rantai emas yang mengikat hatimu yang mulia dengan hati Tuhan yang penuh cinta (Kahlil Gibran)



Ketika kita memberi dengan hati, siapakah sesungguhnya yang lebih berbahagia? Kita, atau orang yang menerima pemberian kita? Pasti dua-duanya. Memberi dengan hati akan membuat kita bersyukur, dan menerima pemberian yang diberikan dengan hati akan membuat sanubari penuh rasa terimakasih. Memberi kepada orang yang kita cintai, yang dekat dengan kita, adalah baik tapi biasa. Memberi kepada orang yang tidak kita kenal, tanpa perlu menyebutkan jati diri kita, itulah pemberian yang mulia. Tangan yang memberi seringkali dilukiskan dengan ‘tangan di atas’ dan tangan yang menerima digambarkan dengan ‘tangan di bawah’, padahal sesungguhnya tangan yang memberi tidak harus selalu berada di atas. Bukankah kita bisa memberi dengan tangan tengadah, dan mempersilahkan orang mengambilnya dari tangan kita? Dengan demikian tangan kita tidak berada di atas tangan penerima pemberian kita …


(lebih…)

Read Full Post »

Tim Kecap Ikan Patin

Helloow ….. 😀

Senang sekali teman-teman masih mau mampir ke beranda ini. Sejujurnya, saya merasa khawatir beranda ini terlihat mulai suram, membosankan, old fashioned, out of date, dan out-out lainnya 😦  . Saya masih belum dalam kondisi bebas dari sandera, masih belum memiliki keleluasaan penuh untuk bercengkerama di beranda saya. Kesediaan sahabat-sahabat untuk menjadi tamu saya di beranda ini, dengan sajian yang masing-masing memiliki keistimewaannya sendiri, sungguh membuat saya terharu dan berterimakasih ….

Kali ini tamu saya adalah wanita cantik yang sudah malang melintang di jagad maya, baik blog, facebook, maupun twitter. Tulisannya selalu menyentuh relung hati kita, membuat kita merenung, berpikir ulang, dan menemukan kesadaran baru dalam perspektif yang berbeda. Ia selalu bicara tentang hati dan pikiran manusia, yang kadang sederhana, namun ternyata tak terduga, dan seringkali menyimpan rahasia.

Bukunya, “The Blings of My Life” mendapat sambutan yang sangat bagus dari masyarakat. Tutur kalimatnya yang mengalir lembut dan indah, sekaligus penuh tenaga dan kaya warna, adalah kekuatan tulisan Lala Purwono yang selalu membuat saya iri … (dalam arti positif pasti 🙂  ). Jeung Lala memang dilahirkan sebagai penulis, mewarisi bakat almarhum papanya yang juga seorang penulis.



Lala Purwono, cantik, ceria, mempesona dengan kata …


Lala, sudah masakkah ikan patinnya? Oke, mari kita duduk dan menikmatinya bersama-sama. Suap demi suap, sampai remah terakhir. Jika masih kurang, tidak dilarang untuk menjilati kuah yang tertinggal di jari … 🙂

…………

(lebih…)

Read Full Post »

Hilang

PELAJARAN TERBAIK : IKHLAS

Apa yang terjadi pada diri kita, jika tiba-tiba kita menyadari bahwa tas, laptop, mobil, atau barang berharga kita lainnya telah raib, lenyap dari tempat di mana seharusnya benda tersebut berada, dengan kemungkinan besar dicuri orang? Kaget, panik, mungkin untuk sekejap jantung berdegup kencang dan pikiran serasa blank. Begitu juga jika tiba-tiba saja kita mengalami kecelakaan, entah tabrakan kendaraan, jatuh dari suatu tempat, atau musibah yang lain.

Sesudah rasa kaget dan panik itu reda, maka yang muncul biasanya adalah penyesalan. Coba tadi begini, kalau saja tadi begitu, pasti musibah tidak terjadi. Rasanya kita ingin sekali membalik waktu, dan akan melakukan hal yang lebih baik, lebih benar. Tetapi waktu tidak pernah berjalan mundur, tidak pernah bisa di-rewind. Beberapa detik yang mengakibatkan kerugian dan kehilangan besar itu tak bisa lagi dikoreksi.

Ketika mengalami musibah, reaksi seperti apa yang kita harapkan dari orang-orang di sekitar kita? Sudah pasti dukungan moril, penghiburan, dan simpati. Tasmu yang berisi uang dijambret orang? Ya sudahlah, toh pabrik tas masih terus berproduksi dan kamu bisa beli tas yang lain, lagipula tabunganmu masih numpuk uwel-uwelan di bawah kasur sampai jamuran. Mobilmu remek nabrak sepur? Ah, nggak apa-apa … yang penting bukan sepurnya yang remek … eh, bukan badanmu yang remek

Tapi, ada kalanya reaksi yang diberikan orang justru membuat kita semakin sedih, bahkan kesal dan sesak hati. Ada kalanya, tanpa sadar kita sendiripun suka memuaskan nafsu kita dengan memberikan respon yang negatif.  Apa aku bilang …. kamu sih, suka sembarangan! Makanya, ati-ati kalau nyimpen barang! Ini pelajaran buat kamu, lain kali jangan sembrono! Pasti sedekahmu kurang, jadi Tuhan mengambilnya dengan cara seperti ini! Bla bla bla … tet teretetet …!

Beughh!!

Padahal, tanpa disalah-salahkan, tanpa dituding-tuding, tanpa dijebles-jebleskan pun, kita sudah menyesal setengah mati. Memangnya ada orang lain yang lebih sedih dan menyesal, ketika diri kita mengalami musibah?

*haiyyah …  saya ngomong apa sih?*

(lebih…)

Read Full Post »

Jiwa-jiwa Yang Retak

MEREKA HIDUP DI ALAM MEREKA SENDIRI

Waktu saya kecil dulu, di dekat rumah saya tinggal seorang wanita cantik, sebut saja Den Ayu . Ia dikaruniai wajah cantik dan kulit bersih, tetapi jiwa dan pikirannya kosong. Saya tidak tahu apa penyebabnya, yang jelas dia sakit jiwa, pikirannya tidak normal, dan dia tidak memiliki kemampuan mengontrol perilakunya.

Kami, saya dan anak-anak kecil di kampung, suka menggoda Den Ayu. Kami memanggil-manggil namanya, lalu berteriak bersama-sama : “Den Ayuu … buka tokooo… !!”. Maka Den Ayu pun akan membuka ‘toko’nya, yaitu mengangkat roknya hingga setinggi pinggang. Padahal … Den Ayu tak pernah memakai apa-apa dibalik roknya ….

Setelah Den Ayu ‘membuka toko’, anak-anak akan tertawa berderai-derai dan bersorak-sorak ….

Puluhan tahun kemudian, detik ini, ketika menulis posting ini, saya menangis. Alangkah jahatnya perilaku kami waktu itu. Alangkah buruknya moral kami! Den Ayu, maafkan kami, maafkan kami, maafkan kami ….. Saya tak bisa minta maaf langsung kepadanya, karena wanita malang itu sudah lama berpulang. Saya berdoa, semoga Allah memberi ia tempat yang terbaik di sisiNya …

Saya tak tahu, mengapa pada waktu itu tidak ada yang menegur atau mengajarkan kepada kami, anak-anak, bahwa kita tidak boleh memperlakukan orang sakit jiwa dengan buruk. Orang tua saya, juga orang tua teman-teman saya, memang tidak tahu kelakuan nakal kami, tetapi mereka tahu tentang keberadaan Den Ayu, dan semestinya mengajarkan kepada kami bagaimana seharusnya memperlakukan orang yang sakit seperti dirinya. Kenyataannya, masyarakat justru menjadikan orang sakit jiwa sebagai bulan-bulanan : ditonton, dihina, ditertawakan, dipermainkan, meskipun juga ditakuti kalau dia mulai mengamuk.

Apa yang terjadi dengan nurani kita?

Padahal, penderita sakit jiwa adalah manusia juga. Sakit jiwa adalah ciptaan Tuhan juga. Jika kita menghina mereka, bukankah sama saja kita menghina Tuhan? Mereka adalah insan-insan yang malang, yang menderita sakit bukan karena kemauan atau kesalahan mereka sendiri. Seharusnya kita, orang-orang yang waras ini, mengasihani, mengasihi, dan melindungi mereka.


Sosok malang yang kehilangan kesadaran atas dirinya (foto : Mira Chandra, dipinjam dari sini )

(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »