Feeds:
Pos
Komentar

Dear friends …

Pacitan, sebuah kota kecil di pantai selatan Jawa Timur, menjadi ‘penting’ semenjak salah satu putra daerahnya, Susilo Bambang Yudoyono, menjadi orang pertama di negeri ini. Kondisi alam Kabupaten Pacitan berupa pegunungan kapur yang kurang cocok ditanami padi, sehingga pertanian di sana lebih didominasi tanaman singkong. Pegunungan kapur ini menciptakan banyak goa indah seperti Goa Gong, Goa Tabuhan, Goa Kalak, Goa Luweng Jaran, dan banyak goa-goa lainnya, diduga merupakan komplek goa terluas di Asia Tenggara. Di wilayah ini banyak ditemukan fosil-fosil purba. Pacitan juga memiliki pantai-pantai yang indah, seperti Pantai Teleng Ria, Pantai Klayar, Pantai Srau, Pantai Pasir Putih, dan pantai-pantai lain yang belum banyak dikenal.

Goa Gong dan obyek-obyekwisata lain Pacitan (foto dipinjam dari sini)

Goa Gong dengan stalagtit dan stalagmit yang merupakan ciri khas goa kapur (foto dipinjam dari sini)

Pacitan juga sempat terkenal karena seorang artis sinetron sensual yang banyak menghiasi layar infotainment dengan berita-berita heboh pernah mencalonkan diri menjadi bupati pada pilkada kemarin. Meskipun konon sudah menyiapkan dana sebesar 7 milyar (waooo …. ) untuk pilkada ini, Jupe akhirnya mundur dari pencalonan. Yeah, lebih enak jadi artis daripada jadi pejabat ‘kali … ๐Ÿ™‚

Si Mbak berkampanye di Pondok Pesantren, jadi berbusana sopan ๐Ÿ™‚ (foto dipinjam dari sini)

Dalam perjalanan pulang dari wisata ke Jawa Timur lalu, saya berniat mampir ke Pacitan. Tapi karena sudah kemalaman, dan jalan dari Ponorogo menuju ke Pacitan cukup berbahaya (apalagi pada waktu malam), akhirnya saya memutuskan untuk pulang lewat Wonogiri. Nah, tanpa diduga tanpa dinyana, pada saat yang hampir bersamaan ternyata Pak Eko Atmadji, penggemar setia sobat baik saya, melakukan penjelajahan ke pantai-pantai di Pacitan dan berbaik hati mengirimkan kisahnya untuk teman-teman semua.

EE Couple : Pak Eko dan Bu Endang

Yuk kita ikuti kisah perjalanan EE Couple ini … ๐Ÿ™‚

……………..

Lanjut Baca »

Iklan

Keluar dari kota Malang, tujuan pertama kami adalah ke Bendungan Karangkates, yang sekarang disebut Bendungan Sutami, mengambil nama Menteri Pekerjaan Umum RI tahun 1964 – 1978. Beliau adalah pakar teknik sipil lulusan ITB, yang ikut merancang Gedung DPR/MPR dan Jembatan Semanggi di Jakarta, juga Jembatan Ampera di Palembang. Hebat beliau ini. Saya merancang jembatan di atas kolam ikan saja belum pernah ๐Ÿ˜€

Bendungan yang airnya berasal dari Sungai Brantas ini dibangun oleh pemerintah tahun 1975-1977 dengan dana sekitar US$37,97 juta atau Rp.10.093 milyar (tahun 75-an, uang segitu banyak bangeet … ๐Ÿ˜ฎ ) untuk dijadikan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).ย Bendungan Karangkates memiliki kapasitas terpasang 3×35 megawatt (MW) dan mampu memproduksi listrik sekitar 400 juta kwh per tahun, yang menjadi sumber daya listrik untuk wilayah Jawa – Bali. Lokasinya di tepi jalan raya Malang-Blitar, sekitar 35 kilometer di sebelah selatan Kota Malang.

PLTA Brantas untuk wilayah Jawa – Bali

Selain dimanfaatkan sebagai PLTA, Bendungan Karangkates juga menjadi taman wisata dan wahana rekreasi air. Tetapi pada saat ini kondisinya benar-benar mengenaskan. Tidak terawat dan kotor bukan main. Sampah bertebaran dan teronggok di jalan utama menuju ke pinggir bendungan, tempat perahu-perahu ditambatkan. Padahal pengunjung ditarik tiket masuk Rp. 7.000,- per orang. Untuk apa saja dana retribusi itu, kalau disapu saja tidak? Grrrgh …. :mrgreen: ย 

Area bermain yang ada di bagian depan bendungan

Lanjut Baca »

Merindui Ijen dan Trembesi?

Yup, saya ke Malang pertama-tama pengin melihat (lagi) Jalan Ijen, setelah membaca posting tetangga sebelah, hampir setahun yang lalu, diย  sini . Juga pengin ngadem di bawah pohon Trembesi, terhasut tulisan tetangga yang sama di posting ini. Bakso Malang? Pengin juga, tapi nggak sampai keimpi-impi ๐Ÿ™‚

So, kami tiba di Malang menjelang jam 13.00, langsung menuju ke Hotel Mandala Puri. Begitu masuk ke lobby, saya agak surprised karena baru tahu, ternyata hotel ini bergaya tradisional Jawa kuno. Ruangan, lorong, dan dinding dipenuhi dengan furniture, lukisan, dan pajangan antik. Ditambah suasana yang agak redup, kesan pertama yang muncul adalah … hmm …ย  ceyeem ๐Ÿ˜•ย 

Sambil menunggu kamar kami disiapkan, saya melihat-lihat ke berbagai sudut. Saya masuk ke sebuah ruang pertemuan yang kosong. Dindingnya dipenuhi lukisan, sebagian lukisan kuno. Berada sendirian di ruangan kosong yang penuh barang antik itu, mendadak saya merinding. Cepat-cepat saya keluar, sebelum tiba-tiba disapa ‘sesuatu’ … hihihi ๐Ÿ™‚

Furniture dan lukisan-lukisan tua yang seolah memperhatikan saya …

Lorong di depan kamar, penuh dengan barang-barang warisan nenek moyang …

Lanjut Baca »

Anda doyan apel batu? Jangan khawatir, ini bukan apel yang terbuat dari batu, atau apel yang kerasnya kayak batu, tapi apel dari kota Batu. Apel memang sudah menjadi icon kota Batu, dan tidak afdhol rasanya ke Batu tanpa mencicipi apel langsung metik dari pohonnya.

Hari ke tiga Jatim Trip kami berkunjung ke Kusuma Agro, perkebunan apel sekaligus obyek wisata yang dilengkapi dengan hotel dan berbagai wahana rekreasi. Jaraknya cukup dekat, hanya sekitar 15 menit dari Jatim Park 2. Ada berbagai paket wisata yang ditawarkan, dan kami memilih paket yang mencakup wellcome drink juice apel, berkeliling kebun apel dan strawberry, menikmati sandwich strawberry, dan makan apel dan jeruk sepuasnya (hahah … ๐Ÿ˜€ ). Tiket untuk paket ini Rp. 34.000,- per orang. Ini paket murah, karena di atasnya ada harga paket-paket yang lebih mahal. Kami juga ditawari untuk berkeliling kebun dengan mobil, karena kalau jalan kaki cukup jauh. Untuk itu setiap orang dikenai biaya Rp. 10.000,-. Okelah, daripada keringatan … hihi.

Wellcome drink yang kami terima ternyata hanya satu pot kecil juice apel seukuran 50 cc. Okelah, ndak papa, meskipun saya agak heran, kok pelit banget nih … :D. Kami kemudian berkeliling kebun apel dengan mobil. Di beberapa tempat terdapat kandang-kandang berisi monyet dan burung, sayang tampak kurang terawat.

Pergantian musim yang tidak menentu tahun ini membuat produksi apel kurang bagus, sehingga pengunjung tidak bisa memetik apel dari pohon. Sebagian pohon apel sedang dalam proses perawatan. Batangnya dicat putih untuk membasmi jamur, dan ranting-rantingnya dipotong agar tumbuh tunas baru. Siklus berbuah pohon-pohon apel ini diatur bergiliran, sehingga pada setiap saat selalu ada areal yang siap dipanen.

ย  Bunga Kana merah menyemarakkan hamparan kebun apel (kiri) dan kebun stawberry (kanan)

Wah … pohon-pohon apel ini genit juga ya, pake bedakan segala ๐Ÿ˜›

Lanjut Baca »

Batu Night Spectacular. Woow … namanya memancing rasa penasaran. Se-spektakuler apa sih malam di Batu yang dingin ini?

Setelah beristirahat sejenak di hotel, mandi dan sholat, jam 18.30 kami berangkat ke BNS dengan jalan kaki. Lho, jalan kaki? Iya, karena hotel kami terletak persis di sebelah BNS, di Jl. Oro-oro Ombo. Oro-oro Ombo artinya ‘lapangan yang luas’. Mungkin dulunya kawasan itu berupa tanah kosong yang luas, sebelum disulap menjadi lokasi wisata, restoran dan hotel.

Dari luar, BNS sudah terlihat gemerlapan bermandikan cahaya lampu. Tiket masuknya cukup murah, Rp. 12.500,-. Hanya saja untuk masuk ke berbagai arena permainan, pengunjung harus membeli tiket lagi, yang harganya berkisar Rp. 10.000,- sampai Rp. 20.000,-. Tetapi tanpa masuk ke arena permainanpun, pengunjung dapat menikmati suasana yang semarak dan gemerlapan.

Batu Night Spectacular (foto dipinjam dariย sini )

Karena kelaparan, kami langsung menuju ke food court untuk menenangkan perut yang sudah meronta-ronta. Di sini, kita harus menukarkan uang dengan kartu elektronik yang dipakai untuk membayar makanan di stand-stand yang kita pilih. Menu yang tersedia cukup beragam, dan harganyapun masuk akal.ย 

Food court ini berbentuk memanjang, dan plafondnya merupakan screen film yang panjangnya 50 meter dengan lebar sekitar 6 meter. Karena berada di plafond, tentu saja kita harus mendongak untuk menonton film yang diputar. Malam itu disajikan film yang mengeksplor keindahan bawah laut. Durasinya tidak lama, hanya sekitar 5 menit (ya iyalah … kalo sampai 2 jam insya’allah pengunjung bakal sakit leher semua ๐Ÿ˜€ ).

Yang lebih menarik adalah atraksi Air Mancur Menari di ujung food court. Air mancur itu bergerak dengan berbagai pola yang berubah-ubah, meliuk, memancar tinggi, melambai, meloncat, mengikuti irama lagu yang diputar. Dengan permainan lighting yang apik, atraksi dancing fountain ini menjadi salah satu andalan yang dibanggakan BNS.

Woow …. airnya menari!

Lanjut Baca »

Jika mendengar nama kota Batu, apa yang muncul dalam benak Anda? Dingin? Yes indeed. Apel? Of course. Bunga-bunga indah? Sure. Tapi sekarang imajinasi Anda harus ditambah dengan satu kosa kata baru : incredible!

Batu telah mengejutkan saya dengan menyajikan “Jawa Timur Park 1” dan “Jawa Timur Park 2”. Mengapa namanya bukan “Taman Jawa Timur”? Entahlah. Mungkin karena investornya orang ‘sono’. Mungkin juga karena apa yang ditampilkan di sana memang berkelas internasional. Tempat wisata yang memadukan konsep pendidikan dan rekreasi ini diresmikan pada 2 Maret 2002 oleh Menristek Ir. H.H. Hatta Rajasa. Lho, ternyata sudah cukup lama juga, tapi kok sepertinya belum begitu dikenal di luar Jatim? Atau saya saja yang kurang gaul ‘kali ya … ๐Ÿ˜€

Taman di tepi jalan yang cantik dan rapi bak keluar dari salon menyambut kami memasuki kota Batu

Jawa Timur Park 1, kami dataaang … ๐Ÿ˜€

Untuk masuk ke Jatim Park 1 dan 2, kita bisa membeli tiket terusan ataupun pethilan (halah, bahasa apa ini :P). Tiket terusan lebih murah, Rp. 80.000,- sedangkan untuk tiket pethilan, masing-masing Rp. 50.000,- untuk JTP 1 dan JTP 2 . Eh, harga tiket segitu mahal nggak sih? Tapi percayalah, kita tidak akan menyesal mengorek kantong agak dalam (asal jangan sampai robek … hihi), karena apa yang kita peroleh sangat sepadan. Setelah melihat seluruh isi JTP 1 dan JTP 2, saya bahkan mengatakan tiket itu terlalu murah. Beneran, karena isinya sangat bagus, dan saya membayangkan investasi yang diperlukan untuk membangun JTP 1 dan JTP 2 ini pasti sangat besar.

Oke, yuk kita masuk ke dalam. Ohya, kami masuk ke JTP 1 terlebih dahulu …

Lanjut Baca »

Sahabat, kerabat, dan penggemar TV (halah … ๐Ÿ˜€ )

Ma’af yang sebesar-besarnya, hampir sebulan lamanya TV tidak mengudara. Bukan karena apa-apa, tapi semata karena penyiarnya lagi cuti bergaya :P. Mohon ma’af juga, sudah sebulan saya tidak sempat bertandang ke rumah teman-teman semua. Terimakasih bagi teman-teman yang masih setia menanti, mungkin beberapa kali mampir kemari, menanya kabar memberi atensi …

Hari ini TV kembali on air, dengan sebuah cerita perjalanan yang baru saja saya lakukan. Semoga saya bisa segera merajut kembali tali silaturahmi dengan teman-teman yang sudah lama saya kangeni *swear*

….

Akhir Mei kemarin tiba-tiba saja saya nyadar bahwa tanggal 2 Juni, hari Kamis, adalah libur nasional berkenaan dengan Kenaikan Isa Almasih. Praktis hari Jum’at menjadi ‘harpitnas’, sehingga ada libur 4 hari sampai hari Minggu. Spontan saya memutuskan untuk merealisasikan rencana jelajah Jatim yang sudah lama tertunda. Segera saja saya search hotel via internet di tiga kota tujuan saya : Kediri, Batu, dan Malang. Reservasi hotel selanjutnya saya lakukan by phone, maklum saya masih tergolong manusia kuno yang lebih mantep berkomunikasi dengan manusia juga, yang bisa langsung menjawab dengan suara ๐Ÿ™‚ย 

Alkisah, saya bersama seorang keponakan dan kakak ipar berangkat pada hari Kamis, 2 Juni jam 05.30 pagi, dengan mobil yang dikemudikan sopir saya. Rute yang kami ambil adalah Yogya-Solo-Ngawi-Nganjuk-Kediri. Jam 07.00 kami tiba di Solo, mampir sarapan nasi liwet yang uenaak dan murah meriah di pinggir jalan. Nasi liwet ini disajikan dalam pincuk daun pisang, bener-bener tradisional. Lauknya sederhana saja, sayur labu siam yang diiris tipis panjang seperti mie, telur dan daging ayam. Tapi karena nasinya sudah dibumbui, jadi terasa nikmat sekali di lidah. Khas Solo deh …

Nyam … nyam … nyam …

Meski porsinya kelihatan sedikit, ternyata kenyang buangeets …

Lanjut Baca »