Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2008

Ketika Hati Patah …

I DON’T WANT TO TALK ABOUT IT …

Pada zaman masih jadi mahasiswa dulu, seorang teman tiba-tiba muncul di kampus dengan kepala plontos. Teman-teman yang lain pada melongo, lalu diam-diam tertawa cekikikan (ada juga yang ngakak tanpa sopan santun).¬† Lha gimana nggak melongo, wong masa perploncoan sudah lama lewat, ini kok masih ada kepala plontos unjuk diri di kampus. Gimana nggak ngakak, lha wong kepalanya penjol, ada bekas koreng lagi ….

Usut punya usut (dengan melibatkan KPK = Komisi Penyelidik Kepala), ketahuanlah bahwa teman tadi baru saja putus kontrak dengan pacarnya. Untuk mengekspresikan patah hatinya (halah, kayak iklan rokok saja : “ekspresikan aksimu!”), teman yang malang ini mencukur habis rambutnya. Wooo ….. Sudah hati remuk, penampilan ‘ancur’ pula ….

Patah hati memang bisa membuat manusia penderitanya menjadi aneh bin ajaib. Mereka bisa melakukan sesuatu yang luar biasa (luar biasa gila, luar biasa lucu, ataupun luar biasa menyedihkan).


Emang hati bentuknya kayak gini ya?

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Ketika Api Membakar Dada

MENGENDALIKAN DIRI KETIKA MARAH MEMBARA

Suatu ketika Mira dan Arman menghadiri pesta pernikahan seorang kerabat. Mira bertemu dengan sanak saudaranya, dan bergabung dalam perbincangan seru. Salah seorang saudaranya kemudian mengajak untuk mengambil makanan. Maka mereka pun kemudian pergi ke meja-meja hidangan yang telah ramai dikelilingi para tamu. Dalam hiruk pikuk pesta, dan di antara sekian banyak orang, Mira lupa untuk mengajak Arman, suaminya, makan bersama. Ketika sedang mulai menikmati hidangan, tiba-tiba Arman muncul, dan seketika Mira sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan.

Arman sangat marah melihat Mira mengambil makan tanpa mengajak dirinya. Seharusnya Mira menawari dan melayaninya, sebagaimana layaknya seorang isteri melayani seorang suami. Maka kata-kata pedas pun dia lontarkan, sebagaimana biasa jika ia sedang marah.

“Kamu memang tidak pernah menghargai aku. Sebagai suami, aku tidak ada nilainya di matamu. Tapi kalau aku cari isteri lagi, kamu tidak terima!” demikian antara lain kalimat yang diucapkan Arman. Masih panjang lagi kata-kata yang diucapkan Arman, yang semuanya berisi kecaman atas ketidakpantasan perilaku Mira, dan membandingkan Mira dengan isteri-isteri lain yang ideal di mata Arman.

Mira terpana. Tubuhnya terasa kaku. Dadanya sesak. Tangisnya nyaris meledak. Tetapi ia berusaha keras untuk menguasai diri. Ia berusaha meredakan kemarahan suaminya dengan berkali-kali meminta maaf. Tetapi Arman bukannya mereda, bahkan semakin membara. Pengakuan bersalah dan permintaan maaf isterinya semakin membuatnya merasa diri benar, dan ‘berhak’ untuk menghukum sang isteri dengan kata-kata apa pun untuk memuaskan nafsu amarahnya.

Sepanjang sisa pesta, Mira tetap menampilkan senyum di hadapan sanak keluarganya, meskipun ia tak bisa lagi menelan makanan barang sesuap pun. Namun setiba di rumah, Mira langsung masuk ke kamar mandi, menutup wajahnya dengan handuk, dan menangis sejadi-jadinya. Kata-kata Arman sangat melukai hatinya. Ia sadar telah melakukan kesalahan yang membuat Arman marah, dan ia sangat menyesal. Tetapi kata-kata Arman yang pedas, dan kemarahan yang dilontarkan Arman kepadanya di tengah orang banyak, membuat hatinya sangat pedih.

Luka itu menjadi sangat dalam, karena ucapan “kalau aku cari isteri lagi, kamu tidak terima” itu sudah berkali-kali diucapkan Arman. Kalimat itu adalah kecaman, ancaman, dan intimidasi yang menghancurkan harga dirinya. Kalimat yang tidak ingin didengar oleh isteri manapun di seluruh dunia. Kalimat yang setiap kali diucapkan Arman, mengikis selapis rasa cinta dari hatinya terhadap suaminya.

(lebih…)

Read Full Post »

Catatan :

Artikel ini saya tulis karena ketertarikan saya pada masalah di seputar RUU Pornografi yang menuai pro dan kontra. Referensi yang pertama saya baca adalah majalah Femina Nomor 42 edisi 23-29 Oktober 2008. Ulasan di Femina inilah yang menjadi dasar saya dalam menulis artikel. Namun setelah artikel ini saya posting, dan banyak komentar masuk, saya membaca majalah Madina Nomor 10 terbitan bulan Oktober 2008, yang menganalisis masalah RUU Pornografi dari sisi yang berbeda (dan lebih rinci). Referensi dari majalah Madina inilah yang menambah pemahaman saya tentang RUU Pornografi, dan selanjutnya menjadi referensi saya dalam merespon komentar-komentar yang masuk.

Perbedaan referensi pada saat saya menulis artikel dan pada saat saya merespon komentar barangkali membuat saya kelihatan ‘berubah pandangan’. Untuk itu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ini menjadi pengalaman bagi saya, bahwa apa yang dimuat di sebuah media tak bisa dilepaskan dari ‘siapa’ yang ada di belakang media tersebut, serta misi yang dibawanya.

KONTROVERSI TIADA HENTI UU PORNOGRAFI

Maraknya pornografi di masyarakat kita sejak beberapa dekade ini memang sangat meresahkan. VCD dan produk-produk bermuatan pornografi beredar dengan begitu bebas, dijajakan di pinggir jalan dan bisa dibeli oleh siapa saja, termasuk anak-anak. Terbitnya majalah Playboy di Indonesia merupakan bukti direstuinya pornografi muncul secara legal di media cetak. Informasi dari internet, yang langsung masuk ke ruang-ruang pribadi pengaksesnya, menjadi pintu masuk serbuan pornografi yang sangat sulit diawasi. Bahkan dijumpai game-game untuk anak dan VCD film kartun yang ternyata disisipi gambar-gambar porno.

Mengapa pornografi demikian marak dan jaringannya sangat sulit diberantas? Karena, pornografi merupakan komoditas yang melibatkan uang dalam jumlah sangat besar. Pelaku bisnis pornografi menangguk keuntungan menggiurkan, sehingga sama seperti perdagangan obat bius, sangat sulit memberantas bisnis ini.

Siapa pun yang masih memiliki hati nurani pasti resah melihat situasi seperti ini. DPR kemudian membentuk Panja (Panitia Kerja) untuk menyusun RUU APP (Anti Pornografi dan Pornoaksi) pada tahun 2005, yang kemudian diperbarui menjadi RUU Pornografi. Seharusnya, tanggal 23 September 2008 kemarin RUU Pornografi ini disahkan menjadi undang-undang (UU) Pornografi. Tapi, meskipun sudah mengalami 3 kali revisi, RUU ini masih ditentang di berbagai tempat.

Apa sesungguhnya isi RUU Pornografi, sehingga mengundang pro kontra yang demikian keras?

Demo menolak RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi di Jakarta

(lebih…)

Read Full Post »

Demam Award

AWARD & AWARD

Pada tanggal 8 Oktober 2008 saya disebutkan oleh Mbak Ernut di blog DuoKribo sebagai salah satu penerima Award. Alamaaak, indah nian! Dapet award lho gue. Siapa gak seneng?

Award itu (menurut yang saya baca di blog DuoKribo) diperoleh blog DuoKribo dari Mbak Ely (Elys Welt), kemudian oleh Mbak Ernut dan Mbak Ayik (pemilik blog DuoKribo) diteruskan kepada tujuh blog yang lain.

Saya tercenung. Award ini mau saya teruskan kepada siapa ya?

(lebih…)

Read Full Post »

Gajah, si Tambun Yang Ramah

RAKSASA HUTAN YANG CERDAS DAN LEMBUT HATI

Adakah binatang darat yang lebih besar dari gajah, selain binatang-binatang purba semacam dinosaurus yang sudah punah? Rasanya tidak ada, atau belum diciptakan lagi oleh Tuhan (mungkin Tuhan lagi cari inspirasi … ). Gajah terbesar yang pernah ditemukan di Angola, Afrika, pada tahun 1956 memiliki berat badan 12.000 kg (12 ton) dengan tinggi badan 4,2 meter. Weleh, weleh ….. kalau keinjek pastilah kita jadi daging giling!

Karena ukuran tubuhnya yang guede, dan bobot tubuhnya yang buerat, timbul pertanyaan di benak kita : bisakah gajah melompat? Nggak usah lompat tali lah, itu mah keterlaluan. Lompat biasa saja, semisal melompati gunung (haiyah, ade-ade aje … )

Gajah memang binatang serba super. Sebelum melahirkan, induk gajah hamil selama 22 bulan (cukup bagi seorang wanita untuk melahirkan dua kali). Pada waktu lahir, bayi gajah memiliki bobot sekitar 110-120 kg (40 kali bobot bayi manusia), dengan tinggi badan sekitar 75 cm. Jika sehat dan selamat dari perburuan manusia, gajah bisa hidup sampai umur 70 tahun.

Kawanan gajah di Afrika. Gadingnya yang mahal membuat gajah selalu menjadi korban perburuan manusia yang tak memiliki peri kehewanan …

(lebih…)

Read Full Post »

Tawuran Mahasiswa

BUKANNYA BELAJAR, MALAH MENGHAJAR

Kita semua pasti geleng-geleng kepala menyaksikan tayangan tawuran mahasiswa UKI vs YAI di televisi baru-baru ini. Apa-apaan ini? Mahasiswa tawuran massal, saling lempar batu, merusak gedung kampus, menghancurkan mobil, merugikan masyarakat karena membuat lalu lintas macet dan pedagang kocar-kacir. Perasaan geram, sedih, dan kecewa terasa menyesakkan dada kita semua, terlebih lagi para orangtua yang telah bersusah payah membiayai kuliah anak-anak mereka, dan ternyata anak-anak tercinta itu bukannya belajar malah saling menghajar …

Apa gerangan yang ada di dalam benak dan di hati sanubari para pemuda penerus bangsa itu? Amarah yang tak terkendali? Dendam? Hawa nafsu angkara murka? Oleh sebab apa? Saling mengejek? Rebutan pacar? Berselisih soal-soal sepele dan tak penting lainnya?

Tidakkah mereka prihatin memikirkan masa depan bangsa yang sekarang ini masih menghadapi begitu banyak tantangan? Korupsi merajalela, pergantian kepemimpinan nasional, krisis moneter & finansial global yang berimbas juga ke Indonesia, global warming, dan setumpuk masalah lainnya? Tidakkah mereka malu pada adik-adik mereka di SD, SMP, dan SMA yang berprestasi di kancah Olimpiade Internasional Matematika, Fisika, Komputer dan prestasi-prestasi gemilang lainnya? Mereka kan intelektual, bukan penonton sepakbola bonek, yang bisanya cuma berkelahi, membajak kereta api, merampas makanan pedagang, dan membuat keonaran-keonaran lainnya?

Hati meradang, kaki menendang, tinju melayang, batu-batu terbang, setan tertawa senang …

(lebih…)

Read Full Post »

Nonton Laskar Pelangi

PELANGI DUNIA PENDIDIKAN DAN RAKYAT MISKIN KITA

“Bulik, tiketnya sudah dapet, tapi kursi paling depan, jam 21.30. Maafin hasil ngantrinya tidak memuaskan … hihihi …” sms itu masuk ke ponsel saya hari Rabu siang, tanggal 8 Oktober lalu. Pengirimnya adalah Dhany, keponakan saya, yang antri tiket film Laskar Pelangi di Studio¬† 21 Ambarukmo Plaza. Sebelumnya Aan, keponakan saya yang lain sudah dua kali antri, tapi selalu kehabisan tiket. Hari Rabu kemarin, setelah antri selama 3 jam, akhirnya kami berhasil mendapatkan 7 lembar tiket. Tapi ya itu tadi …. kebagian kursi paling depan. Wahaha. Kalau nonton konser musik, kursi paling depan adalah VVIP. Lha kalau nonton film? Hwaduh …. siap-siap leher pegel karena harus mendongak selama 2 jam!

Tapi sudahlah, yang penting bisa nonton. Ternyata nggak cuma duduk di baris terdepan, kursi kamipun ada di pinggir. Ampyun ….! Kalau bukan Laskar Pelangi, saya mending tidur memeluk guling di rumah.

Saya perlu waktu beberapa menit untuk membiasakan mata saya melihat gambar-gambar di layar yang begitu dekat, dan dari arah sedikit ke samping. Tengah asyik-asyiknya nonton, masuk sms dari Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, organisasi tempat saya ikut bergabung, menawarkan untuk ‘nonton bersama’ Laskar Pelangi Kamis malam jam 19.00. Studio 21 sudah dibooking oleh PP Aisyiyah, jadi tiket dijamin nggak usah antri. Whoaa … saya langsung jawab, “Ikuuut!!”.

Foto-foto yang saya upload pada tulisan ini saya jepret langsung dari layar bioskop, pada kesempatan nonton yang kedua (alhamdulillah saya memperoleh kursi di tengah dan agak belakang). Tidak begitu mudah memotret tanpa flash dalam gelap, dengan obyek yang terus bergerak, terutama jika gambar muncul dalam warna-warna temaram (apalagi bagi saya yang hanya fotografer jadi-jadian). Jadi mohon maaf jika foto-foto yang tersaji disini kurang memuaskan ….

Anggota Laskar Pelangi menyaksikan pelangi yang melengkung di langit pulau Belitong

(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »