Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2009

HYMENOPLASTY DAN SELAPUT DARA PALSU, SIAPA MAU?

Mungkin banyak di antara kita yang tidak keberatan memakai barang palsu, seperti sepatu atau tas bermerk palsu, rambut palsu, sampai kecantikan palsu hasil polesan kosmetik. Tapi bagaimana dengan selaput dara palsu?

Selaput dara palsu? Ya ampuun …

Hymen atau selaput dara adalah bagian yang paling sensitif dari tubuh perempuan. Membran tipis ini selalu dijadikan simbol moralitas, harkat dan kesucian perempuan. Meskipun demikian, rusaknya selaput dara tidak selalu karena tindak a-susila, bisa juga karena olah raga, kecelakaan, atau sebab yang lain. Rusaknya selaput dara karena tindak seksual pun bisa terjadi akibat perkosaan, dimana perempuan bukan menjadi pelaku, melainkan korban.

Apapun sebab rusaknya selaput dara, sebagian besar pria (di masyarakat Timur) masih menginginkan istri dengan selaput dara utuh. Ini adalah realita. Dan realita ini yang menyebabkan produk selaput dara palsu laris manis. Mungkin pepatah ‘laris bak pisang goreng’ akan berubah menjadi ‘laris bak selaput dara palsu’ …

Ini tragedi bagi perempuan.

 

hymen bunga mawar

Kesucian ibarat bunga, yang indah namun rapuh, sehingga harus dijaga agar tidak rontok kelopaknya sebelum dipetik oleh yang berhak (foto : diedit dari Kompas.com)

(lebih…)

Read Full Post »

Kencan

SORE YANG MENGESANKAN

Seorang perempuan bersuami kencan dengan dua pria beristri di sebuah hotel.

Bagaimana kesan anda jika membaca berita seperti itu? Sereeem … ! Dan bagaimana kalau perempuan itu adalah saya? Hiyaa!!

Ini serius. Beneran. Saya kencan dengan dua pria, yang satu setengah baya umur 45-an, yang satu lagi lebih muda, baru 35-an. Dua-duanya ganteng (paling nggak mereka merasa dan ngaku begitu … hihi). Kencannya di sebuah hotel bintang empat di Yogya.

Maka sore itu, Jum’at 23 Oktober, saya bersiap-siap untuk bertemu dengan kedua kencan saya. Deg-degan, dan juga tak sabar menunggu waktu yang dijanjikan. Sudah pasti saya berdandan dengan sebaik-baiknya. Tapi bagaimanapun saya mencoba mempercantik diri, hidung saya tetap saja duduk bersila tak mau tegak, dan mata saya tetap saja cuma dua (hihi … emang pengin punya mata berapa?)

Saya masuk dengan anggun (bleh … ) ke lobby hotel sepuluh menit lebih lambat dari waktu yang dijanjikan. Saya tebarkan pandangan ke segenap sudut lobby yang luas dan mewah itu, tapi dua pria kencan saya belum kelihatan wajah gantengnya. Oke, saya akan tunggu saja sambil mencoba mengontak mereka melalui hape.

Baru saja akan duduk di sebuah kursi, ada suara menyapa saya :

“Bu Tuti?”

Saya menoleh, dan …. yuhuuu, kencan saya yang satu, pria setengah baya yang hebat bukan main itu, berdiri di sana dengan senyum terkembang yang mempesona. Saya pun tersenyum menyapanya, lalu kami pun duduk di sebuah sudut yang nyaman. Meskipun sudah sangat mengenal beliau, ini adalah pertemuan pertama saya dengan bapak tiga putra itu. Kami pun langsung ngobrol dengan akrab, seperti sudah kenal bertahun-tahun.

Pria kencan saya yang kedua muncul beberapa menit kemudian. Woow … dia datang bersama istrinya yang cantik. Saya menyambut dengan gembira, karena saya kenal dengan sang istri dan sudah beberapa kali bertemu. Ha! Maka obrolan pun berlanjut dengan ramai di antara kami berempat.

Pengin tahu, siapa dua pria yang berkencan dengan saya sore kemarin ?


(lebih…)

Read Full Post »

KONSER WORLD PEACE UNTUK KOMODO

Tanggal 17 Oktober kemarin saya dihadapkan pada dua pilihan yang benar-benar sulit, rumit, dan menjepit (lebay buuk … !). Pilihan pertama adalah nonton Jogja Java Carnival, dalam rangka ulang tahun kota Jogja, yang memang sudah saya tunggu-tunggu. Pilihan kedua adalah nonton konser World Peace Orchestra pimpinan Dwiki Dharmawan yang digelar dalam rangka dies natalis UGM yang ke-60. Dua-duanya menarik dan ingin saya tonton.

Coba, bingung kan?

Setelah mempertimbangkan masak-masak (masaknya 7 hari 7 malam, sampai kering kayak rendang), dengan berat hati saya memilih nonton Dwiki. Pertimbangan saya, belum tentu ada kesempatan lain nonton konser Dwiki. Apalagi konser ini didukung bintang-bintang yang cukup menyilaukan seperti Kris Dayanti, Dewa Budjana, Steve Thornton (Amerika), Anggito Abimanyu, Butet Kertaradjasa, Singgih Sanjaya, Paduan Suara UGM, dan bintang-bintang lain yang belum begitu dikenal (tapi setelah saya tonton penampilannya, ternyata tak kalah cemerlang sinarnya).


IMG_2017


Maka, pada hari Jum’at siang, sehari sebelum konser digelar, saya pergi ke radio Swaragama, salah satu ticket box konser, untuk mencari (eh, membeli ding …) tiket.  Yaaah … karena sudah hari terakhir, tiket yang tersisa tinggal VIP B, seharga Rp. 100.000,-. Dengan memecah celengan saya masih bisa sih bayar tiketnya, tapi posisi duduknya itu lho! VIP B ini ada di belakang dan di samping. Masih lebih nyaman duduk di kelas festival yang tiketnya cuma Rp. 40.000,- karena tempatnya di tribun yang tinggi, sehingga pandangan ke panggung lebih leluasa.

Apa hendak dikata. Itulah risikonya terlalu lambat mengambil keputusan. Cepat dan tepat, harusnya kan begitu …


IMG_2024

Tiket yang diperoleh pada saat-saat terakhir …

Bagaimana jalannya konser yang telah berhasil merebut saya (haiyah!) dari Jogja Java Carnival ini? Yuuuk ….

(lebih…)

Read Full Post »

RUMAH AMAN DARI GEMPA

Rasanya hampir semua dari kita — terutama ibu-ibu yang memiliki anak kecil — mengenal Teletubbies, empat boneka lucu yang beberapa tahun lalu ditayangkan di sebuah stasiun televisi swasta. Boneka-boneka yang diperankan oleh manusia ini memiliki karakter khas, yaitu warna kostum yang berbeda. Kelucuan tingkah laku Tinky Winky (ungu), Dipsy (hijau), Laa Laa (kuning) dan Po (merah) mampu memikat tidak saja anak-anak, tapi juga remaja bahkan orang tua.”Berpelukaaan!!” adalah seruan khas Teletubbies, yang sempat populer di kalangan masyarakat pada waktu itu.

Film untuk balita ini disiarkan oleh BBC antara tahun 1997 – 2001, produksi Ragdoll Production. Anne Wood dan Andre Davenport menulis sebanyak 365 episode Teletubbies.  Tinky Winky, Dipsy, Laa Laa dan Po tinggal di sebuah rumah yang dikelilingi hamparan padang rumput hijau dengan aneka bunga. Rumahnya berbentuk bulat, dengan teropong menjulang dari atapnya.


rumah teletubbies 2 Rumah Teletubbies Teletubies bagus

Teletubbies dan rumahnya yang lucu, membuat siapapun ingin berlari dan berguling-guling di rumputnya yang hijau … (foto-foto diambil dari sini )

Nah, rumah Teletubbies ini pun bisa dijumpai tidak jauh dari Yogya, tepatnya di dusun Nglepen, Prambanan. Lho, memangnya Teletubbies syuting di Yogya? Oh, bukaaan …! Rumah Teletubbies yang ada di Yogya ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan boneka-boneka lucu itu, tapi berhubungan dengan gempa.  Rumah-rumah berbentuk bulat ini adalah sumbangan dari World Association of Non-Govermental Organization (WANGO) dan Domes for the World Foundation (DFTW) untuk korban gempa di dusun Sengir, yang rumahnya hancur akibat gempa 27 Mei 2006.


Rumah Dome Hawa 2

Rumah-rumah ‘teletubbies’ di dusun Nglepen, Prambanan, Yogya (foto : diambil dari Blog Hawa )

Meskipun sebenarnya tidak terlalu mirip dengan rumah Teletubbies yang tertutup rumput hijau, bentuknya yang bulat membuat rumah dome ini mengingatkan orang akan rumah boneka-boneka lucu itu.

Bagaimana cara membuat rumah bulat itu, mengapa rumah ini tahan gempa, dan nyamankah tinggal di dalamnya?

(lebih…)

Read Full Post »

INCREDIBLE ARTS PERFORMANCE!

Warning :

Posting ini berisi sangat banyak foto. Saya juga mengkhianati komitmen saya semula untuk membatasi tulisan sekitar 1.000 kata. Posting kali ini cukup panjang, 2.900 kata. Jadi kalau anda berniat serius membacanya (terimakasih jika bersedia menyiksa diri demikian), matikan dulu kompor di dapur, tutup kran air, kandangkan ayam-ayam serta kambing yang berkeliaran di dalam rumah (hah??!), dan siapkan secangkir kopi di tangan (nggak boleh sama rokok ya … )


Rabu, 7 Oktober 2009

Kegagalan saya yang tragis untuk menonton kirab budaya pada hari Rabu sore (kisah lengkapnya di sini ) membuat saya bertekad untuk sukses nonton Jogja International Performing Arts Festival 2009 (JIPA Fest 2009) pada malam harinya. Festival akbar ini sudah dimulai pada malam sebelumnya, yaitu tanggal 6, tapi saya baru membaca liputannya di koran pada tanggal 7 pagi. Lagi-lagi telat informasi ….

JIPA Fest 2009 dilaksanakan di gedung Societet Art Hall Taman Budaya Yogya, yang terletak di sebelah timur Taman Pintar. Ini gedung kuno peninggalan Belanda yang sudah direnovasi. Di sebelah selatan gedung Societet terdapat gedung baru yang lebih besar, yaitu Concert Hall.

Malam pertama (yang tidak sempat saya tonton itu) menampilkan pantomimer kawakan Jemek Supardi dari Yogya dan tari Kinanti Sekar Rahina. Dari luar negri, tampil Andrea K. Schlehwein (Austria), Nam Jeong Ho (Korea) dan Kazeo Takemoto (Jepang). Karena nggak nonton, saya nggak punya otoritas untuk cerita.

Pada malam kedua, acara dibuka oleh Bimo Dance Theater dari Yogya. Kelompok seni ini mengawali pertunjukannya dengan menampilkan musik perkusi yang dimainkan oleh empat orang. Gebukan gendang menghentak dalam irama yang dinamis, dan mendapat applaus meriah dari penonton.


IMG_2279

Dua di antara empat pemain musik perkusi yang mengawali tampilan Bimo Dance, dan terus mengiringi sepanjang tarian

Saya benar-benar dibuat terpukau oleh tarian yang menyusul kemudian. Sejumlah penari perempuan dan laki-laki tampil di panggung dalam komposisi gerakan yang luar biasa indah. Enerjik, full power, tapi sangat lentur dan indah. Gerakannya adalah perpaduan dari tari Jawa klasik dan tari modern. Kostum yang simpel, tanpa aksesori apa pun, justru menonjolkan olah tubuh prima para penari. Ada seorang penari kecil yang lucu, aneh, sekaligus menakutkan, karena gerak dan penampilannya seperti wewe, hantu perempuan bermuka tembok yang sangat dikenal di kalangan masyarakat Jawa.


IMG_2285

‘Wewe’ kecil ini gerakan tubuh dan tarikan wajahnya sangat ekspresif …

(lebih…)

Read Full Post »

HADEGING NAGARI DALEM KASULTANAN

Tanggal 7 Oktober kemarin kota Yogyakarta berulangtahun yang ke 253. Yeey! Sudah cukup tua juga rupanya kota saya yang tercinta ini.

Kota Yogya tak bisa dipisahkan dari Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, karena keberadaan kota ini bermula dari didirikannya kasultanan Yogyakarta oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Keraton Yogyakarta mulai dibangun pada tanggal 13 Februari 1755, yang dalam penanggalan Jawa bertepatan dengan hari Kamis Kliwon, 29 Rabiulakir, wuku Lakir, Be 1680 (hebat kan orang Jawa, punya sistem kalender sendiri!). Pada 7 Oktober 1756, keraton selesai dibangun dan keluarga Sri Sultan HB I pindah ke keraton ini. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Yogyakarta.

Pada waktu itu, lokasi yang dipilih untuk mendirikan keraton masih berupa hutan belantara, bernama hutan Beringan. Konon, nama Beringan diberikan karena banyak terdapat pohon beringin besar. Sampai sekarang, pohon beringin masih menjadi pohon keramat yang terdapat di alun-alun keraton (mungkin itulah sebabnya pohon ini dijadikan lambang oleh sebuah parpol … ehehe!). Nama hutan ini diabadikan sebagai nama pasar terbesar di Yogya yang terletak di depan keraton, yaitu Pasar Beringharjo.

Nama Ngayogyakarta dalam bahasa Sansekerta berarti ‘telah selesai dibangun/dikerjakan dengan baik’. Arti lain, ‘Yogya’ berarti ‘baik’, sedangkan ‘karta’ berarti ‘rahayu’ atau ‘selamat’, maka Yogyakarta berarti ‘baik dan selamat’, atau ‘baik dan indah’. Yes …. indeed!

Sri Sultan HB I menciptakan poros filosofis Gunung Merapi – Tugu Pal Putih – Keraton – Panggung Krapyak – Laut Selatan. Penciptaan garis imajiner ini selaras dengan konsep Tri Hita Karana dan Tri Angga. Secara simbolis-filosofis, poros ini melambangkan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.

Cukup sekian kuliah dari saya. Pengetahuan tentang sejarah dan filosofi keraton Yogyakarta selengkapnya silahkan diikuti selama 6 semester di jurusan sejarah, antropologi, arkeologi, dan javanologi ….

Inilah poros Merapi – Tugu – Keraton – Panggung Krapyak – Laut Selatan


IMG_2364 IMG_0028

Gunung Merapi               Tugu Pal Putih

IMG_0150

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

IMG_2345 IMG_2007

Panggung Krapyak                        Laut Selatan

Bagaimanakah kota Yogya sekarang, pada usianya yang ke 253?

(lebih…)

Read Full Post »

TIM SAR, PAHLAWAN YANG SERING TERLUPAKAN

Dalam setiap bencana apapun dan di manapun, orang-orang yang selalu bekerja keras tanpa kenal lelah adalah anggota Tim SAR (Search And Rescue). Sudah pasti nyawa manusia ada di tangan Tuhan, tetapi melalui kerja keras merekalah seringkali nasib korban bergantung : masih bisakah terselamatkan, atau keburu dijemput Malaikat Maut.

Pada gempa besar yang meluluh-lantakkan Sumbar baru-baru ini, kita lihat betapa berat dan sulitnya tugas Tim SAR dalam mengevakuasi korban yang tertimbun dalam reruntuhan gedung, ataupun terbenam dalam longsoran tanah. Tanpa mengenal lelah, meskipun dengan peralatan seadanya, orang-orang berjiwa mulia ini terus bekerja tanpa henti, seringkali dengan mengabaikan makan dan waktu istirahat mereka sendiri.

Solidaritas kemanusiaan juga sangat besar ditunjukkan para relawan dari berbagai negara. Pada musibah gempa dan tsunami di Aceh, gempa di Yogya, dan gempa di Sumbar kali ini, tim SAR dari Jepang, Uni Emirat Arab, Jerman, Swiss, Qatar, Inggris, Australia, dan Korea, serentak datang dengan membawa berbagai bantuan.


IMG_2213

Tim SAR berdiskusi untuk mencari cara terbaik mengevakuasi korban dari dalam reruntuhan hotel Ambacang, Padang

Operasi SAR yang tercatat paling awal dilakukan adalah pada tahun 1656 terhadap kapal dagang Vergulde Draeck di lepas pantai Australia. Tiga tim dikirim untuk menyelamatkan kapal berbendera Belanda tersebut, namun kapal gagal diselamatkan.

Kini, Tim SAR dari berbagai negara telah dilengkapi dengan peralatan canggih, sehingga upaya penyelamatan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan akurat.


Heli rescue Canada Heli rescue Jerman

Helikopter dan kapal rescue milik Canada (kiri) dan Jerman (kanan). Foto diambil dari sini

(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »