Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2011

Ki Hujan..

Halow semua ..
apa kabar..? semoga baik-baik saja ya ..
Karena sang em’punya blog lagi busy, akhirnya lagi-lagi saya yang cuap-cuap siaran di TV..
buat fans Bu Tuti silahkan kecewa deh .. ^^ 

Jujur saya akui, kalau bikin postingan saya selalu males nyari sumber atau data-data ..
dan itu memang salah satu keajaiban saya .. he..he..
Pengennya nulis apa adanya yang ada di kepala, tapi masalahnya isi kepala saya cetek .. hi..hi..
berhubung kali ini jadi penulis tamu, yah musti googling dikit .. biar gak ngaco .. ^^

Beberapa waktu yang lalu saya maen ke Malang dan melewati Alun-alun bundar depan balai kota Malang ..
saat melihat pohon-pohon besar di seputar Alun-alun, saya jadi pengen mencari tahu jenis dan sejak kapan pohon itu ditanam..
Sebenarnya sudah tau sih itu pohon trembesi, tapi untuk masti’in aja takut salah.. 🙂
dan ternyata pohon trembesi itu usianya sudah ratusan tahun lho, ditanam saat bangsa Belanda masih memerintah di Malang..
wow..!! pantes gede-gede gitu..


(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Perfect Life

Kapankah hidup dikatakan sempurna? Jika kita memiliki pernikahan yang hebat, anak-anak yang sukses, karier yang melejit, kesehatan yang prima, dan materi berlimpah? Siapapun pasti akan setuju, setiap orang mengidamkan kehidupan seperti itu. Dan bahwa itu adalah hidup yang sempurna, yes indeed. Tetapi apakah hidup yang sempurna harus memiliki semua hal di atas? Jika ya, berapa banyak manusia di muka bumi ini yang beruntung memilikinya?

Kesempurnaan hidup bisa berbeda ukurannya bagi setiap orang. Kehidupan yang di mata orang lain terlihat menyedihkan, bisa jadi oke-oke saja bagi yang menjalaninya. Sebaliknya, seseorang yang tampak memiliki segalanya, belum tentu merasa hidupnya sempurna.

Jadi, dimanakah letak kesempurnaan itu?

Barangkali, ada di dalam keikhlasan hati. Ketika seseorang ikhlas menerima dan menjalani hidupnya, disitulah ia merasakan kesempurnaan hidup. Maka, kesempurnaan hidup bisa dimiliki oleh siapapun juga, dalam kondisi seperti apapun juga ….



Hari Sabtu yang lalu, saya berkumpul dengan tiga orang teman wanita. Usia kami sebaya, tetapi dengan latar belakang yang aneka rupa. Satu orang memiliki pernikahan yang bahagia, satu orang menikah tapi acap merasa kecewa dengan pernikahannya, satu orang dalam proses divorce setelah menikah selama 22 tahun, dan satu orang lagi belum menikah. Satu orang berprofesi financial consultant, satu orang wartawan senior, satu orang manager perusahaan bahan kimia, dan yang satu orang lagi adalah dosen. Komposisi yang hebat, bukan? Bak empat wanita dalam serial “Se* And The City” … haha! 😀


Jika empat perempuan matang (mangga ‘kali … 🙂 ) berkumpul dan bicara dari jam tujuh malam sampai jam satu dini hari, apa yang dibicarakan? Sudah pasti tentang hidup dan aneka permasalahannya. Dari pembicaraan itulah muncul perenungan saya tentang kesempurnaan hidup.

Orang dengan mudah ‘menuduh’ wanita yang tidak menikah pasti hidupnya sedih, kesepian, sengsara. Demikian juga wanita yang bercerai pantas ‘dicurigai’ hidupnya amburadul, berantakan, dan penuh penderitaan. Pada kenyataannya, tidak selalu demikian. Teman saya yang tidak menikah menjalani hidupnya dengan happy, santai, dan penuh kebahagiaan. Teman saya yang memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya merasa hari-harinya ringan, penuh harapan, dan lega luar biasa.

Pada umumnya, perempuan lebih tough menghadapi permasalahan hidup. Perempuan lebih tangguh menghadapi gempuran persoalan. Perempuan juga lebih siap untuk menjalani hidup sendirian. Mengapa? Mungkin karena perempuan suka menjalin kebersamaan dengan orang lain, perempuan suka berbagi dan saling mendukung. Perempuan mudah berbagi perasaan dan beban hati dengan berbicara kepada sesama perempuan, hal yang jarang dilakukan oleh pria.

Perempuan memiliki perasaan yang lebih lembut. Perempuan gampang menangis. Tetapi kelembutan hati dan air mata itu bukan berarti perempuan lemah.



Hidup memang beraneka ragam. Tak selalu sempurna. Lagipula, apakah hidup memang harus sempurna?


Read Full Post »

Madame Tussaud

Mengabadikan orang-orang besar akan membuat seseorang menjadi besar juga. Itu ungkapan yang sangat pas untuk Anna Maria Grosholtz, atau lebih dikenal dengan Madame Tussaud.

Museum Madame Tussaud tersebar di berbagai kota besar di dunia. Jika Anda punya waktu, bisa mengunjungi salah satu Museum Madame Tussaud yang ada di London, Amsterdam, Berlin, Las Vegas, Hollywood, Washington, Praha, Hongkong, dan masih banyak kota lain (sayangnya belum ada di Purwokerto atau Simalungun … 😀 ). Apa sih isi museum ini, sehingga begitu populer dan menarik sangat banyak wisatawan dari seluruh dunia? Siapa pula Madame Tussaud?

Yuk kita kenalan dulu dengan wanita hebat ini …

Anna Maria Grosholtz lahir di Strasbourg, Perancis, pada 1 Desember 1761. Ayahnya, Joseph Grosholtz, tewas dalam Perang Tujuh Tahun, dua bulan sebelum dia lahir. Ibunya, Anne Marie Walder, kemudian membawanya ke kota Bern, Switzerland. Di kota ini sang ibu bekerja sebagai pengurus rumah tangga Dr. Philippe Curtius, seorang dokter yang pandai membuat patung lilin untuk memberikan pelajaran anatomi tubuh manusia. Curtius lah yang mengajari Anna Maria membuat patung lilin, yang di kemudian hari membuat wanita ini menjadi sosok legendaris.

Karya pertama Anna Maria adalah patung Voltaire, yang dibuatnya pada tahun 1777 (wow … berarti dia baru berumur 16 tahun!). Tokoh lain yang dibuatnya pada masa itu adalah Jean Jacques Rousseau dan dan Benjamin Franklin.


Madame Tussaud pada usia 42 tahun … cantik tapi terkesan agak misterius


(lebih…)

Read Full Post »

ORANG BAIK BERTEMU ORANG-ORANG BAIK

Saya selalu senang pergi ke Jakarta. Meskipun banyak orang bilang ‘Ibukota lebih kejam dari Ibu Tiri’, bagi saya Jakarta baik-baik saja. Meskipun televisi dan koran sering menampilkan kemacetan dan banjir di Jakarta yang membuat orang sengsara, alhamdulillah saya selalu terhindar dari kedua hal tersebut. Saya senang melewati kawasan sekitar Monas yang hijau dengan pohon-pohon rindang. Di Yogya, susah menemukan kawasan seperti itu. Saya juga senang memandangi gedung-gedung jangkung yang megah, memikirkan alangkah hebatnya para insinyur yang merancang dan membangun gedung-gedung tersebut. Meskipun saya sendiri orang Teknik Sipil, saya belum pernah membangun gedung hebat seperti itu. Maklum, kerja saya cuma uplek di kampus … 🙂


Monumen Nasional, di dalamnya terdapat museum yang menyimpan sejarah perjuangan bangsa Indonesia

Kawasan terbuka yang hijau di sekeliling Monas


Saya relatif sering ke Jakarta (dibanding ke kota-kota lain). Tahun 2010 saya 6 kali ke Jakarta, terakhir pada tanggal 29 dan 30 Desember. Salah satu acara saya di Jakarta kemarin adalah menghadiri promosi doktor kawan baik saya, Pak Eko Atmadji, di FE UI.

Selama ini saya selalu mengandalkan taksi untuk hilir mudik di Jakarta. Tapi Pak Eko memprovokasi saya untuk naik KRL ke UI, apalagi hotel saya kebetulan ada di Jakarta Pusat, dekat dengan stasiun yang disinggahi KRL. Naik KRL sungguh tak pernah terlintas dalam benak saya selama ini. Bayangan kereta yang penuh berjubel dengan penumpang sampai ke atap membuat saya belum-belum sudah mau pingsan. Tapi Pak Eko bilang ada KRL Ekspres ber-AC, dan di luar jam berangkat serta pulang kantor, penumpang biasanya tidak penuh. Hmm …. menarik juga. Saya merasa tertantang mencoba naik KRL, untuk memperkaya pengalaman hidup (hayaah …. 😀 )


(lebih…)

Read Full Post »