Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2008

Selamat Idul Fitri 1429 H

Read Full Post »

Parcel

PARCEL, BINGKISAN TANDA KASIH  …

Jika menilik kata “parcel” yang berasal dari bahasa Inggris, tentulah pemberian bingkisan ini bukan asli budaya kita. Entah sejak kapan parcel menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Mungkin sejak (sebagian) bangsa kita semakin makmur, sehingga mampu mengalokasikan dana untuk mengirim parcel. Mula-mula dikenal parcel Idul Fitri, kemudian ada parcel Natal dan Tahun Baru juga.

Bagi sebuah perusahaan, parcel adalah sarana untuk menyapa dan mengungkapkan penghargaaan kepada relasi bisnis. Bagi kalangan birokrat, parcel menjadi semacam penghormatan kepada rekan sejawat, atasan, maupun bawahan.  Bagi sahabat, kerabat, dan keluarga, parcel merupakan tanda persaudaraan dan kasih sayang.

Parcel pun berkembang bentuknya, dari sekedar makanan, kemudian beralih ke barang-barang pecah belah kebutuhan rumah tangga, peralatan beribadah, hingga peralatan elektronik. Nilainya pun tergantung dari kelas sosial pengirim dan penerimanya, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Berbagai makanan dan minuman yang menjadi isi parcel

(lebih…)

Read Full Post »

My Favorite Corners

POJOK NGEBLOG, POJOK NGIMPI

Menjelang lebaran, kayaknya banyak teman-teman bloger yang sudah off. Mungkin karena mudik, mungkin karena sudah libur kantor (yang biasanya nebeng nge-net di kantor jadi libur juga ngeblognya … hehe), mungkin karena sibuk menyiapkan berbagai masakan (nyam nyam …. jadi lapar nih). Oleh karena suasananya nggak kondusif (halah!) untuk posting artikel serius, saya tulis yang enteng-enteng aja daaah ….

Ini  tentang sudut-sudut di rumah yang menjadi favorit saya, dan paling banyak saya pakai untuk menghabiskan waktu. Rumah saya keciiil. Kalau saya berdiri di ruang tengah, saya bisa melihat seluruh sudutnya. Pokoknya dalam beberapa langkah, semua sudah terjangkau tangan, dari dapur sampai tempat tidur.

Oh ya, mohon maaf kalau ada kesan pamer. Maksudnya nggak gitu sih, swear. Lagipula apa yang dipamerin, wong cuma meja dan kursi doang. Nggak ada yang mewah, mahal, atau eksklusif. Saya cuma ingin nunjukin, ini lho tempat saya ‘uplek’ sehari-hari … (padahal bagi teman-teman mungkin e-ge-pe ya, emang gue pikirin lu mau ngeblog sambil jongkok atau sambil nyungsep …. hehehe …. koq gitu sih? tega amat … )

Ruang kerja tempat saya menghabiskan waktu berjam-jam untuk menulis postingan, menjawab komentar, searching data, dan blog walking

(lebih…)

Read Full Post »

Kriing, Kriing …! Pos!

PAK POS, PENYAMBUNG CINTA DAN RINDU

Separuh perjalanan hidup saya rasanya bisa dilacak di kantor pos. Ketika masih kecil imut (ireng klumut = hitam lusuh) saya rajin ke kantor pos untuk menabung. Maklum, sebagai pramuka yang baik saya kan harus punya buku tabungan (meskipun isinya cuma beberapa rupiah, dan frekuensi menabung balapan dengan frekuensi menarik tabungan … ).

Menginjak remaja, saya datang ke kantor pos untuk menguangkan wesel dari majalah Gadis, Femina, Kartini, dll untuk honorarium menulis cerpen. Ketika menerima wesel pertama dari majalah Gadis, saya baru berumur 15 tahun. Karena belum punya KTP, saya harus melegalisir wesel tersebut ke Pak RT dan Pak RW. Bapak-bapak pejabat itu bingung ketika melihat nama yang tertulis di wesel tidak sama dengan nama saya di kartu keluarga. “Lho, iki kok jenengmu Tuti Nonka ki piye to Nduk?” mereka bertanya. Terpaksalah, dengan malu dan tersipu-sipu (asli lho malunya … ) saya jelaskan mengapa nama saya jadi aneh dan ganjil begitu (ya, kan terdiri dari 9 huruf, jadi ganjil to?). Lalu karena di kolom ‘berita’ tertulis bahwa wesel itu adalah honor cerpen berjudul “…….” yang dimuat di Gadis nomor sekian tanggal sekian, Pak RT dan Pak RW pun jadi tahu kalau saya ini tukang ngarang. Berita pun menyebar bir-to-bir (hwaduh, imajinasinya jangan kemana-mana, maksud saya : dari kata-kata yang muncul di bibir satu orang ke bibir orang yang lain lagi), membuat saya jadi selebriti kampung (halah!).

Ketika datang musim bercinta (alamak!) kantor pos pun menjadi ajang penyambung rindu asmara. Surat demi surat melayang ke dan dari kantor pos, seminggu bisa lebih dari satu kali. Meskipun pacaran sekota, komunikasi utama adalah lewat surat, karena zaman itu (beberapa abad yang lalu deh) telpon masih barang inventaris syurga yang diimpikan pun haram hukumnya. Saya juga punya banyak sahabat pena, para pembaca cerita saya yang berkirim surat, sehingga aktivitas mengirim dan menerima surat hampir terjadi setiap hari.

Sekarang, apakah hubungan mesra saya dengan pak pos masih berlanjut?

Bis surat, disinilah cinta dan rindu berlabuh …

(lebih…)

Read Full Post »

Radar Kok Dibilang Wortel ….

INI OBAT ANTI GELAP MATA …

Ada sebuah iklan susu di televisi (sudah agak lama sih). Dua keluarga sedang piknik di alam bebas, yang satu keluarga Sunda, yang satu keluarga Jawa. Anak lelaki dari keluarga Sunda mengangkat segelas susu dan berkata “Ini teh susu … “. Anak perempuan dari keluarga Jawa menjawil ibunya, dan sambil memandang kepada anak laki-laki dari keluarga Sunda itu, ia berkata dengan geli “Susu kok dibilang teh …”  Wakakaka. Bocah Jowo iki ora mudheng boso Sundo …

Kalimat yang diucapkan gadis kecil itulah yang mengilhami saya memilih judul tulisan ini.

Lalu, apa hubungan radar dengan wortel? Hubungannya sejauh 100 tahun cahaya. Busyet! Apa itu 100 tahun cahaya? Oh, kata para ahli, cahaya merambat dengan kecepatan 300.000 km/detik, jadi kalau 100 tahun, silahkan dihitung sendiri (dan puyeng sendiri) berapa trilyun km jauhnya.

Tapi di masa Perang Dunia II, radar dan wortel ternyata berkaitan erat. Paling tidak bagi RAF (Royal Air Force), Angkatan Udara Inggris …

Badge of Royal Air Force

wortel, wortel, dan wortel …

(lebih…)

Read Full Post »

Dorr! Awas ….

TEROR DARI UDARA

Kita pasti pernah mendengar, menonton langsung, melihat di televisi, atau membaca di koran, tentang ‘tembakan ke udara’. Tembakan ke udara dilakukan pada berbagai event :  merayakan kemenangan perang, memeriahkan tahun baru, upacara militer, peringatan bagi penjahat yang kabur, juga tanda start untuk lomba lari. Meskipun beberapa waktu yang lalu ada juga pelawak ibukota (berinisial D) yang menembakkan peluru ke atas ketika jengkel dikerubuti wartawan yang ingin tahu tentang isteri simpanannya, itu pastilah peristiwa konyol yang hanya mungkin terjadi di Indonesia ….

Tembakan ke atas tentu saja tidak ditujukan untuk melukai orang, tetapi benarkah tembakan seperti itu aman? Apakah setelah ditembakkan, peluru itu akan terus melesat tanpa henti, menembus alam semesta, tiba dan bersemayam di nirwana, dan tak pernah jatuh kembali ke bumi?

Tentu saja tidak. Peluru itu akan jatuh kembali ke bumi. Dan jika mengenai kepala kita, maka kita akan langsung naik ke syurga (atau kecebur ke neraka).

Revolver Colt Python 357 Magnum. Gagah dan berwibawa

(lebih…)

Read Full Post »

Jam Berapa Sekarang?

GMT, WIB, WKI ….

GMT = Greenwich Mean Time. WIB = Waktu Indonesia Barat. WKI = …. ??  Ooh, Waktu Karet Indonesia. Undangan jam 08.00, tamu datang jam 08.30, acara dimulai jam 09.000 …. Maklum, Indonesia adalah satu negara produsen getah karet dunia.

Tulisan ini bukan soal WKI, tapi soal ‘kebingungan’ waktu internasional. Jika kita berada di Singapura atau Kuala Lumpur, kita akan merasa ‘aneh’ dengan waktu. Waktu di kedua kota itu rasanya terlalu cepat datang. Jam 7 pagi, cuaca terlihat masih seperti jam 6 pagi. Dan memang, ada perbedaan waktu 1 jam antara Singapura dan Kuala Lumpur dengan WIB, dimana kedua kota itu satu jam lebih cepat.

Saya heran dan protes nggak habis-habis. Bagaimana mungkin mereka bisa punya waktu 1 jam lebih cepat dari WIB, padahal kedua kota itu berada pada bujur yang sama dengan WIB?

Bumi berputar pada porosnya dalam waktu 24 jam (sehari semalam). Karena bumi dibagi oleh garis-garis bujur menjadi 360°, maka setiap selisih bujur sebesar 15° akan berakibat selisih waktu sebesar 1 jam. Garis bujur 0° sekaligus dipakai sebagai jam 0 GMT terdapat di Greenwich, London. Wilayah Indonesia Bagian Barat terdapat pada bujur 105°, sehingga selisih waktunya adalah 7 jam dengan GMT (WIB lebih cepat, atau GMT+7). Naaah … silahkan lihat di peta, Kuala Lumpur dan Singapura ada di sekitar bujur 105° juga, sehingga mereka seharusnya memiliki jam yang sama dengan WIB, yaitu GMT+7. Nyatanya, mereka dengan pe-de sekali memakai waktu GMT+8, atau sama dengan WITA (Waktu Indonesia Tengah).

Saya ‘memprotes’ hal ini kepada beberapa orang (sambil nunjukin peta segala), tapi nggak ada yang mau ‘bertanggung jawab’ ….

Bagaimana mungkin Kuala Lumpur dan Singapore lebih cepat 1 jam dari Pekanbaru dan Medan yang memakai WIB?

(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »