DARI NYOMAN GUNARSA SAMPAI ANTONIO BLANCO
Kenal lukisan “Mona Lisa”? Kenal dong, itu kan karya Leonardo da Vinci. Tahu “Sun Flower”nya Van Gogh? Ya iyalah, lukisan itu dibuat tahun 1888 di Arles, Perancis. Pernah melihat “The Nightwatch” karya Rembrandt? So pasti, itu lukisan paling terkenal! Kalau lukisan “Legong Dancers” milik I Nyoman Gunarsa? Mmm … sebentar, kayaknya pernah dengar sih. Suka lukisan I Gusti Nyoman Lempad? Waduh, siapa tuh …?
Ada kalanya kita begitu akrab dengan lukisan hasil karya bangsa Barat, tapi kurang mengenal pelukis-pelukis hebat bangsa kita sendiri, apalagi mengapresiasi lukisan-lukisan mereka. Sebelum menjelajah ke seluruh Nusantara, kita berkenalan dengan pelukis-pelukis Bali dulu yuuk …
I Nyoman Gunarsa adalah salah satu pelukis hebat yang lahir di Klungkung pada 15 April 1944. Ia memperoleh pendidikan seni di ASRI (Akademi seni Rupa Indonesia) Yogyakarta. Di Yogya pula, Nyoman Gunarsa mendirikan museum seni, yang mulai dibangun pada tahun 1987 dan diresmikan pada 31 Maret 1989 oleh Claire Wolfowitz, isteri Dubes Amerika untuk Indonesia pada waktu itu, Paul Wolfowitz. Saat ini Nyoman Gunarsa tinggal di Bali, dan masih terus melukis.
Mengagumi lukisan Nyoman Gunarsa di sebuah gallery seni di Ubud, Bali.
“Saya melukis garis sebagaimana saya bernyanyi, dan saya meletakkan warna sebagaimana saya menari” demikian kata Nyoman Gunarsa. Hasil karyanya memperlihatkan kebebasan, baik dalam garis maupun warna. Lukisan-lukisan Gunarsa sudah beredar di balai-balai lelang seni di luar negri, dan memperoleh harga yang sangat tinggi. Saya jatuh cinta pada lukisan di atas, tapi patah hati dengan harganya yang mencapai 100 juta rupiah …
Bali, khususnya Ubud, memang tempat kelahiran para pelukis besar. Keindahan alam Bali yang luar biasa juga telah memikat banyak pelukis asing untuk melupakan negeri kelahirannya dan menetap di Pulau Dewata. Don Antonio Blanco adalah salah satunya. Pelukis kelahiran Spanyol tahun 1911 ini sangat piawai melukiskan keindahan wanita. Model yang dipakai adalah isterinya sendiri, Ni Ronji, dan anak sulungnya, Tjempaka Blanco. Blanco meninggal tahun 1999 dalam usia 88 tahun, dan jenazahnya di’aben’ dengan upacara Hindu Bali. Putranya, Made mario Blanco meneruskan jejak sang ayah menjadi pelukis, sekarang tinggal di rumah sekaligus museum Antonio Blanco di Ubud.
Lukisan diri Antonio Blanco ketika masih muda
Selain Antonio Blanco, salah seorang pelukis Barat yang juga menjadi ‘orang Bali’ adalah Le Majeur. Pelukis asal Perancis ini juga beristrikan wanita Bali, bernama Ni Polok. Kisah hidup Ni Polok yang mengharukan, bagaimana ia ditempa oleh Le Majeur dari seorang gadis desa yang buta huruf menjadi wanita Bali yang ulet, ditulis oleh Yati Maryati Wiharja sekitar tahun 1980an. Sama seperti Blanco, Le Majeur juga menjadikan Ni Polok sebagai model lukisannya. Mengharukan membaca bagaimana Ni Polok harus berbaring berjam-jam di pasir yang panas tanpa pakaian ketika menjadi model lukisan suaminya, tanpa sedikitpun berani bergerak apalagi protes …
I Gusti Nyoman Lempad, pelukis legendaris Bali yang dilahirkan di Bedahulu tahun 1862 ini juga dikenal sebagai ‘undagi’ (perencana bangunan tradisional) dan ’sangging’ (pembuat perangkat untuk upacara ngaben). Tahun 1970 ia mendapatkan Anugerah Seni dalam bidang seni lukis dari Pemerintah Indonesia, dan pada tahun 1982 menerima penghargaan Dharma Kusuma dari Pemda Bali.
Lukisan I Gusti Nyoman Lempad
Selain pelukis-pelukis besar di atas, masih banyak pelukis-pelukis Bali yang karyanya sangat indah. Made Wianta adalah salah satu pelukis generasi sekarang yang karyanya menjulang di jagat seni lukis.
Berkeliling gallery lukisan di Bali benar-benar wisata mata dan wisata nurani yang menghanyutkan. Sayangnya, setiap lukisan yang saya taksir selalu berharga di atas 50 juta (aduhai!), sehingga akhirnya saya cukup puas dengan menikmati saja lukisan-lukisan indah itu, tidak berani lagi bertanya berapa harganya …
Tetapi sebenarnya — sebagaimana saya tulis di depan — harga lukisan sangat relatif, dan tidak ada standarnya. Kalau kita benar-benar menyukai sebuah lukisan, dan sang pelukis memiliki ‘chemistry’ kepada kita (maksudnya ’sreg’ kepada kita), dia bisa saja menurunkan harga lukisan atau bahkan memberikannya secara cuma-cuma kepada kita. Yah, persis seperti kakak saya, yang karena saya tidak mau membeli anthuriumnya, akhirnya malah memberikan 4 pot anthurium dan aglaonema kepada saya (baca Gelombang Cinta, Mahal Tiada Tara
Di sebuah galeri, saya jatuh cinta pada sebuah lukisan penari bali karya Made Wianta, tapi ya itu tadi … harganya 60 juta. Jelas saya langsung mengkeret. Staf galeri, melihat saya benar-benar berminat, menanyakan berapa harga yang bersedia saya bayar. Dia akan menelepon Wianta, siapa tahu Wianta mau melepaskan lukisannya. Laah … saya tetap saja tidak bisa menyebutkan angka. Harga 60 juta, mau saya tawar berapa? Masak saya bilang 6 juta? Nanti Wianta malah tersinggung, kan? Waktu itu saya belum tahu, kalau Wianta adalah salah satu pelukis papan atas yang harga lukisannya bisa di atas 100 juta. Nyesel juga saya tidak mau menemui Wianta sendiri. Siapa tahu, setelah bertemu, dia malah menghadiahkan lukisan itu kepada saya …. Olala!
Lukisan beraliran impressionisme ini harganya Rp. 70 juta rupiah. Tapi memang luar biasa bagus, dan ukurannya cukup besar, sekitar 2 x 1,5 meter
Tidak semua lukisan Bali mahal. Lukisan tradisional seperti ini bisa diperoleh dengan harga beberapa ratus ribu rupiah saja.
Mengamati lukisan-lukisan yang dipajang di sebuah gallery seni di Ubud.
Tidak hanya lukisannya yang indah, gallerynyapun canteeek …
Tidak ada ruginya mengoleksi salah satu lukisan Bali di rumah. Tentu saja pilih lukisan yang harganya sesuai dengan rumah kita. Pasti lucu sekali kalau kita tinggal di rumah RSSSSSSSS (rumah sangat sederhana sehingga selonjor sedikit saja susah sekali) tapi mengoleksi lukisan seharga ratusan juta …
















Dari semua pelukis Bali yang mbak Tuti sebutkan, saya hanya pernah mendengar Antonio Blanco, selebihnya baru membaca di blog ini.
Saya hobby mendesign interior rumah saya sendiri, tetapi semua lukisan yang kami punya tidak ada dari pelukis terkenal. Kemarin waktu kami ke Hawaii dan Las Vegas sempat mampir ke Gallery lukisan dan hasilnya juga sama, harga lukisannya selangit.
Apakah harga sebuah karya seni merupakan barometer untuk mengukur talenta seorang seniman atau ketenaran seorang seniman ya mbak Tuti?
Demikian dan terima kasih.
Harga lukisan sangat relatif, semau-mau si pelukis, dan sesuka-suka si pembeli. Kalau sudah masuk balai lelang lukisan, harga lukisan seringkali sudah ‘digoreng’ (ini istilah mereka), yaitu diangkat agar orang tertarik dan ‘percaya’ harga lukisan itu memang mahal (sama seperti harga ‘godhong sinting’ anthurium). Tapi kalau balai lelang yang profesional, seperti Christie’s atau Sotheby, harganya memang berdasarkan penawaran yang diajukan pembeli.
Saya juga mengoleksi cukup banyak lukisan, sampai akhirnya disimpan saja di gudang, karena dinding rumah sudah penuh. Mudah-mudahan suatu saat nanti bisa membuat semacam galeri sederhana (maksudnya sekedar rumah dengan dinging luas untuk memajang lukisan). Saya dan suami juga tidak pernah membeli lukisan yang mahal-mahal kok. Lukisan paling mahal yang kami beli adalah karya GM Sudarta (karikaturis Kompas) seharga 10 juta. Itu saja mbayarnya merem (tutup mata), soalnya kalau lihat angkanya, takut nggak bisa tidur seumur-umur …
. Tapi lukisan itu memang bagus sekali, jadi ya nggak apa-apa deh, mahal buanget. Itupun sudah dikasih potongan banyak oleh GM, karena kebetulan kenal dengan suami saya (sebenarnya harga lukisan itu 20 juta).
Lukisan-lukisan yang lain saya beli di pameran-pameran, karena biasanya di pameran agak murah. Saya pernah beli lukisan muraaah sekali di JCC (Jakarta Convention Centre), cuma Rp 175.000,-. Lukisan bunga bergaya impresionisme. Saya pasang di atas tempat tidur di Caty’s House (ada fotonya di blog).
Harga lukisan Affandi dan putrinya, Kartika Affandi juga mahal, di atas seratus juta. Tapi saya nggak tertarik, soalnya nggak mudheng gaya coretannya yang ‘paling kluwer’ …
…” kalau kita tinggal di rumah RSSSSSSSS (rumah sangat sederhana sehingga selonjor sedikit saja susah sekali) …”,
kaya rumah ku to? RSSSSSSSSSS( Rumah Sangat Sengsara Sehingga Selalu Saling Silang Semua Sodara Saking Sempitnya Suasana)… sampai-sampai tak ada lagi yang berkunjung..
hi..hii..
Hallo Daffa,
Bagaimana kalau RSSSSnya kita ubah menjadi “Rumah Sangat Serasi Sehingga Semua Saudara Saling Sayang Serta Selalu Senyum”. Asyik kan? Siiip …
Kalau diundang, Bude mau lho berkunjung ke rumah Daffa, tapi dimintain Anthurium sama Opa ya …..
waktu ikut tour ke Bali juga diajak masuk gallery , lukisannya cantik2 dan harganya memang selangit
Yep. Sebagai koleksi, lukisan memang bisa menjadi investasi yang sangat berharga. Tapi tentu saja harus tahu mana lukisan yang harganya tinggi dan nggak bakal jatuh, mana yang tidak laku dijual kembali.
wah… jadi inget masa kecil…soalnya papa suka lukisan, jadi dari kecil dah sering diajak ke galery termasuk galery antonio b…..jaman dulu lukisan bali masih murah lho…
Beruntunglah Rani, yang sudah dikenalkan pada lukisan sejak kecil. Harga lukisan sekarang memang bisa sangat mahal. Tetapi untuk mengoleksi lukisan, bagi saya yang penting saya suka, tidak harus yang mahal-mahal.
Terimakasih Rani sudah berkunjung …
Aku mau jual lukisan dinding tapi ke mana ya? Soale aku gk begitu tau ttg pengoleksi lukisan..
Sebelumnya Thanks alot atas infonya bagi teman2 ya?
Tuti :
Mungkin Ipeh bisa ikut pameran-pameran lukisan yang diadakan di kota tempat Ipeh tinggal. Bisa juga ditawarkan melalui blog Ipeh.
Ada teman-teman yang punya usul lain?
salam kenal artikelnya bagus
Tuti :
Terimakasih Yana. Pelukis batik ya?
lam kenal mbak tutinonka…jadi pingin tau karya2 pelukis terkenal…punya referensi gak tentang pelukis2 bali terkenal yang sedang ngetren n berkembang dibali saat…makasih sharenya
Tuti :
Salam kenal juga, Nazent
Karya pelukis-pelukis terkenal? Whoaa …. banyak banget. Sebagian bisa dilihat di postingan saya “Louvre, Istana Seni Dunia”, dan “Van Gogh, Koninklijk Paleis dan Turis Jawa” di blog ini.
Kalau pelukis Bali yang saya tahu adalah Made Wianta, Nyoman Gunarsa. Sebenarnya banyak, cuma saya agak lupa …
Mbak, ketika baca artikel ini, pikiran saya jadi serasa terbang ke ubud, Bali. Saya sangat suka suasana & pelukis2 dgn berjuta karyanya. Kapan yach bisa tinggal disana biar bisa kenal dan belajar dari para pelukis top di Ubud …. jadi ngelamun mbak, hehehe…
Best Regard,
Bintang
http://elindasari.wordpress.com
Tuti :
Iya, memang Bali itu gudangnya seniman. Pelukis, penari, pematung, wah …. hebat-hebat. Saya ke Ubud terakhir tahun 2005. Tapi cuma sehari. Whoaa …. saya mau juga tinggal di sana beberapa lama, untuk belajar melukis dan menari (kalau mematung enggak deh, terlalu sulit). Saya pernah belajar melukis, tapi karena kesibukan ini-itu, macet sebelum berhasil melukis beneran.
Yuuk ngelamun bareng-bareng ….
salam hangat,
aq punya lukisan Bali tua namanya I Ketut Rudin 2 buah penari dan barong_barong. siapa minat? 085285291427
Tuti :
Lelang lukisan nih? Komisi 10% buat pemilik blog ya …
salam kenal semuanya,
Aku punya beberapa lukisan dirumah tp bingung kalo mau jual itu kemana ya…? tolong infonya dong… thanks sebelumnya
Tuti :
Salam kenal juga, Sukma
Mau jual lukisan? Bisa di titipkan di galeri, ikut pameran lukisan, atau ditawarkan lewat internet.
klo kita mau nambah ilmu tentang seni lukis ada yang tau gak tempatnya…???
Tuti :
Kalau secara formal, bisa kuliah di ITB Jurusan Seni Rupa, ISI (Institut Seni Indonesia) Yogya atau Solo, atau di UNY (Universitas Negeri Yogya) Jurusan Seni Rupa. Kalau yang informal, ya belajar kepada para pelukis senior.
Saya pernah ditawarin lukisan karya A. Blanco yang Penari Bali… Harganya 150 jta!!Wadduh… gimana mbayarnya yahh…
Emang segitu yah,harganya???
Tuti :
Karya Antonio Blanco memang mahal, apalagi sekarang pelukisnya sudah meninggal. Harga lukisan memang bisa gila-gilaan sampai gila beneran …
Lukisan Affandi, Jeihan, dan pelukis-pelukis papan atas lain bisa mencapai harga yang nggak masuk akal (akal orang nggak berduit, maksudnya …
)
Waduh, kalau yang ini, minat kita sama Mbak …. mengagumi lukisan … sayang saya gak sempat ke museum Antonio Blanco waktu ke Ubud … telat, sudah tutup …
Tuti :
Wah, senang sekali ketemu teman yang punya hobi sama …
Untuk lukisan asing, Pak Riri suka karya siapa? Kapan-kapan saya posting tentang lukisan Rembrand, Renoir, dan Monet ya Pak …
Ohya, untuk lukisan-lukisan yang ada di Louvre, sudah saya posting di http://tutinonka.wordpress.com/2008/06/01/louvre-istana-seni-dunia/
Mbak Tuti, Insya Allah gak lama lagi saya mau pindah ke rumah yang baru .. ( mau dibangun) … di sebuah perumahan … dan saya ada di cluster PICASSO … he he he … tetangga saya cluster REMBRANT .. tapi ini hanya kebetulan kok …
Tuti :
Woaaa …. asyik banget Pak. Emang yang tinggal disitu harus pelukis dan penggemar lukisan ya? Saya mau, saya mau! Ada cluster Renoir atau Monet nggak?
Salam kenal,
Di rumah aku, aku pajang lukisan² bali yang aku beli di Pasar Goang Bali.
Enggak terlalu mahal, tergantung bagaimana kita nawarnya.
Yang paling gress 2 hari yll (31 Jan 09) baru tiba 2 lukisan dari bali yang aku pasang di dinding rumahku di Jogja.
Aku suka lukisan, tapi Rp memet, jadi aku pilih yang tidak mahal. Murah belum tentu tidak bagus.
Aku suka banget lukisan gaya bali, makanya seisi rumahku banyak banget lukisan bali (pasar, penari legong, dll).
Kalau ada yang murah tapi bagus, kenapa harus mahal????
Kalau bisa mahal, kenapa harus murah.
Tuti :
)
Salam kenal juga, Mbak Ratna.
Setuju …. mengoleksi lukisan tidak harus selalu mahal. Banyak lukisan yang murah, tapi bagus. Dan yang lebih penting lagi, kita menyukainya. Ada orang-orang yang sebenarnya tidak menyukai jenis lukisan tertentu, tapi membelinya dengan harga mahal hanya demi gengsi (alamaaak … )
Lukisan saya yang paling mahal harganya cuma 10 juta (itu aja bayarnya merem, soalnya kalau melek dan lihat jumlah uangnya, bisa pingsan …
Salam kenal semuanya
Baca artikel diatas memang serasa ingin ke Ubud saja dan suasana disana menyenangkan sekali
Lukisan di ubud bagus bagus dan sesuai lah dengan harganya
bahkan engga ada keberanian untuk membeli, mungkin harus menjiwai dulu kali
salam
Tuti :
Betul, Ronnie. Lukisan di Ubud memang buaguus-buaguus …. Nggak usah beli, bisa ikut menikmati nonton saja udah seneng kok. Yang mampu beli kayaknya memang cuma orang-orang yang punya pabrik duit …
Saya mau jual 2 lukisan tradisional bali…. Ada yang minat atau bisa kasih info kemana saya harus ‘pergi’? Bisa imel ke sallyselasih@yahoo.com . Terimakasih banyak atas bantuannya ….
Tuti :
Hallo teman-teman …. silahkan yang berminat menghubungi Sally
aku ingin banget jadi pelukis dan itu cita-citaku,andaikan ada yang mau ngajarin aku jadi pelukis mungkin aku seneng sekali taku g mungkin melukis di rumah terus menerus tanpa catatan khusus,bagi yang mau ngajarin aku jadi palukis tapi aku ga punya modal gimana caranya.
Tuti :
Di kota mana Akel tinggal? Apakah di kota Akel tidak ada pelukis, dimana Akel bisa belajar?
Jangan menyerah dan putus asa ya, semua cita-cita memang memerlukan kerja keras untuk mencapainya. Selamat berjuang.
Hem, jadi pengen ke Bali lagi mbak … nich pulau memang cantik…apalagi budaya & lukisannya sangat memikat hati
Kapan bisa ke plesiran ke Bali bareng yach mbak, hahaha
Best regard,
Bintang
Tuti :
Ayuk, kapan? Saya siap aja, kan ada bossnya … hehehe …
salam hangat,
Kalau pelukis bali saya suka I Nyoman Meja dan Arie Smit, masih cita-cita untuk memilikinya, nggak kuat belinya.
Tuti :
Ya, untuk karya pelukis sekelas mereka, memang harga lukisannya setinggi langit. Saya sendiri tidak terlalu ingin memiliki lukisan-lukisan mahal. Yang penting saya suka, meskipun murah
good luck………………
Tuti :
Thanks …
saya mau jual lukisan karya KARTIKA AFFANDI tahun 1973… kira2 harga berapa ya?
thx.
Tuti :
Tentu saja tergantung, lukisan Kartika yang mana? Yang jelas harga lukisan Kartika di atas 100 jeti …
Wah.. diatas 100 jeti ?? uhm… lukisan petani yang ad ayam jagonya bu.. trus.. kalo ga sudah pernah nampang di museum singapura.. ibu bisa kenalkan saya sama orang yg tertarik dgn hasil karya Kartika Effendi?
trims…
Tuti :
Saya pernah nonton pameran lukisan Kartika, harga lukisannya memang di atas 100 jeti, bahkan banyak yang 200-an jeti. Saya sendiri sayang mengeluarkan uang sebanyak itu untuk sebuah lukisan, kayaknya kok irrasional. Tapi lukisan yang bagus memang merupakan investasi, seperti menyimpan emas. Hanya saja tidak ada standar harga yang jelas.
Tentang orang yang tertarik pada karya Kartika, maaf saya tidak punya informasi …
oh begitu ya.. kalau memang lukisan ini merupakan salah satu puncak karya kartika, dan memang diakui oleh singapura, mungkin malah bisa lebih dari 200 jt ya bu.. trims utk semua informasinya bu…
Tuti :
Saya tidak tahu apakah lukisan milik Atuy itu salah satu puncak karya Kartika atau bukan, karena saya bukan ahlinya. Yang jadi pe-er sekarang adalah mencari pembeli yang berminat (dan punya uang), kan?
Salam kenal..saya punya lukisan karya pande wy karsa
gambar tentang jaka tarup / 7 bidadari
mau saya jual..dah di tawar sama Sebuah Galery cukup terkenal di jakarta..tapi harga nya ga cocok tuh..tema lukisan nya jg ada di sebuah KATALOG TERKENAL..DGN HARAG 50 – 75 JT..TAPI SAYA JUAL DI BAWAH ITU LOH..TOLONG BANTU YA
Tuti :
Silahkan …. ada yang berminat?
boleh tau lukisan wy karsa yg jaka tarub tahun berapa n ukurannya berapa, harganya berapa?
Bali, salah satu pulau di Indonesia yang punya segudang pelukis yang membanggakan negeri.
Tuti :
Betul. Maka marilah kita beli lukisan-lukisan Bali, agar seni ini terus hidup dan berkembang
emmmmm……aku pingin bisa nglukis biar mahir kayak pelukis2 lainnya…
belajarnya gimana ya…?
bisa gambarnya tp ga’bisa warnainnya…..pegang kuasnya aja bribet…
puuuusing dech
Tuti :
Belajarnya bisa formal (masuk sekolah Seni Rupa) atau informal (belajar pada pelukis). Memang harus tekun dan tak cepat bosan agar berhasil.
saya punya lukisan Le Majeur tahun 30an, cat air dan gambar pemandangan pantai banjarmasin… gimana kita tau kalo itu lukisan asli dan apa bener kalo lukisan cat air tidak semahal lukisan cat minyak…. tq and kalo sy mau jual berapa kira2 ya?
Tuti :
Ada teman yang bisa memberikan informasi untuk Di?
aku punya lukisan bali ya kira2 15th lalu koleksi nyokap beli di ubud gambarnya ngaben kira2 di jual bisa ga ya panjangnya 2.5m lebar 2m.kasih kabar dong…
Tuti :
Silahkan kepada yang berminat …