Feeds:
Tulisan
Komentar

Plagiat dan Fitnah

WAAH …. SAYA KENA!

Kisahnya berawal dari film “Troy”. Film kolosal yang dibintangi Brad Pitt, Peter O’Toole, dan Orlando Bloom ini untuk ke sekian kalinya diputar ulang di sebuah stasiun teve swasta. Saya sudah mereview film ini pada posting saya Troy, Legenda Helen dan Kuda Troya pada tanggal 8 Mei 2008. Dan setiap kali film “Troy” diputar ulang, selalu posting lama ini kembali banyak dikunjungi orang. Biasanya mereka menemukan tulisan saya melalui search di Google, karena terkesan pada film “Troy” dan ingin memperoleh informasi lebih lanjut tentang film ini.

Nah, begitu pula yang terjadi pada tanggal 6 November 2009. Posting saya kembali ramai dikunjungi, dan beberapa menulis komentar. Di antara para pembaca yang menulis komentar, tersebutlah seorang blogger, sebut saja R. Ia kemudian juga mengundang saya untuk berkunjung ke blognya.

Oke, saya pun balas berkunjung ke blog R. Postingannya bagus-bagus, hampir semuanya berupa artikel ilmiah populer. Tapi alangkah kagetnya saya ketika membaca posting  Misteri Piramida Part 2 , karena artikel itu sama persis dengan posting saya Pyramida, Jalan Menuju Surga Abadi tanpa menyebutkan sumbernya! Saking penasarannya, artikel tersebut saya print lalu saya cocokkan dengan posting saya. Betul-betul persis plek sampai ke titik komanya, hanya foto-foto di posting saya dihilangkan dan diganti sebuah gambar baru.


pyramid1 pyramid2 pyramid3

Beberapa foto yang ada di posting saya : pyramida, pekerja yang memotong batu penyusun pyramida, dan Raja Khufu’ meninjau pembuatan pyramida

Ya ampun! Ini benar-benar plagiat tanpa tedeng aling-aling! Saya lalu menulis komentar di blog R :

Lanjut Baca »

Inilah Indonesia

ARSIPEL, ANJUNGAN, DAN KEONG EMAS

Ini adalah tulisan ke tiga (dan terakhir) dari serial ‘dolan ke TMII’. Sebenarnya saya hanya berniat menulis dua artikel saja, karena khawatir teman-teman sudah bosan. Tapi melihat sambutan penggemar yang gegap gempita (yeee … bohooong!), dan setelah minta pertimbangan kepada para pinisepuh serta tetua adat, akhirnya saya memutuskan untuk menulis satu artikel lagi. Lagi pula, bagian terpenting TMII, yaitu Arsipel, Anjungan Rumah Adat, dan Teater Imax Keong Emas justru belum saya tulis.

Miniatur Arsipel Indonesia adalah bangunan pokok TMII, berupa danau buatan dengan gugusan pulau-pulau yang membentuk Nusantara, dengan skala 1 : 10.000. Luas Arsipel mencapai 8,4 hektar. Danau ini kedalamannya hanya 0,6 meter di bagian tepi, dan 1,5 meter di bagian tengah, sehingga tidak bisa dipakai untuk bunuh diri (wong orang berdiri nggak kelelep). Meskipun demikian, kita bisa menjelajah dari pulau ke pulau dengan menaiki perahu angsa yang disediakan, seakan melayari lautan yang mengelilingi Indonesia. Di sekeliling danau terdapat jogging track sepanjang 2,5 km, dimana kita bisa berolah raga jalan kaki atau lari (kalau pengin banget, merangkak juga boleh, tapi jangan ngesot sebab bakal diprotes para suster … hihi)

Di ujung timur danau, diapit anjungan Maluku dan Sulawesi Selatan serta berhadapan dengan Istana Anak Indonesia, terdapat Plaza Arsipel. Plaza seluas 2 hektar ini mulai digunakan pada tahun 2007, berada di lokasi yang dulu adalah Taman Anggrek. Taman Anggrek sendiri dipindahkan menjadi Taman Bunga Keong Emas. Plaza Arsipel memiliki panggung berukuran 18 x 20 meter, tribun, tata suara, tata cahaya, dan bisa menampung 10.000 penonton. Kalau mau dipakai untuk ajang Pesta Blogger, pasti muat …


IMG_0681

Danau Arsipel Indonesia, dengan Plaza Arsipel dan Istana Anak Indonesia di sebelah timur.

IMG_0686

Sky Lift, atau kereta gantung, membentang dari ujung barat sampai ke ujung timur Arsipel.

Dari kereta gantung kita bisa melihat miniatur Nusantara berupa Arsipel Indonesia, juga bangunan-bangunan lain yang ada di dalam TMII. Pada kunjungan yang ke dua tahun 2003, saya sempat naik sky lift ini. Woow … indah sekali menyaksikan Arsipel dari atas. Tapi bagi yang takut ketinggian, sebaiknya menutup mata jika naik kereta gantung ini (lho, jadinya lihat apa dong?).

Lanjut Baca »

MENJELAJAH MUSEUM DAN ISTANA DI TMII

Bicara tentang TMII, apa boleh buat, kita tak bisa melupakan Presiden Soeharto dan Ibu Tien. Beliau berdualah penggagas miniatur Indonesia ini, dan pada masa pemerintahan Pak Harto pula TMII terus diperkaya dengan berbagai fasilitas serta koleksi baru. Salah satunya adalah Museum Purna Bhakti Pertiwi, yang terletak di bagian paling depan, sebelum masuk ke gerbang utama.

Museum Purna Bhakti Pertiwi berisi koleksi cindera mata Presiden Soeharto selama pengabdian beliau sebagai Presiden RI. Museum ini diresmikan pada tanggal 23 Agustus 1993, bertepatan dengan ulang tahun ke 70 Ibu Tien (kelak pada ultah ke 70, saya meresmikan apa ya … hihi). Bangunan Museum PBP berbentuk tumpeng besar setinggi 45 meter dikelilingi sembilan tumpeng kecil, dengan luas total bangunan 25.095 meter persegi, berdiri di atas tanah seluas 19,7 hektar (data Wikipedia ).

Apa isi museum ini? Dengan segala permohonan maaf, saya terpaksa mengaku : tidak tahu, karena belum masuk ke dalam dan hanya memotret dari luar saja. Lain kali, kalau saya sudah masuk, saya pasti akan cerita (janji deh!). Sabar yaa … orang sabar kan disayang Tuhan. Atau, kalau ada di antara teman-teman yang sudah pernah masuk, share dong ceritanya kepada teman-teman yang lain. Honor? Ya’elaah … saya yang sudah nulis banyak aja nggak ada yang kasih honor, dan tetap bahagia ….


IMG_1138

Bangunan utama Museum PBP berbentuk satu tumpeng besar dikelilingi oleh banyak tumpeng kecil, simbol kemakmuran dan syukur dalam budaya Jawa

IMG_1139

Inovasi arsitektur bangunan yang unik, bentuk kubah dan segitiga a-simetris. Bangunan segitiga yang miring itu memang didesain demikian, bukan karena ambles setelah digoyang gempa …

Meskipun belum tahu isinya, keindahan dan keunikan bangunannya cukup menghibur dan menimbulkan rasa ingin tahu, kan?

Oke … lanjut ke museum lain yuuks!

Lanjut Baca »

Wisata Pintar di TMII

MAIN GIROSKOP  SAMPAI NAIK SEPUR

Wisata ke TMII? Orang Jakarta, bahkan mungkin juga anda yang tinggal nun jauh dari ibukota, akan spontan berkomentar ‘jaduuul… !’

Memang, Taman Mini Indonesia Indah yang terletak di Jakarta Timur ini sudah cukup sepuh. Gagasan pembangunan TMII dimunculkan oleh Ibu Tien Soeharto pada 13 Maret 1970. Meskipun gagasan untuk membuat sebuah miniatur Indonesia yang menghimpun seluruh kekayaan bangsa Indonesia itu sangat visioner, pada waktu itu pembangunan TMII mendapat tentangan keras dari mahasiswa dan masyarakat. Masalahnya, biaya pembangunan TMII luar biasa besar, padahal ketika itu ekonomi Indonesia sedang terpuruk, rakyat sulit memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun demikian gagasan tersebut terus mengkristal dan pembangunan fisik dimulai pada tahun 1972. TMII yang mencakup lahan seluas 150 hektar diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 April 1975.

Kini TMII sudah berusia 34 tahun. Setelah melewati sekian dasa warsa, terbukti TMII menjadi salah satu tujuan wisata yang diunggulkan dan paling banyak dikunjungi, dan menjadi ‘etalase’ kekayaan budaya Indonesia terlengkap.

Selain memiliki anjungan dari seluruh provinsi di Indonesia, di TMII juga terdapat berbagai museum serta pusat informasi. Meskipun sudah berusia tua, apa yang terdapat di TMII masih relevan untuk diketahui seluruh anak bangsa, dan menyajikan sangat banyak informasi yang bernilai pendidikan.

Yuk kita lihat dua edutainment yang ada disana : Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan Museum Transportasi.


IMG_1245

Halaman depan Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan land mark bola dunia (maap, ada yang numpang setor muka … )

IMG_1247

Monumen dengan gaya futuristik yang menarik, menyambut pengunjung di depan pintu masuk. Siapakah gerangan seniman pencipta karya indah ini?

IMG_1201

Bagian depan entrance, cerah ceria seperti taman bermain anak-anak.

Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ini berisi lebih dari 250 alat peraga iptek interaktif. Woow! Tempat rekreasi edutainment yang sangat mengasyikkan. Apa saja sih isinya? Kita intip yuuuks … !


Lanjut Baca »

Harkat Perempuan

HYMENOPLASTY DAN SELAPUT DARA PALSU, SIAPA MAU?

Mungkin banyak di antara kita yang tidak keberatan memakai barang palsu, seperti sepatu atau tas bermerk palsu, rambut palsu, sampai kecantikan palsu hasil polesan kosmetik. Tapi bagaimana dengan selaput dara palsu?

Selaput dara palsu? Ya ampuun …

Hymen atau selaput dara adalah bagian yang paling sensitif dari tubuh perempuan. Membran tipis ini selalu dijadikan simbol moralitas, harkat dan kesucian perempuan. Meskipun demikian, rusaknya selaput dara tidak selalu karena tindak a-susila, bisa juga karena olah raga, kecelakaan, atau sebab yang lain. Rusaknya selaput dara karena tindak seksual pun bisa terjadi akibat perkosaan, dimana perempuan bukan menjadi pelaku, melainkan korban.

Apapun sebab rusaknya selaput dara, sebagian besar pria (di masyarakat Timur) masih menginginkan istri dengan selaput dara utuh. Ini adalah realita. Dan realita ini yang menyebabkan produk selaput dara palsu laris manis. Mungkin pepatah ‘laris bak pisang goreng’ akan berubah menjadi ‘laris bak selaput dara palsu’ …

Ini tragedi bagi perempuan.

 

hymen bunga mawar

Kesucian ibarat bunga, yang indah namun rapuh, sehingga harus dijaga agar tidak rontok kelopaknya sebelum dipetik oleh yang berhak (foto : diedit dari Kompas.com)

Lanjut Baca »

Kencan

SORE YANG MENGESANKAN

Seorang perempuan bersuami kencan dengan dua pria beristri di sebuah hotel.

Bagaimana kesan anda jika membaca berita seperti itu? Sereeem … ! Dan bagaimana kalau perempuan itu adalah saya? Hiyaa!!

Ini serius. Beneran. Saya kencan dengan dua pria, yang satu setengah baya umur 45-an, yang satu lagi lebih muda, baru 35-an. Dua-duanya ganteng (paling nggak mereka merasa dan ngaku begitu … hihi). Kencannya di sebuah hotel bintang empat di Yogya.

Maka sore itu, Jum’at 23 Oktober, saya bersiap-siap untuk bertemu dengan kedua kencan saya. Deg-degan, dan juga tak sabar menunggu waktu yang dijanjikan. Sudah pasti saya berdandan dengan sebaik-baiknya. Tapi bagaimanapun saya mencoba mempercantik diri, hidung saya tetap saja duduk bersila tak mau tegak, dan mata saya tetap saja cuma dua (hihi … emang pengin punya mata berapa?)

Saya masuk dengan anggun (bleh … ) ke lobby hotel sepuluh menit lebih lambat dari waktu yang dijanjikan. Saya tebarkan pandangan ke segenap sudut lobby yang luas dan mewah itu, tapi dua pria kencan saya belum kelihatan wajah gantengnya. Oke, saya akan tunggu saja sambil mencoba mengontak mereka melalui hape.

Baru saja akan duduk di sebuah kursi, ada suara menyapa saya :

“Bu Tuti?”

Saya menoleh, dan …. yuhuuu, kencan saya yang satu, pria setengah baya yang hebat bukan main itu, berdiri di sana dengan senyum terkembang yang mempesona. Saya pun tersenyum menyapanya, lalu kami pun duduk di sebuah sudut yang nyaman. Meskipun sudah sangat mengenal beliau, ini adalah pertemuan pertama saya dengan bapak tiga putra itu. Kami pun langsung ngobrol dengan akrab, seperti sudah kenal bertahun-tahun.

Pria kencan saya yang kedua muncul beberapa menit kemudian. Woow … dia datang bersama istrinya yang cantik. Saya menyambut dengan gembira, karena saya kenal dengan sang istri dan sudah beberapa kali bertemu. Ha! Maka obrolan pun berlanjut dengan ramai di antara kami berempat.

Pengin tahu, siapa dua pria yang berkencan dengan saya sore kemarin ?


Lanjut Baca »

Nonton Dwiki

KONSER WORLD PEACE UNTUK KOMODO

Tanggal 17 Oktober kemarin saya dihadapkan pada dua pilihan yang benar-benar sulit, rumit, dan menjepit (lebay buuk … !). Pilihan pertama adalah nonton Jogja Java Carnival, dalam rangka ulang tahun kota Jogja, yang memang sudah saya tunggu-tunggu. Pilihan kedua adalah nonton konser World Peace Orchestra pimpinan Dwiki Dharmawan yang digelar dalam rangka dies natalis UGM yang ke-60. Dua-duanya menarik dan ingin saya tonton.

Coba, bingung kan?

Setelah mempertimbangkan masak-masak (masaknya 7 hari 7 malam, sampai kering kayak rendang), dengan berat hati saya memilih nonton Dwiki. Pertimbangan saya, belum tentu ada kesempatan lain nonton konser Dwiki. Apalagi konser ini didukung bintang-bintang yang cukup menyilaukan seperti Kris Dayanti, Dewa Budjana, Steve Thornton (Amerika), Anggito Abimanyu, Butet Kertaradjasa, Singgih Sanjaya, Paduan Suara UGM, dan bintang-bintang lain yang belum begitu dikenal (tapi setelah saya tonton penampilannya, ternyata tak kalah cemerlang sinarnya).


IMG_2017


Maka, pada hari Jum’at siang, sehari sebelum konser digelar, saya pergi ke radio Swaragama, salah satu ticket box konser, untuk mencari (eh, membeli ding …) tiket.  Yaaah … karena sudah hari terakhir, tiket yang tersisa tinggal VIP B, seharga Rp. 100.000,-. Dengan memecah celengan saya masih bisa sih bayar tiketnya, tapi posisi duduknya itu lho! VIP B ini ada di belakang dan di samping. Masih lebih nyaman duduk di kelas festival yang tiketnya cuma Rp. 40.000,- karena tempatnya di tribun yang tinggi, sehingga pandangan ke panggung lebih leluasa.

Apa hendak dikata. Itulah risikonya terlalu lambat mengambil keputusan. Cepat dan tepat, harusnya kan begitu …


IMG_2024

Tiket yang diperoleh pada saat-saat terakhir …

Bagaimana jalannya konser yang telah berhasil merebut saya (haiyah!) dari Jogja Java Carnival ini? Yuuuk ….

Lanjut Baca »

RUMAH AMAN DARI GEMPA

Rasanya hampir semua dari kita — terutama ibu-ibu yang memiliki anak kecil — mengenal Teletubbies, empat boneka lucu yang beberapa tahun lalu ditayangkan di sebuah stasiun televisi swasta. Boneka-boneka yang diperankan oleh manusia ini memiliki karakter khas, yaitu warna kostum yang berbeda. Kelucuan tingkah laku Tinky Winky (ungu), Dipsy (hijau), Laa Laa (kuning) dan Po (merah) mampu memikat tidak saja anak-anak, tapi juga remaja bahkan orang tua.”Berpelukaaan!!” adalah seruan khas Teletubbies, yang sempat populer di kalangan masyarakat pada waktu itu.

Film untuk balita ini disiarkan oleh BBC antara tahun 1997 – 2001, produksi Ragdoll Production. Anne Wood dan Andre Davenport menulis sebanyak 365 episode Teletubbies.  Tinky Winky, Dipsy, Laa Laa dan Po tinggal di sebuah rumah yang dikelilingi hamparan padang rumput hijau dengan aneka bunga. Rumahnya berbentuk bulat, dengan teropong menjulang dari atapnya.


rumah teletubbies 2 Rumah Teletubbies Teletubies bagus

Teletubbies dan rumahnya yang lucu, membuat siapapun ingin berlari dan berguling-guling di rumputnya yang hijau …

Nah, rumah Teletubbies ini pun bisa dijumpai tidak jauh dari Yogya, tepatnya di dusun Nglepen, Prambanan. Lho, memangnya Teletubbies syuting di Yogya? Oh, bukaaan …! Rumah Teletubbies yang ada di Yogya ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan boneka-boneka lucu itu, tapi berhubungan dengan gempa.  Rumah-rumah berbentuk bulat ini adalah sumbangan dari World Association of Non-Govermental Organization (WANGO) dan Domes for the World Foundation (DFTW) untuk korban gempa di dusun Sengir, yang rumahnya hancur akibat gempa 27 Mei 2006.


Rumah Dome Hawa 2

Rumah-rumah ‘teletubbies’ di dusun Nglepen, Prambanan, Yogya (foto : diambil dari Blog Hawa )

Meskipun sebenarnya tidak terlalu mirip dengan rumah Teletubbies yang tertutup rumput hijau, bentuknya yang bulat membuat rumah dome ini mengingatkan orang akan rumah boneka-boneka lucu itu.

Bagaimana cara membuat rumah bulat itu, mengapa rumah ini tahan gempa, dan nyamankah tinggal di dalamnya?

Lanjut Baca »

Mabuk Kepayang Tiga Malam

INCREDIBLE ARTS PERFORMANCE!

Warning :

Posting ini berisi sangat banyak foto. Saya juga mengkhianati komitmen saya semula untuk membatasi tulisan sekitar 1.000 kata. Posting kali ini cukup panjang, 2.900 kata. Jadi kalau anda berniat serius membacanya (terimakasih jika bersedia menyiksa diri demikian), matikan dulu kompor di dapur, tutup kran air, kandangkan ayam-ayam serta kambing yang berkeliaran di dalam rumah (hah??!), dan siapkan secangkir kopi di tangan (nggak boleh sama rokok ya … )


Rabu, 7 Oktober 2009

Kegagalan saya yang tragis untuk menonton kirab budaya pada hari Rabu sore (kisah lengkapnya di sini ) membuat saya bertekad untuk sukses nonton Jogja International Performing Arts Festival 2009 (JIPA Fest 2009) pada malam harinya. Festival akbar ini sudah dimulai pada malam sebelumnya, yaitu tanggal 6, tapi saya baru membaca liputannya di koran pada tanggal 7 pagi. Lagi-lagi telat informasi ….

JIPA Fest 2009 dilaksanakan di gedung Societet Art Hall Taman Budaya Yogya, yang terletak di sebelah timur Taman Pintar. Ini gedung kuno peninggalan Belanda yang sudah direnovasi. Di sebelah selatan gedung Societet terdapat gedung baru yang lebih besar, yaitu Concert Hall.

Malam pertama (yang tidak sempat saya tonton itu) menampilkan pantomimer kawakan Jemek Supardi dari Yogya dan tari Kinanti Sekar Rahina. Dari luar negri, tampil Andrea K. Schlehwein (Austria), Nam Jeong Ho (Korea) dan Kazeo Takemoto (Jepang). Karena nggak nonton, saya nggak punya otoritas untuk cerita.

Pada malam kedua, acara dibuka oleh Bimo Dance Theater dari Yogya. Kelompok seni ini mengawali pertunjukannya dengan menampilkan musik perkusi yang dimainkan oleh empat orang. Gebukan gendang menghentak dalam irama yang dinamis, dan mendapat applaus meriah dari penonton.


IMG_2279

Dua di antara empat pemain musik perkusi yang mengawali tampilan Bimo Dance, dan terus mengiringi sepanjang tarian

Saya benar-benar dibuat terpukau oleh tarian yang menyusul kemudian. Sejumlah penari perempuan dan laki-laki tampil di panggung dalam komposisi gerakan yang luar biasa indah. Enerjik, full power, tapi sangat lentur dan indah. Gerakannya adalah perpaduan dari tari Jawa klasik dan tari modern. Kostum yang simpel, tanpa aksesori apa pun, justru menonjolkan olah tubuh prima para penari. Ada seorang penari kecil yang lucu, aneh, sekaligus menakutkan, karena gerak dan penampilannya seperti wewe, hantu perempuan bermuka tembok yang sangat dikenal di kalangan masyarakat Jawa.


IMG_2285

‘Wewe’ kecil ini gerakan tubuh dan tarikan wajahnya sangat ekspresif …

Lanjut Baca »

HADEGING NAGARI DALEM KASULTANAN

Tanggal 7 Oktober kemarin kota Yogyakarta berulangtahun yang ke 253. Yeey! Sudah cukup tua juga rupanya kota saya yang tercinta ini.

Kota Yogya tak bisa dipisahkan dari Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, karena keberadaan kota ini bermula dari didirikannya kasultanan Yogyakarta oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Keraton Yogyakarta mulai dibangun pada tanggal 13 Februari 1755, yang dalam penanggalan Jawa bertepatan dengan hari Kamis Kliwon, 29 Rabiulakir, wuku Lakir, Be 1680 (hebat kan orang Jawa, punya sistem kalender sendiri!). Pada 7 Oktober 1756, keraton selesai dibangun dan keluarga Sri Sultan HB I pindah ke keraton ini. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Yogyakarta.

Pada waktu itu, lokasi yang dipilih untuk mendirikan keraton masih berupa hutan belantara, bernama hutan Beringan. Konon, nama Beringan diberikan karena banyak terdapat pohon beringin besar. Sampai sekarang, pohon beringin masih menjadi pohon keramat yang terdapat di alun-alun keraton (mungkin itulah sebabnya pohon ini dijadikan lambang oleh sebuah parpol … ehehe!). Nama hutan ini diabadikan sebagai nama pasar terbesar di Yogya yang terletak di depan keraton, yaitu Pasar Beringharjo.

Nama Ngayogyakarta dalam bahasa Sansekerta berarti ‘telah selesai dibangun/dikerjakan dengan baik’. Arti lain, ‘Yogya’ berarti ‘baik’, sedangkan ‘karta’ berarti ‘rahayu’ atau ’selamat’, maka Yogyakarta berarti ‘baik dan selamat’, atau ‘baik dan indah’. Yes …. indeed!

Sri Sultan HB I menciptakan poros filosofis Gunung Merapi – Tugu Pal Putih – Keraton – Panggung Krapyak – Laut Selatan. Penciptaan garis imajiner ini selaras dengan konsep Tri Hita Karana dan Tri Angga. Secara simbolis-filosofis, poros ini melambangkan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.

Cukup sekian kuliah dari saya. Pengetahuan tentang sejarah dan filosofi keraton Yogyakarta selengkapnya silahkan diikuti selama 6 semester di jurusan sejarah, antropologi, arkeologi, dan javanologi ….

Inilah poros Merapi – Tugu – Keraton – Panggung Krapyak – Laut Selatan


IMG_2364 IMG_0028

Gunung Merapi               Tugu Pal Putih

IMG_0150

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

IMG_2345 IMG_2007

Panggung Krapyak                        Laut Selatan

Bagaimanakah kota Yogya sekarang, pada usianya yang ke 253?

Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »