*ambil kompas, buka peta, cari penunjuk jalan* (maklum, setelah 3 bulan tidak buka blog, sudah agak lupa jalan menuju ke studio TV
)
….
Kapan terakhir Anda mengunjungi candi Prambanan? Atau malah belum pernah? Padahal anda tinggal di Jawa, lebih-lebih lagi di Yogya? Hwaaa … ! Pak Haji Rhoma Irama pasti geleng-geleng kepala sambil berdendang ter-la-lu …
Saya terakhir kali mengunjungi candi Prambanan pada tahun 70-an, waktu saya masih kecil (imut, lucu dan nggemesin … wakaka
). Pada waktu itu kakak sulung saya tinggal di dekat candi, dan saya sering bermain ke sana, memanjat batu-batu candi sampai ke tempat tertinggi. Saat itu candi Prambanan masih berada di tengah pemukiman penduduk, belum direnovasi dan dibangun taman yang sangat luas seperti sekarang. Banyak candi yang rusak dan berupa tumpukan batu berserakan. Pengunjung candi juga belum begitu banyak.
Setelah empat puluh tahun lebih tak mengunjungi candi Prambanan (meskipun selalu mengamatinya jika lewat dalam perjalanan menuju ke arah Solo), beberapa hari yang lalu saya kembali menginjakkan kaki ke batu-batu bersejarah yang merupakan karya luar biasa bangsa kita itu. Dan apa yang saya jumpai sunguh-sungguh-sungguh (catat : sungguhnya 3x!) membuat saya menyesal. Loh, menyesal? Ya, menyesal kenapa baru sekarang saya ke sana! Kenapa selama sekian lama saya tak tergerak untuk melihat kekayaan warisan nenek moyang kita ini, yang sudah diakui Unesco pada tahun 1991 sebagai Warisan Budaya Dunia Nomor 642.
Welcome to The Prambanan Park (narsis is allowed
)
Memory yang ada di otak saya tentang candi Prambanan pada tahun 70-an sama sekali berbeda dengan candi Prambanan yang saya temukan sekarang. Saya seperti baru pertama kali melihat candi ini. Dan saya terpesona, sedemikian terpesona hingga mampu membangkitkan keinginan posting lagi, yang sudah sekian lama mati suri karena jeratan kesibukan tak terperi
Candi Prambanan sekarang berada di kompleks pertamanan yang sangat luas, mencakup beberapa candi di sekitarnya seperti Candi Lumbung, Candi Bubrah, dan Candi Sewu. Di antara candi-candi ini terhampar taman luas dengan rumput hijau yang segar dan menyejukkan pandangan. Area bebas yang sangat luas ini memungkinkan gugusan-gugusan candi dapat terlihat seluruhnya, megah dan indah menjulang ke langit. Entah berapa puluh ribu penduduk yang harus dipindahkan untuk membangun taman ini, mengingat dulu jarak candi dan pemukiman padat penduduk hanya sekitar 10 meter.
Hamparan rumput luas nan hijau menonjolkan kemegahan candi
Candi Prambanan dibangun oleh raja-raja wangsa Sanjaya pada abad ke-9, berupa kompleks percandian dengan candi induk menghadap ke timur. Candi Prambanan adalah candi Hindu, dengan 3 candi utama untuk dewa-dewa agama Hindu yaitu Candi Siwa (tengah, paling tinggi), Candi Brahma (selatan), dan Candi Wisnu (utara). Bentuk candi-candi ini menyerupai gunungan pada wayang kulit setinggi 47 meter. Pada dinding pagar langkan candi Siwa dan candi Brahma dipahatkan relief cerita Ramayana , sedangkan pada pagar langkan candi Wisnu dipahatkan relief Krisnayana.
Candi Siwa (candi induk) memiliki 4 bilik yang menghadap ke 4 arah mata angin. Bilik yang menghadap ke arah utara berisi patung Durga, permaisuri Dewa Siwa, tetapi lebih dikenal masyarakat sebagai patung Roro Jonggrang. Menurut legenda, patung batu itu sebelumnya adalah tubuh hidup dari putri cantik itu, yang dikutuk oleh ksatria Bandung Bondowoso untuk melengkapi kesanggupannya menciptakan seribu buah patung dalam waktu satu malam. Agak membingungkan juga sih … permaisuri dewa kok bisa dikutuk oleh manusia … *tepok jidat*
Candi Brahma di antara para pengunjung
Relief pada dinding langkan candi menggambarkan kisah Ramayana
Dua siswa SMK Jurusan Pariwisata memberikan penjelasan kepada seorang wisatawan asing
Pengelolaan Candi Prambanan cukup bagus. Kondisi di dalam komplek, di sekitar candi maupun di taman dan hamparan rumput, tampak bersih dan terawat. Tiket masuk ke Candi Prambanan Rp. 30.000,- , adapun untuk tiket terusan ke Candi Boko harganya Rp. 45.000,-. Untuk menuju ke Candi Boko yang jaraknya sekitar 5 km disediakan transport shuttle dengan minibus. Candi Boko terletak di atas bukit, merupakan bekas keraton Ratu Boko yang memiliki kisah tersendiri (kapan-kapan saya posting, tapi nggak berani janji ‘kapan’nya …
).
Kompleks Candi Prambanan dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang seperti museum, panggung terbuka untuk pementasan sendratari Ramayana, panggung tertutup, studio audio visual, area bermain anak-anak, jalur sepeda wisata, gedung pameran, pasar souvenir, kereta mini keliling, dan restoran. Hamparan rumput hijau yang sangat luas dengan pohon-pohon besar yang rindang sungguh nyaman sebagai tempat piknik, menggelar tikar dan menyantap bekal makanan. Kayaknya cocok juga sebagai tempat kopdar
Pos shuttle service gratis menuju ke Candi Ratu Boko
Disediakan berbagai alternatif sepeda yang bisa disewa dengan harga murah
Silahkan dipilih mau pakai yang mana …
Ini dia jalur bersepeda, bisa sampai ke Candi Sewu …
Petugas kebersihan berkeliling mengumpulkan sampah daun-daun kering dengan gerobak bermotor
Selain dengan sepeda, untuk mengeliling taman wisata para pengunjung juga bisa naik kereta mini dengan harga tiket Rp. 5.000,- cukup murah dibanding kaki gempor …
. Kereta juga tidak harus menunggu sampai penumpang penuh. Berapapun jumlah penumpang yang naik ‘si ular hijau’ ini akan membawa penumpangnya dengan bersemangat.
Di taman bagian timur terdapat sekelompok kijang tutul, yang induknya dulu diambil dari Istana Negara Bogor. Meskipun di pagar kandang terpampang tulisan berisi larangan untuk memberikan makanan kepada kijang-kijang tersebut, banyak pengunjung tidak dapat menahan diri untuk memberi makan kijang yang nampaknya senang juga menerima tambahan jatah makan
. Tentunya larangan tersebut dimaksudkan untuk melindungi kijang dari makanan yang tidak sesuai, yang bia mengakibatkan kijang sakit atau mati.
Si Ular Hijau yang setia mengantarkan pengunjung berkeliling taman wisata
Kijang-kijang Istana Bogor yang bermigrasi ke Taman Wisata Prambanan
Ati-ati kasih makannya ya dik, jangan dicampur narkoba …
Restoran dengan penataan yang artistik
Ayolah … bagi teman-teman yang belum pernah ke Candi Prambanan, atau sudah luamaa tidak ke sana, sekarang waktunya untuk menengok kembali kekayaan budaya kita ini. Jangan meniru saya, menunggu sampai 40 tahun untuk mengagumi kembali warisan leluhur. Kita tidak tahu masih punya umur berapa lama lagi, bukan?
Sampai jumpa ……





























































