Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Batu-Batu Bicara

*ambil kompas, buka peta, cari penunjuk jalan* (maklum, setelah 3 bulan tidak buka blog, sudah agak lupa jalan menuju ke studio TV :-D )

….

Kapan terakhir Anda mengunjungi candi Prambanan? Atau malah belum pernah? Padahal anda tinggal di Jawa, lebih-lebih lagi di Yogya? Hwaaa … ! Pak Haji Rhoma Irama pasti geleng-geleng kepala sambil berdendang ter-la-lu …

Saya terakhir kali mengunjungi candi Prambanan pada tahun 70-an, waktu saya masih kecil (imut, lucu dan nggemesin … wakaka :-D ). Pada waktu itu kakak sulung saya tinggal di dekat candi, dan saya sering bermain ke sana, memanjat batu-batu candi sampai ke tempat tertinggi. Saat itu candi Prambanan masih berada di tengah pemukiman penduduk, belum direnovasi dan dibangun taman yang sangat luas seperti sekarang. Banyak candi yang rusak dan berupa tumpukan batu berserakan. Pengunjung candi juga belum begitu banyak.

Setelah empat puluh tahun lebih tak mengunjungi candi Prambanan (meskipun selalu mengamatinya jika lewat dalam perjalanan menuju ke arah Solo), beberapa hari yang lalu saya kembali menginjakkan kaki ke batu-batu bersejarah yang merupakan karya luar biasa bangsa kita itu. Dan apa yang saya jumpai sunguh-sungguh-sungguh (catat : sungguhnya 3x!) membuat saya menyesal. Loh, menyesal? Ya, menyesal kenapa baru sekarang saya ke sana! Kenapa selama sekian lama saya tak tergerak untuk melihat kekayaan warisan nenek moyang kita ini, yang sudah diakui Unesco pada tahun 1991 sebagai Warisan Budaya Dunia Nomor 642.

 

Welcome to The Prambanan Park (narsis is allowed :-D )

Memory yang ada di otak saya tentang candi Prambanan pada tahun 70-an sama sekali berbeda dengan candi Prambanan yang saya temukan sekarang. Saya seperti baru pertama kali melihat candi ini. Dan saya terpesona, sedemikian terpesona hingga mampu membangkitkan keinginan posting lagi, yang sudah sekian lama mati suri karena jeratan kesibukan tak terperi :(

Candi Prambanan sekarang berada di kompleks pertamanan yang sangat luas, mencakup beberapa candi di sekitarnya seperti Candi Lumbung, Candi Bubrah, dan Candi Sewu. Di antara candi-candi ini terhampar taman luas dengan rumput hijau yang segar dan menyejukkan pandangan. Area bebas yang sangat luas ini memungkinkan gugusan-gugusan candi dapat terlihat seluruhnya, megah dan indah menjulang ke langit. Entah berapa puluh ribu penduduk yang harus dipindahkan untuk membangun taman ini, mengingat dulu jarak candi dan pemukiman padat penduduk hanya sekitar 10 meter. 

Hamparan rumput luas nan hijau menonjolkan kemegahan candi

Candi Prambanan dibangun oleh raja-raja wangsa Sanjaya pada abad ke-9, berupa kompleks percandian dengan candi induk menghadap ke timur. Candi Prambanan adalah candi Hindu, dengan 3 candi utama untuk dewa-dewa agama Hindu yaitu Candi Siwa (tengah, paling tinggi), Candi Brahma (selatan), dan Candi Wisnu (utara). Bentuk candi-candi ini menyerupai gunungan pada wayang kulit setinggi 47 meter. Pada dinding pagar langkan candi Siwa dan candi Brahma dipahatkan relief cerita Ramayana , sedangkan pada pagar langkan candi Wisnu dipahatkan relief Krisnayana. 

Candi Siwa (candi induk) memiliki 4 bilik yang menghadap ke 4 arah mata angin. Bilik yang menghadap ke arah utara berisi patung Durga, permaisuri Dewa Siwa, tetapi lebih dikenal masyarakat sebagai patung Roro Jonggrang. Menurut legenda, patung batu itu sebelumnya adalah tubuh hidup dari putri cantik itu, yang dikutuk oleh ksatria Bandung Bondowoso untuk melengkapi kesanggupannya menciptakan seribu buah patung dalam waktu satu malam. Agak membingungkan juga sih … permaisuri dewa kok bisa dikutuk oleh manusia … *tepok jidat*

Candi Brahma di antara para pengunjung

Relief pada dinding langkan candi menggambarkan kisah Ramayana

Dua siswa SMK Jurusan Pariwisata memberikan penjelasan kepada seorang wisatawan asing

Pengelolaan Candi Prambanan cukup bagus. Kondisi di dalam komplek, di sekitar candi maupun di taman dan hamparan rumput, tampak bersih dan terawat. Tiket masuk ke Candi Prambanan Rp. 30.000,- , adapun untuk tiket terusan ke Candi Boko harganya Rp. 45.000,-.  Untuk menuju ke Candi Boko yang jaraknya sekitar 5 km disediakan transport shuttle dengan minibus.  Candi Boko terletak di atas bukit, merupakan bekas keraton Ratu Boko yang memiliki kisah tersendiri (kapan-kapan saya posting, tapi nggak berani janji ‘kapan’nya … :-D ).

Kompleks Candi Prambanan dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang seperti museum, panggung terbuka untuk pementasan sendratari Ramayana, panggung tertutup, studio audio visual, area bermain anak-anak, jalur sepeda wisata, gedung pameran, pasar souvenir, kereta mini keliling, dan restoran. Hamparan rumput hijau yang sangat luas dengan pohon-pohon besar yang rindang sungguh nyaman sebagai tempat piknik, menggelar tikar dan menyantap bekal makanan. Kayaknya cocok juga sebagai tempat kopdar :)

Pos shuttle service gratis menuju ke Candi Ratu Boko

Disediakan berbagai alternatif sepeda yang bisa disewa dengan harga murah

Silahkan dipilih mau pakai yang mana …

Ini dia jalur bersepeda, bisa sampai ke Candi Sewu …

Petugas kebersihan berkeliling mengumpulkan sampah daun-daun kering dengan gerobak bermotor

Selain dengan sepeda, untuk mengeliling taman wisata para pengunjung juga bisa naik kereta mini dengan harga tiket Rp. 5.000,- cukup murah dibanding kaki gempor … :-D . Kereta juga tidak harus menunggu sampai penumpang penuh. Berapapun jumlah penumpang yang naik ‘si ular hijau’ ini akan membawa penumpangnya dengan bersemangat.

Di taman bagian timur terdapat sekelompok kijang tutul, yang induknya dulu diambil dari Istana Negara Bogor. Meskipun di pagar kandang terpampang tulisan berisi larangan untuk memberikan makanan kepada kijang-kijang tersebut, banyak pengunjung tidak dapat menahan diri untuk memberi makan kijang yang nampaknya senang juga menerima tambahan jatah makan :-) . Tentunya larangan tersebut dimaksudkan untuk melindungi kijang dari makanan yang tidak sesuai, yang bia mengakibatkan kijang sakit atau mati. 

  Si Ular Hijau yang setia mengantarkan pengunjung berkeliling taman wisata

Kijang-kijang Istana Bogor yang bermigrasi ke Taman Wisata Prambanan

Ati-ati kasih makannya ya dik, jangan dicampur narkoba …

Restoran dengan penataan yang artistik

Ayolah … bagi teman-teman yang belum pernah ke Candi Prambanan, atau sudah luamaa tidak ke sana, sekarang waktunya untuk menengok kembali kekayaan budaya kita ini. Jangan meniru saya, menunggu sampai 40 tahun untuk mengagumi kembali warisan leluhur. Kita tidak tahu masih punya umur berapa lama lagi, bukan?

Sampai jumpa …… :-)

Caty’s House Di TRANS TV

Caty’s House muncul di TV, bener-bener televisi yang bisa ditonton orang se Indonesia (bahkan se dunia), bukan sekedar di T(uti Nonka) V(eranda) !

Alkisah, pada suatu siang hp saya klinong-klinong. Nomoryang muncul di layar hp tidak saya kenal. Dulu, sebelum Caty’s House go public, telepon dari nomor yang tidak saya kenal insya’allah tidak saya angkat (aduh, ma’aaaf … soalnya sering yang telepon ternyata sales yang nawarin ini-itu :) ). Tapi sesudah Caty’s House menjadi incaran banyak orang (cieee … :P ), saya selalu mengangkat call di hp saya, karena siapa tahu yang menelepon adalah calon tamu yang akan reservasi.

Begitulah, ketika saya angkat, ternyata yang menelepon adalah Mbak Evri dari TRANS TV, mengatakan ingin meliput Caty’s House untuk program Bingkai Berita yang ditayangkan setiap hari jam 13.00. Caty’s House diliput TRANS TV? Horee …. *lompat-lompat, salto depan balik belakang* :D

Tapi saya nggak langsung percaya. Maklumlah, hari gini … Siapa tahu itu telepon iseng yang cuma mau bikin saya kelimpungan. Lagipula saya masih heran, apa menariknya Caty’s House sehingga TRANS TV berminat untuk meliput? Maka saya lalu menelepon kantor TRANS TV di Jakarta, untuk melakukan check and recheck. Sayangnya telepon kantor TRANS TV tidak pernah ada yang mengangkat, sehingga akhirnya saya bersiap diri saja dan percaya sepenuhnya pada Mbak Evri. 

Mbak Evri yang ramah, lucu, dan centil

So, apa yang membuat Mbak Evri tertarik pada Si Caty? Ternyata oh ternyata …. karena ada Chef Ata yang kiyut :) . Tema yang akan diangkat dalam Bingkai Berita episode tersebut adalah alternatif tempat menginap yang unik di Yogya. Caty’s House menjadi unik, karena sebagai sebuah home stay, Caty’s House adalah satu-satunya (paling tidak yang sudah ketahuan) memiliki chef. Makasih Ata …  (wah … pasaran Ata bakal melejit nih :P )

Hari Rabu 23 November, sebagaimana yang kami sepakati lewat telepon, crew TRANS TV, datang ke Caty’s House. Mereka adalah Mbak Evri sebagai reporter, Mas Nedi kamerawan, dan Mas Wawan pembantu umum. Saya langsung terkesan pada sikap mereka yang friendly, tak ada kesan arogan sedikitpun, secara mereka dari stasiun televisi terkenal ….

Sebelum menyantap masakan Chef Ata, poto-potoan duluu …

Nah, karena Caty’s House adalah homestay, tentu tidak afdhol kalau tidak ada tamu yang menginap. Padahal hari Rabu itu Caty’s House sedang kosong, tamu baru akan check-in hari Sabtu. Gimana nih? Mbak Evri meminta agar saya mengundang keluarga atau teman sebagai tamu. Kalau bisa satu keluarga besar komplit dengan anak-anak. Otak saya langsung men-scan profil keluarga dan teman yang cocok untuk tampil di layar kaca. Hanya butuh waktu beberapa detik, saya langsung menemukan keluarga yang pas : keluarga Uda Vizon. Anaknya banyak (empat loh … :) ), Uni Icha akrab dengan saya, dan Uda Vizon sudah dikenal luas sebagai salah satu blogger narsis, bersaing ketat dengan saya  :D

Sayangnya … (lho, ada sayangnya juga), hari itu Uda Vizon ternyata baru dalam perjalanan dari Bengkulu, waktunya tidak akan ngejar untuk syuting. Setelah dilakukan musyawarah mufakat dengan tim TRANS TV, akhirnya diputuskan untuk melakukan syuting pada hari Jum’at, menunggu sang bintang tamu punya waktu. Hebat nggak sih Uda Vizon ini, sampai bisa membuat tim TRANS TV menunggu :D .

Silahkan dinikmati welcome drink ala Caty’s House, pasti suegeer …

Waao … Fatih benar-benar menikmati empuknya kasur Caty’s House :D

Bintang utama yang sebenarnya tentu saja Chef Ata. Pengambilan gambar dilakukan pada saat Ata menyiapkan masakan. Menu yang disiapkan adalah baked rice dan soup meat broccoli. Hari Rabu Ata sudah menyiapkan spaghetti bolognese, sehingga hari Jum’at diputuskan untuk memasak yang lain agar kami yang bakal menjadi pencicip bisa menikmati berbagai variasi kelezatan masakan Ata.

Yaelah …. Mas Nedi, memang harus sedekat itu ya kameranya?

Yang akting kamerawannya atau chefnya nih? :D

Astaga … sang chef ditodong senapan mesin! :(

Uhuuuy … Ata masuk tipi, didampingi reporter cantik pula :D

Ready? Rolling … action … cut!

Pengambilan gambar memakan waktu cukup lama. Hari Rabu mulai jam 16.00 sampai jam 18.00, dan hari Jum’at mulai dari jam 13.00 sampai sekitar jam 17.00. Setiap adegan diulang minimal tiga kali. Sudah akting dan bicara macem-macem, eh … diminta mengulang lagi. Yeah, lupa deh, tadi ngomong apa saja … hihi. Akhirnya improvisasi saja, tiga kali pengambilan gambar, ngomongnya beda-beda semua :D

Untuk durasi tayangan yang hanya 3 – 4 menit, pengambilan gambarnya membutuhkan waktu sedemikian lama. Menyiapkan masakannya pun cukup ribet. Ternyata kerja kreatif di media layar kaca tidak mudah. Rekaman aslinya sebenarnya cukup panjang, banyak scene yang diambil, tapi karena keterbatasan durasi, akhirnya yang ditayangkan di televisi hanya sebagian kecil saja.

Foto bareng usai kerja keras 6 jam …

Tayangan di layar kaca TRANSTV sudah muncul pada hari Selasa, 6 Desember 2011. Bagi teman-teman yang tidak sempat menonton tayangan tersebut, atau penasaran pengen lihat kembali akting bintang-bintang dadakan yang super narsis ini, jangan khawatir, silahkan menonton rekamannya di blog sang bintang tamu di sini  (makasih ya Uda … :) )

Jujur, sebenarnya saya agak kurang puas, karena banyak sekali gambar yang terpotong. Keindahan Caty’s House tidak tampil maksimal (jiaah … ini mah sombong dan congkak pol *jitak kepala sendiri* ). Papan nama Caty’s House bahkan tidak tertampilkan. Begitupun saya sangat berterimakasih pada TRANS TV, yang sudah mengiklankan Caty’s House secara gratis-tis. Kalau memasang iklan dengan durasi 3 menit, tarifnya bisa ratusan juta loh! Sekali lagi, terimakasih Mbak Evri, terimakasih Mas Nedi, terimakasih TRANS TV.

Sekedar info, untuk liburan akhir tahun (18 Desember s/d 7 Januari) Caty’s House jauh-jauh hari sudah booked. Banyak sekali permintaan reservasi melalui telepon, sms, maupun email yang terpaksa kami tolak. Saya ikut menyesal juga ketika calon tamu kecewa tidak bisa menginap di Caty’s House. Habis gimana, Si Caty cuma ada satu, yang ngelamar banyak :D . Akhirnya berlaku hukum ‘siapa cepat dia dapat’. Semoga saya dan Ata bisa memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada para tamu, karena bagi kami kepuasan tamu adalah nomor satu (swear ini beneran bukan iklan … )

 

Hospitality Dengan Hati

BERSIH, ENAK, RAMAH … SEMOGA

Tak terasa, hampir 2 bulan saya tidak posting! Termasuk juga tidak blogwalking. Untuk itu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada teman-teman semua, belum sempat berkunjung balik … :(

Semenjak mengenal kenikmatan blogging, tak terbayangkan sebelumnya bahwa saya bisa absen sekian lama dari blogsphere. Bahkan ketika saya memutuskan ‘pamitan’, sekitar tiga tahun yang lalu, ternyata saya hanya bertahan 2 minggu meninggalkan blog …. haha :D . Nah, jadi kenapa selama dua bulan kemarin saya lenyap bak ditelan bumi? (emang bumi punya mulut yak? :P )

Penyebabnya banyak. Kesibukan pekerjaan, keluarga, organisasi. Tetapi yang paling menyita perhatian adalah Caty’s House …

Ketika mendengar saya membuka home stay, beberapa kawan berkomentar, yang intinya merasa surprise karena ternyata saya juga berjiwa bisnis. Wah, padahal sesungguhnya saya tidak berbakat bisnis, dan tidak pernah membayangkan akan terjun ke dunia bisnis. Saya tertarik (dan akhirnya tenggelam :D ) ke dunia per-homestay-an karena bagi saya dunia hospitality ini adalah dunia yang kental dengan sentuhan seni dan keindahan. Mulai dari menata interior, memilih furniture, bedding, perangkat makan, cara penyajian makanan, sampai mendesain brosur, semuanya adalah pekerjaan yang membutuhkan sentuhan seni dan cita rasa keindahan. Dan itu yang membuat saya ‘hidup’ …

 

Ruang tidur dengan twin bed 

Ruang Tengah terdiri dari ruang tamu dan ruang makan

Tahap awal running Caty’s House benar-benar menyita seluruh waktu, pikiran, perhatian, dan tenaga saya. Sebabnya, launching Caty’s House mengejar momentum libur lebaran, padahal sesungguhnya Caty’s House belum sepenuhnya siap. Masih perlu bongkar ini-itu, melengkapi ini-itu, sehingga kesibukan menerima tamu berkejaran dengan kesibukan membobol tembok untuk membuat pintu baru, mengecat dinding, bahkan menjahit gorden :D . Begitu tamu check out, para tukang segera dipanggil, dan seisi Caty’s House berantakan penuh debu pekerjaan bongkaran. Saat tamu berikut akan check in, segalanya harus buru-buru dirapikan kembali, dilap, digosok, dipel, dan bagian-bagian yang belum selesai dikerjakan ditutup sementara agar terlihat ‘beres’.  Benar-benar akrobat :D

Bagaimana dengan tamu-tamu yang menginap di Caty’s House? Alhamdulillah, kami mendapatkan tamu-tamu yang baik, sopan, dan ramah. Yang lebih membesarkan hati, semua tamu menuliskan kesan positif di guest book yang kami sediakan. Terimakasih …. :) .

 

 Buku tamu dan brosur Caty’s House

 

Bagi kami, kepuasan tamu adalah yang terpenting. Lho, memangnya uang nggak penting? Ya pentinglah, tapi nomor dua. Bisnis yang tidak menguntungkan, apalagi rugi secara finansial, adalah tidak sehat. Tapi uang bukan obsesi kami. Ada target, tapi nggak ngotot-ngotot amat. Tercapai alhamdulillah, tidak tercapai alhamdulillah juga, karena berarti kami diberi kesempatan untuk membuat perencanaan yang lebih strategis.

Siapa sajakah tamu-tamu Caty’s House berikutnya? Berikut adalah sebagian dari mereka … 

Ada Ir. Endy Subijono, Dr. Kemas Ridwan Kurniawan, M.Sc, dan  Dr.Ir. Heru Poerbo, M.arch,MURP, yang datang ke Yogya untuk menjadi narasumber sebuah workshop di Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia. Pak Endy dan Pak Kemas menginap selama dua malam, sedangkan Pak Heru hanya satu malam. Pak Endy adalah Ketua IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) dari Jakarta, Pak Kemas adalah dosen Arsitektur Universitas Indonesia dan Pak Heru adalah dosen Arsitektur ITB. Beliau bertiga adalah tamu-tamu yang ramah dan sopan, dan pastinya sudah terbiasa menginap di hotel berbintang banyak, sehingga komentar beliau-beliau yang sangat positif di buku tamu Caty’s House  membuat kami sangat berbesar hati. Terimakasih Bapak-bapak … :)

 


 

Berikutnya adalah rombongan 4 penari dari Jepang, yang datang ke Indonesia untuk tampil pada event Jogja International Performing Art. Event ini diadakan setiap tahun, dan saya menyaksikan acara ini pada tahun 2009 (sudah saya posting di Mabuk Kepayang Tiga Malam ). Mereka tinggal selama 4 hari di Caty’s House. Koyano Tetsuro, salah seorang anggota rombongan, pernah memperdalam tari di Institut Seni Indonesia di Bali, sehingga ia sudah lancar berbahasa Indonesia. Mao Arata, koreografer sekaligus penari, sudah memiliki pengalaman internasional tampil di berbagai negara. Ia lumayan fasih berbahasa Inggris. Yosi dan seorang penari yang lain, sayangnya hanya bisa berbahasa Jepang, bahkan komentar di buku tamu Caty’s House pun mereka tulis dalam huruf kanji. Saya tidak tahu apa yang ditulis Yosi, moga-moga saja kesan baik, bukan kekecewaan …  :D

 

 Mao Arata dalam salah satu tampilannya

Teman-teman saya dari Lembaga Kebudayaan Aisyiyah tak mau ketinggalan ingin mencicipi Caty’s House. Maka dibuatlah acara rapat sampai jam 12 malam, supaya ada alasan menginap di Caty’s House (padahal semuanya tinggal di Yogya :D ). Meskipun demikian pada akhirnya beberapa dari emak-emak ini urung menginap karena panggilan tugas dari rumah … 

 

 

Akhir minggu Yogya selalu menjadi tujuan tempat berlibur bagi wisatawan nusantara. Tamu Caty’s House berikutnya adalah rombongan anak muda dari Semarang. Sebenarnya mereka berasal dari berbagai kota, tetapi berkumpul di Semarang dan bersama-sama liburan ke Yogya. Kami tak sempat banyak mengobrol karena sepanjang hari hingga larut malam mereka jalan-jalan ke berbagai obyek wisata. Tapi dari interaksi singkat yang sempat terjalin, saya mendapat kesan mereka semua baik, sopan, dan ramah.  

 

 

 

Kepuasan para tamu yang pernah menginap di Caty’s House dibuktikan oleh Pak Eriksa, yang kembali menginap di Caty’s House dengan membawa rombongan teman-temannya. Pak Erik adalah tamu pertama Caty’s House, dan untuk itu beliau menjadi special guest yang akan selalu mendapatkan special services dari kami. Terimakasih atas kesetiaannya kepada Caty’s House, Pak Erik :)

 

 

Tamu yang lain, meskipun tidak menginap, adalah tamu istimewa Caty’s House : Uda Vizon dan Uni Icha. Ini adalah undangan ‘bayar utang’ saya, karena urung mengundang Uda Vizon dan Uni Icha untuk berbuka puasa pada Ramadhan yang lalu. Chef Ata menyiapkan spaghetti bolognaise, chicken souffle dan es buah segar yang oleh Uda Vizon kemudian diberi nama spaghetti bloggernice, chicken commenluv, dan es buah blogroll. Keren-keren banget namanya. Uda Vizon memang jagoan menciptakan nama, kayaknya perlu saya hire khusus untuk memberi nama makanan-makanan ciptaan Chef Ata :)  

 

 

Saya tidak memiliki pendidikan perhotelan, hanya sempat membeli buku tentang house keeping dan front office management hotel (yang belum sempat saya baca :D ), sehingga Caty’s House saya kelola lebih banyak berdasarkan pengalaman saya menginap di berbagai hotel, mulai dari losmen yang mengaku hotel ( :( ) sampai hotel bintang lima dengan pelayanan serba prima. Beruntung sekali saya berpartner dengan Ata, yang sudah memiliki pengalaman panjang di berbagai hotel, sehingga kami bisa selalu berdiskusi tentang segala sesuatu yang sebaiknya dilaksanakan (meskipun ada kalanya diskusi itu berakhir dengan beda pendapat yang berujung perseteruan :) ). Tapi perseteruan kami selalu berakhir dengan perdamaian yang manis, karena pada dasarnya kami sama-sama menginginkan yang terbaik bagi Caty’s House.

Bagi kami, Caty’s House bukan sekedar bisnis. Caty’s House adalah rumah kecintaan saya, ekspresi keindahan dan rasa seni saya, betapa pun dangkalnya. Tamu-tamu Caty’s House adalah tamu-tamu saya, yang bukan hanya kami layani dengan basa-basi tetapi dengan hati …       

 

Guest & Chef Caty’s House

Caty’s House, sweet home far away from home …

Caty’s House dilaunching pada saat yang tepat, yaitu pada libur panjang Idul Fitri, ketika Yogya penuh padat dengan pemudik maupun wisatawan yang berlibur. Dengan penuh permohonan maaf kami terpaksa menolak sekian banyak permintaan reservasi, karena Caty’s House sudah lebih dulu dibooking oleh tamu lain.

Siapakah tamu-tamu yang sudah menginap di Caty’s House?

Tamu pertama Caty’s House adalah keluarga Pak Eriksa, Pak Tomi, beserta nyonya, ibunda dan adik, semuanya berjumlah 6 orang. Keluarga besar yang ramah ini berasal dari Jakarta, berlebaran di Yogya dan Temanggung. Mereka membawa baby yang lucu … :) Inilah foto Pak Erik dan Pak Tomi, serta kesan Pak Tomi tentang Caty’s House

Pak Eriksa (kiri), Pak Tomi (kanan), dan anggota keluarga lain

Ibunda Pak Eriksa yang sedang menikmati breakfast -baked rice & toast- . Jangan dihabisin sendiri ya bundaa … haha :D  

                                                                                                                              Komentar yang membuat hati berbinar … Terimakasih Pak Tomi :)

Setelah keluarga Pak Tomi dan Pak Erik check-out, pada hari yang sama keluarga Mr. Nazih Beydoun dan Ibu Nuri melakukan check in di Caty’s House untuk tinggal selama 3 hari. Mr. Nazih dan Ibu Nuri Beydoun beserta putri mereka yang menetap di Australia berlibur bersama ibunda dan adik yang tinggal di Jakarta. Sungguh keluarga yang sangat ramah.

Ibu Nuri sempat kebingungan karena folder yang berisi semua itenary penerbangan mereka hilang. Syukurlah akhirnya semua bisa ditemukan kembali dengan searching di internet, karena pembelian tiket dilakukan secara on line. Alhamdulillah … :)

Berikut foto keluarga Mr. Nazih Beydoun dan kesan Mr. Beydoun tentang Caty’s House

  Menikmati breakfast dengan menu fried rice di Caty’s House         

       Breakfast hari terakhir dengan menu mie goreng dengan meat roll  

 “We enjoyed the wonderful service directly from the owner and  a specially  appointed caterer. The food was magnificantly delicious …”

Thank you so much Mr. Beydoun :)

 Thank you so much for staying at Caty’s House, Mr. Beydoun. 

Oh ya, Ibu Nuri menginap di Caty’s House dengan membawa banyak makanan yang tidak sempat dinikmati. Sang chef pun senyum-senyum ditinggalin banyak makanan … Sueneng deh kalau semua tamu yang check out menuhin kulkas dengan bahan makanan dan minuman … :P

Selain tempat yang nyaman dan pelayanan yang ramah, para tamu juga menyukai makanan yang disajikan chef Caty’s House.

Siapakah gerangan chef yang sukses menggoyang lidah para tamu ini ? Pasti banyak di antara teman-teman yang sudah mengenal chef Caty’s House ini, karena wajah dan komentarnya sering muncul di blog ini maupun di blog teman-teman. Dia sendiri seorang blogger, dengan tulisan-tulisannya yang selalu menggelitik, membuat kita kegelian (hihi … :D ) tetapi sekaligus memberikan perenungan, mengajak kita melakukan kontemplasi. Tak usah panjang lebar, karena teman-teman pasti juga sudah bisa menebak siapakah anak muda ini …

Ata Chaaaan ….. :P

Spaghetti Bolognaise ala Chef Ata …. mmmm …. yummy!

Lasagna dan spaghetti, mamamia … lezatnya! :D

Pengalaman Chef Ata di dunia kuliner tak perlu diragukan lagi. Chef imut (halah … :D ) ini pernah memegang pisau dan panci di sederet hotel di nusantara, sebut saja Holliday Inn Bali, Hotel Sheraton Surabaya, Hotel Graha Cakra Malang, Nirwana Garden Bintan, Mana-Mana Beach Club Bintan (sekarang berubah namanya menjadi Nirvana Beach Club Cabanas). Caty’s House sungguh beruntung bisa menggaet chef yang pernah bekerja di hotel-hotel besar ini …

Spesialisasi Chef Ata adalah makanan Italia dan Perancis, tapi menu-menu selera nusantara bukan hal yang asing di tangannya. Capcay, ayam bumbu kecap, nasi goreng, dan banyak menu lain, tak pelak lagi akan membuat lidah Anda berdecap, berujung dengan nambah porsi (hihi … ). Aneka roti untuk sarapan atau cemilan pun tampil menggoda dan bakal menggoyahkan iman orang yang sedang diet :D

  Siap diuji oleh dewan juri … :D

Aneka roti dan capcay yang menggoda iman …

Jika Anda hobi memasak, atau ingin belajar memasak, Chef Ata dengan senang hati akan menemani Anda memasak di dapur Caty’s House. Nah, untuk urusan cuci-mencuci peralatan masak yang habis dipakai, serahkan saja pada pemilik Caty’s House:)

Pendekar dapur dengan senjatanya :D

Sreng sreng sreng …. siapin piring ah …

Ahli mencipta makanan (kanan) dan ahli menyantap makanan (kiri)

Okay …. tuliskan makanan favorit teman-teman sekarang juga, sampaikan kepada Ata, dan nikmati kelezatannya di Caty’s House!

Oh ya, para tamu juga memuji peralatan makan di Caty’s House yang indah, sekelas dengan peralatan di hotel bintang. Tentu saja. Caty’s House menyajikan hidangan dalam gelas kristal dan piring-cangkir porselen. Meskipun menerapkan rate yang sangat murah, Caty’s House tidak murahan (ciee … :D ).  

So, Andakah yang akan menjadi tamu Caty’s House berikutnya?

Caty’s House Go Public

Hari ini, tujuh belas Agustus 2011, kita merayakan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia tercinta. Menumpang pada hari keramat ini, saya memproklamirkan ‘kemerdekaan’ Caty’s House untuk go public, bebas dikunjungi dan dinikmati oleh siapa saja :)

Caty’s House berdiri pada 2005. Namun sejak keberadaannya, rumah cantik ini (ciee …. :P ) selalu kesepian karena tidak dihuni. Hanya sesekali saja, jika ada keluarga atau teman berkunjung ke Yogya, rumah ini hangat dan ceria oleh kehadiran para tamu yang menginap. Namun kini pintu Caty’s House selalu terbuka lebar, menyambut siapa saja yang berkenan untuk menginap di sana …

Watch out! Ini asli iklan :D

…………………………………………………….

CATY’S HOUSE

Sweet home far away from home …

Wajah depan Caty’s House …

Lanjut Baca »

ATM : Awas Tercuri Mesin !

ATM, aslinya adalah singkatan dari Automated Teller Machine. Orang Indonesia menerjemahkannya dengan cerdas dan pas, menjadi Anjungan Tunai Mandiri. Pas singkatannya, tepat pula maknanya. Nah, saya baru saja menemukan kepanjangan baru dari ATM versi saya sendiri, yaitu Awas Tercuri Mesin … !

Duuh … kok jelek banget sih kepanjangannya? Iya, dengan sangat menyesal saya terpaksa menyebutnya demikian, berdasarkan pengalaman saya pribadi :(

Alkisah, tanggal 1 Agustus kemarin saya pergi ke salah satu ATM langganan saya di kawasan kampus UGM. Saya menarik dua kali secara berurutan sejumlah 4 juta, pecahan 100 ribu. Uang langsung saya masukkan ke dompet dan saya pulang. Di rumah, baru uang saya hitung untuk saya lipat per 1 juta, dan …. astaghfirullah! Uang ternyata kurang 5 lembar, alias 500 ribu! Dua kali saya hitung ulang, dan tetap saja, uang saya kurang 500 ribu rupiah.

Menyuapkan kartu ke mulut mesin :)

Uang disodorkan mesin

Lanjut Baca »

Dear friends …

Pacitan, sebuah kota kecil di pantai selatan Jawa Timur, menjadi ‘penting’ semenjak salah satu putra daerahnya, Susilo Bambang Yudoyono, menjadi orang pertama di negeri ini. Kondisi alam Kabupaten Pacitan berupa pegunungan kapur yang kurang cocok ditanami padi, sehingga pertanian di sana lebih didominasi tanaman singkong. Pegunungan kapur ini menciptakan banyak goa indah seperti Goa Gong, Goa Tabuhan, Goa Kalak, Goa Luweng Jaran, dan banyak goa-goa lainnya, diduga merupakan komplek goa terluas di Asia Tenggara. Di wilayah ini banyak ditemukan fosil-fosil purba. Pacitan juga memiliki pantai-pantai yang indah, seperti Pantai Teleng Ria, Pantai Klayar, Pantai Srau, Pantai Pasir Putih, dan pantai-pantai lain yang belum banyak dikenal.

Goa Gong dan obyek-obyekwisata lain Pacitan (foto dipinjam dari sini)

Goa Gong dengan stalagtit dan stalagmit yang merupakan ciri khas goa kapur (foto dipinjam dari sini)

Pacitan juga sempat terkenal karena seorang artis sinetron sensual yang banyak menghiasi layar infotainment dengan berita-berita heboh pernah mencalonkan diri menjadi bupati pada pilkada kemarin. Meskipun konon sudah menyiapkan dana sebesar 7 milyar (waooo …. ) untuk pilkada ini, Jupe akhirnya mundur dari pencalonan. Yeah, lebih enak jadi artis daripada jadi pejabat ‘kali … :)

Si Mbak berkampanye di Pondok Pesantren, jadi berbusana sopan :) (foto dipinjam dari sini)

Dalam perjalanan pulang dari wisata ke Jawa Timur lalu, saya berniat mampir ke Pacitan. Tapi karena sudah kemalaman, dan jalan dari Ponorogo menuju ke Pacitan cukup berbahaya (apalagi pada waktu malam), akhirnya saya memutuskan untuk pulang lewat Wonogiri. Nah, tanpa diduga tanpa dinyana, pada saat yang hampir bersamaan ternyata Pak Eko Atmadji, penggemar setia sobat baik saya, melakukan penjelajahan ke pantai-pantai di Pacitan dan berbaik hati mengirimkan kisahnya untuk teman-teman semua.

EE Couple : Pak Eko dan Bu Endang

Yuk kita ikuti kisah perjalanan EE Couple ini … :)

……………..

Lanjut Baca »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 58 pengikut lainnya.