Feeds:
Tulisan
Komentar

MERAYAP DI CISOMANG DAN MENEROBOS CISAAT

Hari Sabtu jam 5 pagi, ketika banyak orang Betawi masih dibuai mimpi (‘kali aja ada yang mimpi jadi Anggodo), saya uthuk-uthuk meninggalkan rumah kakak di Pasar Baru. Karena jarak ke Gambir cukup dekat, saya pilih naik bajay saja. Lima belas ribu nggak pake nawar. Abang pengemudinya gendut, membuat ingatan saya langsung konek dengan Mat Solar dalam sinetron “Bajay Bajuri”.

Suara bajay yang sember merobek pagi yang masih sedikit remang, membuyarkan kedamaian sesaat kota Jakarta. Abang bajay membawa saya bermanuver melewati Monas, menerobos dekat Masjid Istiqlal, lalu sreeet … jegrek, berhenti di depan stasiun Gambir.


Stasiun Gambir (foto boleh pinjem dari Yunus, http://www.panoramio.com)

Setelah bajay saya bayar lunas (ya iyalah, mosok ngutang), saya masuk ke stasiun. Beberapa orang portir (terimakasih kepada para fans teman, yang telah menjawab pertanyaan saya tentang istilah yang lebih halus untuk ‘kuli angkut’, semoga amal ibadah teman-teman semua diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa, amiiin …) menawarkan diri untuk membawakan kopor saya. Saya menggeleng sambil bilang ‘No, thank you’ (eh … nggak ding, pake bahasa Indonesia kok, hihi) dan langsung masuk ke dalam. Celingak-celinguk, saya tidak menemukan pintu dimana saya bisa naik ke kereta api saya.

“Pak, kalau mau naik Argo Gede di mana ya?” akhirnya saya bertanya kepada salah satu portir.

“Oh, di sono nooh … jauh, Neng! Mending saya antar aja” bapak tersebut menjawab dengan sigap.

Iya deh. Akhirnya kalimat saya ‘No, thank you’ (karena sok gagah mau bawa kopor sendiri) berubah menjadi ‘Yes, please’ (karena ternyata nggak tahu medan). Pak Portir itu langsung memanggul kopor Elle merah saya yang cantik ke atas bahunya, dan mencangklong tas berat penuh berisi buku di bahu yang satu lagi. Saya kasihan juga melihat tubuhnya yang kurus dan pasti belum sarapan sepagi itu.

“Pak, kopornya ditarik aja, ada rodanya kok.” saya bilang.

“Nggak papa Neng, ude biase …” jawab Pak Portir sambil berjalan dengan tegap. Langkahnya cepat, membuat saya terponthal-ponthal berusaha mengikuti dari belakang.

Yeeiy … ternyata pintu masuk yang benar cukup jauh, pakai naik tangga pula. Coba saya bawa kopor dan tas buku saya sendiri, pasti deh basah berkeringat.

Nah, inilah kereta yang akan membawa saya ke Bandung.


Kereta 3 nomor kursi 9D, itulah tempat duduk saya (foto : Majalah “Rel”)

Setelah menunggu sekitar 15 menit (sempat baca buku 5 halaman), pada jam 06.10 kereta Argo Gede yang saya tumpangi mulai bergerak. Jes … jes … jes … tuiiiiit!! Minggir, minggiiir … keretaku mau lewaat!

Lanjut Baca »

Orang Udik Ke Jakarta

PAMERAN, PAMERAN, WINDOW SHOPPING

Saya suka ke Jakarta. Sebagaimana seharusnya orang udik, saya suka melihat highrise building yang megah, fly over yang bersimpang susun, taman-taman yang hijau, dan billboard yang berwarna-warni. Memang ndesit banget. Hawong di Yogya ndak ada je

Tanggal 4 Desember kemarin saya ke Jakarta lagi. Ngapain? Nonton pameran. Ya, saya memang paling suka nonton pameran. Pameran selalu menyajikan kumpulan karya terbaik, di bidang apapun. Kapan lagi bisa melihat dan mengetahui karya-karya terbaik kalau bukan di pameran? Tentu saja kita bisa mendatangi langsung ke penciptanya, tapi itu berarti kita harus pergi ke banyak tempat. Jika pameran itu berskala nasional, bukankah lebih mudah mengunjungi satu tempat untuk melihat karya dari seluruh Indonesia, daripada mendatangi satu per satu lokasi dimana karya itu dibuat?

Dari sebuah pameran, kita bisa banyak belajar, mendapatkan beragam informasi. Jika nonton pameran, maka sasaran saya adalah buklet, leaflet, brosur, dan apa pun yang berisi informasi. Di Jakarta, hampir setiap minggu apa pameran di berbagai tempat. Maka jika anda tinggal di Jakarta, dan nggak pernah nonton pameran, wooo … rugi sangat!

Saya sama sekali tidak tahu jalan di Jakarta (lha wong orang udik). Yang saya agak kenal cuma seputar Pasar Baru dalam radius satu kilometer, di sekitar rumah kakak saya tempat saya sering menginap (kalau pas nggak nginap di hotel). Meskipun sama sekali tidak tahu jalan dan tidak kenal lokasi, saya pede aja jalan-jalan keliling Jakarta sendirian. Nekad? Nggak juga. Saya percayakan hidup mati saya pada sopir taksi Silver Bird atau Blue Bird. Begitu masuk taksi, saya catat nama driver dan nomor taksinya, dan saya smskan ke kakak saya diiringi pesan “Kalau ada apa-apa dengan saya, laporkan taksi ini ke Presiden”.

Orang bilang Jakarta itu panas, kumuh, macet. Herannya, saya kok selalu melihat Jakarta yang hijau, indah, lapang, dan lancar. Agaknya saya selalu dibimbing malaikat selama di Jakarta, sebab (seingat saya) nggak pernah ngalami macet yang bener-bener cet. Agak lambat sedikit memang kerap, tapi nggak pernah sampai berjam-jam. Atau, barangkali saya melewati bagian Jakarta yang ’salah’, yang tidak menampilkan Jakarta yang sesungguhnya …


Langit biru, landscape yang lapang, taman hijau … gimana saya percaya Jakarta itu kumuh, coba?

Jadi, nonton pameran apa saya kemarin?

Lanjut Baca »

Alamaaak … !

PE-ER  YANG  BERTUMPUK DAN TERMINAL 3

Dua hari saya tidak membuka blog (Jum’at & Sabtu) karena pergi ke Jakarta dan Bandung. Hari Minggu siang ini, setelah lunas membayar hutang tidur (plus bunga dan buahnya), saya membuka beranda. Alamaaak …. suegeerr!

Banyak sekali komentar yang masuk, dan menunggu untuk saya jawab. Ada 58 komentar, baik untuk posting terbaru maupun untuk posting-posting sebelumnya. Terimakasih, hatur nuhun, matur sembah nuwun untuk teman-teman semua yang telah sudi meluangkan waktu dan tenaga menuliskan komentar. Namun saya mohon teman-teman bersabar dan berlapang dada menunggu komentarnya saya jawab satu persatu. Juga mohon maaf yang sebesar-besarnya jika saya belum sempat berkunjung balik ke blog teman-teman. Insya Allah, segera setelah selesai menjawab semua komen, saya akan ngelencer ke blog semua teman-teman.

Karena terkesan membaca posting Om Trainer tentang Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta , saya sengaja memakai penerbangan Mandala Airlines (meskipun sebenarnya ada maskapai lain yang masih menyediakan tiket promo dengan harga lebih murah sekitar 100 ribu). Begitulah Om Trainer telah sukses meracuni saya. Karena pesawat domestik yang mendarat di Terminal 3 hanya Mandala dan Air Asia, maka saya pilih Mandala. Saya pengin lihat terminal baru ini, yang konon bagus dan megah.

Penerbangan dari Yogya yang seharusnya jam 06.10 delay sekitar 30 menit karena ada latihan terbang dari AAU (Akademi Angkatan Udara). Saya pernah memprotes latihan terbang yang mengganggu penerbangan umum ini kepada seorang teman saya yang menjadi petinggi di TNI AU, malah dijawab : “Harusnya masyarakat berterimakasih kepada TNI AU karena diperbolehkan numpang ikut memakai Adisucipto, yang memang milik TNI AU. Kalau nggak mau terganggu, ya bikin bandara sendiri saja!”  Welhadalaaah …

Begitulah, jadi saya mendarat di Terminal 3 sudah jam 07.30. Sebagaimana yang diceritakan Om Trainer, terminal yang mulai dioperasikan pada 15 April 2009 ini bersih (ya iyalaah … wong masih baru), luas, dan terlihat megah. Terminal ini dibangun dengan konsep eco modern airport, maksudnya bandara yang berwawasan lingkungan. Warna hijau mendominasi interior maupun eksterior, membuat suasana sejuk dan nyaman. Interior terminal banyak memakai kaca sehingga memungkinkan cahaya matahari masuk secara maksimal, dan mengurangi pemakaian listrik pada siang hari. Saat ini baru diselesaikan Pier 1 dengan luas 30.000 meter persegi yang mampu menampung 4 juta penumpang setiap tahun. Direncanakan, nantinya Terminal 3 akan memiliki 5 Pier.


Interior Terminal 3 di bagian kedatangan. Luas, bersih, dan sejuk dengan dominasi warna hijau

Menurut Hariyanto, Kepala Cabang Utama PT Angkasa Pura II Bandara Soekarno-Hatta, di terminal 3 dipastikan tidak ada ojek atau motor yang parkir di depan terminal. Juga tidak ada porter, tapi disediakan 300 troli yang bisa digunakan penumpang untuk mengangkut bagasi mereka. Jika penumpang terlalu lelah untuk berjalan sampai ke pintu keluar, naik troli ini pun lumayan juga kayaknya (jika tidak malu …)

Ruang keberangkatan terletak di lantai satu, dengan 30 gerai untuk check in. Ruang tunggu keberangkatan ada di lantai dua. Adapun ruang kedatangan terletak di lantai satu sebelah kanan. Kelak, Terminal 3 yang dibangun untuk penerbangan murah ini akan melayani penumpang dari 97 penerbangan keberangkatan dan kedatangan.


Ruang keberangkatan yang terletak di lantai satu. Saat ini belum begitu ramai, karena baru ada dua maskapai penerbangan yang beroperasi di Terminal 3.

Desain bangunan Terminal 3 ini terkesan modern dan dinamis, dengan tiang-tiang baja menyilang yang menyangga atap. Sepintas mengingatkan kita pada Kuala Lumpur International Airport, yang arsitekturnya juga didominasi dengan tiang-tiang baja menyilang (tapi harus diakui KLIA lebih megah …). Ohya, pemesanan taksi maupun bis bisa dilakukan di bagian dalam. Sedikit kritik, tempat menunggu taksi di bagian depan terminal tidak diberi peneduh, sehingga ketika saya antri menunggu taksi BB, haduuh … panasnya cukup menyengat!

Berapa biaya pembangunan Terminal 3? Agak simpang siur. Detik.news menulis 330 milyar, nasional.kompas.com melaporkan 300 milyar, sedangkan cetak.kompas.com mendapatkan angka 285 milyar. Mana yang betul? Entahlah …


Konstruksi bagian depan yang didominasi oleh tiang-tiang baja menyilang

Ohya, saya minta maaf tidak mengontak teman-teman yang ada di Jakarta. Karena saya di Jakarta pada hari kerja, yaitu hari Jum’at, saya pikir tidak bisa kopdar dengan teman-teman. Ngapain saya ke Jakarta dan Bandung? Ceritanya panjang, jadi besok saja ya (yee … emang ada yang nanya?)

(Sumber data : http://www.detiknews.com, http://tourism-indonesia.blogspot.com, http://nasional.kompas.com, http://cetak.kompas.com )

Rumah Mewah, Siapa Punya?

KENYATAAN ATAU SEBATAS IMPIAN?

Anda ingin punya rumah yang halamannya memiliki tennis court, jogging track, swimming pool, barbeque park, children play gorund, dilengkapi dengan super market, international hospital, cafe & resto, dan house keeping service 24 jam, serta terletak di pusat kota sehingga terbebas dari kemacetan? Mari … mariii … pilih hari ini juga sebelum kehabisan!!

Iklan rumah mewah yang diputar setiap akhir pekan pada jam tayang prime time ini hadir di sebuah stasiun teve swasta. Bukan hanya iklan dalam durasi 1 – 2 menit, tapi iklan dengan blocking time selama 30 menit full. Gambar-gambar mempesona yang memperlihatkan lokasi dan berbagai fasilitas rumah pun terpampang di layar televisi, dipandu dua wanita cantik dengan dandanan yang menunjukkan bahwa mereka berasal dari high society.

Penonton pasti ingin tahu, bagaimana caranya memperoleh rumah dengan fasilitas bak surga firdaus itu? Tentu saja bukan dengan rajin beribadah dan mengumpulkan amal saleh, melainkan dengan duit yang jumlahnya ratusan juta hingga milyaran rupiah. Mari kita lihat dua contoh berikut.


Rumah seluas 4×15 meter persegi ini harganya 835 juta ’saja’

Nah … yang ini, 6×15 meter persegi, harganya ‘cuma’ 1,5 milyar …

Masih ada rumah dan apartemen yang harganya lebih mahal dari dua contoh di atas, hingga mencapai sekitar 3 milyar.

Saya merasa terganggu, mengapa rumah-rumah yang sangat mahal itu diiklankan di televisi, yang ditonton oleh jutaan rakyat Indonesia dari berbagai lapisan? Berapa persen sih dari jumlah penonton tersebut yang mampu membeli rumah super mewah tersebut? Bagaimana perasaan orang yang menonton iklan tersebut dari rumah kontrakan sempit di gang becek, atau yang sedang mengais rejeki di warung pinggir jalan, atau bahkan yang sedang kehilangan pekerjaan karena PHK ?

Lanjut Baca »

JALAN KAKI DARI JAWA KE SUMATRA

Kelak, kita akan bisa berjalan kaki dari Jawa ke Sumatra. Kalau mau, naik kebo juga boleh. Naik kuda lumping? Boleh juga sih, siapa tahu malah dapat duit hasil ngamen sepanjang jalan (asal jangan mecahin lampu jembatan untuk dimakan … )

Jalan kaki melintasi Selat Sunda? Yes, absolutely! Sudah pasti bukan berjalan di atas permukaan air (memangnya David Copperfield?), tapi melintasi jembatan yang membentang di atas Selat Sunda. Memang masih merupakan impian, tapi ini mimpi yang sangat mungkin menjadi kenyataan.

Jembatan Selat Sunda digagas pertama kali oleh Prof. Sedyatmo (almarhum), seorang guru besar ITB, pada tahun 1960 (wow … sunguh luar biasa wawasan ke depan beliau!). Jembatan itu disebut “Tri Nusa Bimasakti” yang berarti ‘penghubung antara tiga pulau’, yaitu Sumatra-Jawa-Bali. Pada tahun 1965 Presiden Soekarno memerintahkan kepada ITB untuk membuat desain dan melakukan uji coba. Desain awal penghubung ketiga pulau ini berupa tunnel (terowongan bawah laut), yang diserahkan kepada Presiden Soeharto tahun 1989. Selanjutnya, pada tahun 1997 Presiden Soeharto memerintahkan kepada BJ Habibie selaku Menristek untuk mewujudkan proyek prestisius tersebut. Apa boleh buat, sejarah mencatat bahwa pada tahun itu Presiden Soeharto meletakkan jabatan, sehingga proyek Jembatan Selat Sunda pun tertunda.

Pada tahun 1990an, Prof Wiratman Wangsadinata dan Dr. Ir. Jodi Firmansyah melakukan pengkajian kembali pada perencanaan penghubungan Sumatra dan Jawa. Hasil kajian mereka menyatakan bahwa jembatan lebih layak dari pada terowongan bawah laut. Selain karena ahli-ahli konstruksi Indonesia sudah menguasai teknologi pembuatan jembatan dengan baik, terowongan dinilai lebih riskan terhadap bahaya gempa bumi serta kebakaran. Jumlah kendaraan yang bisa melewati terowongan juga terbatas karena dalam konsepnya mobil diangkut dengan kereta, sementara melalui jembatan mobil bisa melintas langsung. Lagipula, dengan adanya jembatan Indonesia akan memiliki land mark yang akan menjadi simbol kebanggaan bangsa.


Gambar rencana jembatan Selat Sunda, rancangan Prof. Dr. Ir. Wiratman Wangsadinata (foto : Kompas/www.jembatanselatsunda.com)

Lanjut Baca »

Kopdar Yogya Berlanjut …

THE BEAUTY OF BLOGGING

*Sungkem dulu ke Om Trainer karena pinjam kalimat trade mark beliau*

The beauty of blogging bener-bener berlaku di dunia maya maupun di alam baka nyata. Keindahan dunia virtual itu mengejawantah (maap kepada yang nggak ngerti bahasa Jawa) ke dalam kasunyatan (hah, bahasa Jawa lagi!), dalam bentuk kopdar. Kopdar, kopi darat, ini bukan saudaranya susu, teh, atau coklat, tapi sepupuan dengan rendezvous (halah!) atau gathering (sok ah!).

Siapa ‘bintang’ kopdar Yogya tanggal 28 November ini? Siapa lagi kalau bukan seleblog kita, Eka Situmorang-Sir . Oke, tanpa banyak prolog (takut keburu disoraki teman-teman yang mulai bosan baca ocehan saya), saya akan menyampaikan laporan pandangan mata dan sentuhan tangan saya pada kopdar tadi siang. Ini siaran tunda sekitar 9 jam, tapi masih cukup anget kok …

Memenuhi keinginan saudara muda saya, Uda Vizon ,  kopdar kami laksanakan di Bumbu Desa Resto. Saya tiba di sana paling dulu (meskipun sudah telat 15 menit dari janjian kami jam 12.00). Setelah cek ini-itu-ina, saya pun duduk manis menunggu teman-teman lain datang. Yang pertama muncul adalah Muzda . Gadis mungil-cantik ini pernah kopdar dengan saya dan Krismariana di resto ini juga, bahkan di meja yang sama. Walaah … Muzda semakin mungil aja. Kalau Muzda mengijinkan, kayaknya saya bisa mengangkat dia dengan sebelah tangan (Herculi ‘kali… ).  Selang beberapa menit, muncul Uda Vizon dan Uni Icha. Saya sempat beberapa detik ’silap wajah’ terhadap Teuku Ryan … eh, Uda Vizon. Soalnya ‘ustadzt uda’ ini memakai baju hitam dengan beberapa tempelan badge, jadi saya pikir ada reporter Metroteve yang mampir mau makan … hihi.

Sang bintang Eka Situmorang muncul pada kloter ketiga, bersama suaminya, Adrian. Saya sempat terpesona melihat si mungil bin centil ini. Iya, iya, foto-foto di blognya memang sangat nyata memperlihatkan kenarsisan kemanisan Eka, tapi aslinya, Eka lebih cantik dan bening lho dari fotonya. Suer. Saya sempat berpelukan dengannya dan memegang lengannya ketika bercipika-cipiki. Wow … kenyal!

Siapa tamu berikutnya? Kami senang sekali ketika Bunda Dyah Suminar ketebang-ketebang (ups! bahasa Jawa lagi!) muncul, masih lengkap dengan kain batik dan selendang, wong habis njagong manten. Saya meng-sms Bunda hari Sabtu pagi, dan sebenarnya tidak terlalu berharap beliau bisa hadir mengingat kesibukan beliau yang pasti sangat padat. Eee … lha kok ternyata beliau bisa rawuh. Rejeki, rejeki!

Nah, yang muncul terakhir adalah Wijna , anak muda yang perilakunya rada aneh bin ajaib. Mungkin dia memiliki titisan darah Majapahit, sehingga di zaman global dan serba virtual ini, dia rela dan bahagia menghabiskan hidupnya dengan nguplek-uplek  candi dan segala benda peninggalan nenek moyang dari zaman dahulu kala. Dan coba tebak apa pendidikannya? Sarjana Matematika UGM! Hwalah, apakah dibutuhkan kuliah di jurusan Matematika sekian lama untuk bisa menghitung jumlah batu dan bata penyusun candi? Hanya wajah penuh ketawa Wijna jawabnya …


Sebelum makan poto dulu aah …  Uni Icha, Uda Vizon, Adrian, Wijna, Muzda, Tuti, Bunda Dyah, dan Eka.

Apa yang heboh pada kopdar kali ini? Jangan kemana-mana, kisah akan berlanjut setelah teman-teman mengklik ‘Lanjut Baca’ di bawah ini …

Lanjut Baca »

How Big Can You Be?

OVERWEIGHT, OBESITY, BMI

Hughes mencampakkan 300 bajunya, karena sudah tidak cocok lagi dengan ukuran badannya. Apa pasal? Pasalnya, berat presenter berbadan subur ini sudah berkurang dari 130 kg menjadi 95 kg, susut 35 kg dalam waktu 9 bulan. Hebaatt!! Ini prestasi yang benar-benar harus diapresiasi, karena sungguh tidak mudah menurunkan berat badan sebanyak itu secara alamiah (tanpa obat-obatan maupun lipo suction). Hughes bertekad akan menurunkan berat badannya 20 kg lagi, agar mencapai berat ideal. Salut untuk Hughes!

Hughes, yang dulu merasa pede dengan ukuran tubuhnya, bahkan sampai membuka butik ‘Big is Beautiful’ yang khusus menyediakan baju-baju berukuran super besar, akhirnya merasa perlu mengecilkan tubuhnya. Ia termotivasi untuk pindah dari ‘kelas berat’ ke ‘kelas terbang’ karena terpilih sebagai juru bicara Persatuan Artis Penyanyi Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI) pada Indonesian Song Festival 2009 dan ASEAN Song & Culture Festival 2010 mendatang. Sebagai juru bicara festival, sudah pasti ia akan menjadi sorotan kamera, dan meskipun kamera akan mampu ‘memuat’ seberapapun besar tubuhnya, agaknya Hughes tak suka ‘menyita tempat’ di panggung, di kamera, maupun di halaman media cetak ….


Hughes 130 kg (foto dari sini ) dan Hughes 95 kg (foto : Nur Ichsan)

Dunia entertainmen Indonesia makin hari memang makin ramah kepada ‘orang-orang besar’. Tentu ini fenomena yang positif, karena entertainer bukan lagi semata dilihat dari penampilannya, tetapi juga talenta dan kapabiliti yang mereka punyai. Selain Hughes, tercatat beberapa artis berbadan ektra lebar yang juga sukses memenuhi layar kaca, seperti TikaPanggabean (Poject Pop) dan Rina Gunawan. Tika, yang semula membebani timbangan dengan 108 kg, akhirnya rela mengurangi lemak di tubuhnya, dan sekarang berbobot 92 kg saja. Rina Gunawan, belum terdengar kabar akan mengepras ukuran baju.


Tika Panggabean dan Rina Gunawan (foto dari sini )

Ukuran tubuh seseorang dikategorikan menjadi underweight, overweight dan obesity, yang ditentukan oleh angka BMI (Body Mass Index). Anda tahu berapa angka BMI anda? Ayuk kita lihat …

Lanjut Baca »

SETELAH SEKIAN LAMA BERJALAN BERSAMA …

Adakah di antara anda yang belum pernah merasakan jatuh cinta menggelora, yang membuat gurun pasir serasa penuh bunga, langit mendung seakan penuh bintang kejora, gubug derita bak surga, dan dunia bagai milik berdua? Jika belum, rugi sangat …

Passionate love, cinta yang membikin seseorang mabuk kepayang seakan melayang terbang, biasa dialami seseorang ketika bertemu dengan pasangan (calon pasangan) hidupnya. Cinta yang penuh hasrat dan romantisme seperti inilah yang akan membuat seseorang mampu menerjang badai sehebat apa pun, dan halangan-rintangan setinggi apapun. Emosi dan khayalan yang sarat menyertai passionate love membuat seseorang seringkali tidak mampu melihat kekurangan dan potensi ketidakcocokan antara dirinya dengan pasangannya. Kalaupun mereka melihatnya, mereka menanamkan keyakinan dalam hati mereka bahwa everything’s will be okay.

Begitulah, dan pasangan yang dilanda passionate love akan melangkah ke jenjang pernikahan dengan penuh kebahagiaan …

Dalam beberapa tahun perjalanan pernikahan, passionate love tersebut masih akan ada di antara keduanya. Namun dengan semakin bertambahnya waktu, secara perlahan gelora yang menggebu itu akan perlahan-lahan mereda. Setelah menikah dan hidup bersama, merasakan dan menjelajahi segala hal yang dulu hanya menjadi khayalan, melihat dan mengetahui watak serta perilaku keseharian pasangan, maka kedua pasangan akan dihadapkan pada jati diri sebenarnya dari pasangan mereka. Khayalan tentang cinta yang dulu ada, sekarang dihadapkan pada realita.

Dibutuhkan rasa kasih yang tulus, kesabaran yang luas, kedewasaan yang penuh pertimbangan, keteguhan pada komitmen, dan kelapangan hati bagi kedua pasangan untuk bisa menerima jati diri pasangan sebagaimana adanya, serta mengatasi konflik-konflik yang mungkin terjadi di antara mereka. Cinta romantis penuh hasrat yang dulu mengikat mereka, secara perlahan berubah menjadi cinta persahabatan dan persaudaraan yang berisi saling memahami dan menghormati. Pada tahap ini, passionate love berubah menjadi companionate love.

Transisi dari passionate love menjadi companionate love tidak selalu berjalan mudah. Kedua pasangan harus berjuang dengan sekuat tenaga untuk bisa menumbuhkan companionate love, karena cinta jenis inilah yang akan membuat sebuah perkawinan bertahan. Setelah usia bertambah, cumbu rayu bukan lagi menjadi kebutuhan utama. Yang dibutuhkan adalah teman berbincang dan berbagi rasa yang menumbuhkan rasa damai, keyakinan akan adanya seseorang yang akan selalu mengasihi dan mendampingi.

Ketika menemukan pasangan yang cocok, seseorang dikatakan telah menemukan ‘pelabuhan hati’. Pernikahan sering diibaratkan dengan ‘melayari samudera kehidupan’. Sebuah perumpamaan yang sungguh tepat, sebab begitu biduk dilayarkan ke samudera, maka keselamatan dan kesejahteraan biduk itu sepenuhnya berada di tangan kedua orang yang mengemudikannya, yaitu suami dan isteri. Persis sama seperti kehidupan manusia, laut pun penuh misteri dan memiliki ‘perilaku’ yang seringkali tak bisa diprediksi. Cuaca cerah bisa berubah menjadi badai. Riak-riak kecil tak mustahil berubah menjadi gulungan ombak. Dibutuhkan keteguhan, keberanian, dan ketrampilan untuk menyelamatkan biduk agar tidak karam dan bisa meneruskan pelayaran dengan tenang sampai ke pantai tujuan.

Di manakah pantai tujuan pernikahan? Jika salah satu atau kedua penumpang biduk pernikahan kembali kepada Yang Maha Kuasa, maka biduk pernikahan itu berlabuh di pantai tujuan. Jika kedua penumpang berpisah selagi berada di tengah samudera, berarti biduk pernikahan tersebut karam.

Hari ini, kami telah 24 tahun melayarkan biduk pernikahan kami. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmatNya, hingga biduk kami selamat sampai ke pantai tujuan. Amin.

 

 

 

Kembarkah Kami?

LHO ! KOK WAJAH KITA SAMA?

Pernahkah anda terkejut karena bertemu dengan seseorang yang wajahnya mirip dengan anda sendiri? Atau ada orang mengatakan wajah anda mirip si Anu, atau persis si Una, atau plek-ketiplek-duplek dengan si Inu? Padahal anda tidak mengenal ‘kembaran’ anda tersebut, apalagi bersaudara seindung telur ….

Saya beberapa kali dikatakan orang ada kesamaan wajah dengan Neno Warisman, Teh Ninih (istri Aa’ Gym), malahan Sitoresmi juga (yang saya sebut orang-orang terkenal saja, soalnya kalau saya ceritakan saya juga dibilang orang mirip dengan Waginah atau Tulkiyem, kan anda nggak bisa membayangkan wajah Mbok Wag dan Yu Tul itu kayak apa … ). Hwahaha! Mungkin orang-orang yang mengatakan wajah saya ada kesamaan dengan Neno, atau Teh Ninih, atau Mbak Sito, itu lupa nggak memakai kaca mata mereka, sehingga wajah saya yang remuk redam terlihat hampir serupa dengan wajah wanita-wanita ayu itu … (ya nggak papa sih, sering-sering aja lupa pakai kacamata … hihi).

Tapi sekali ini, saya benar-benar tercengang ketika melihat foto Buhan. Rasanya seperti berada di depan cermin, dan melihat wajah saya sendiri. Hehehe … lucu sekali, ketika melihat wajah kita menempel di kepala orang lain (enak aja, itu wajah Buhan sendiri, tauu!).

Siapakah Buhan? Nama aslinya adalah Siti Maslakhah. Saya menyebutnya Buhan, karena kalau meninggalkan jejak di blog ini, dia menuliskan identitasnya sebagai Bundanya Hanafi, sehingga saya singkat saja menjadi Buhan. Untuk penyingkatan ini, dia sudah membubuhkan tanda tangan persetujuan (halah!). Kebetulan Han adalah juga nama suaminya. Yo wis, klop lah.

Kebetulan kami sama-sama tinggal di Yogya bagian selatan, bahkan katanya Buhan sering lewat di depan rumah saya (meskipun belum pernah mampir untuk sekedar ngantar gudeg atau chicken cordon bleu … *lho?! kok ngarep*). Kami sama-sama berprofesi sebagai Bu Guru, sama-sama juga merangkap sopir. Soal usia, kalau menurut perhitungan saya, Buhan lebih muda sekitar 7 tahun dibanding saya.

Selama ini, kalau meninggalkan jejak kaki di blog, foto Buhan tidak muncul, jadi saya tidak tahu wajahnya seperti apa. Nah, beberapa hari yang lalu, dia meng-add saya di FB, dan …. badalaaa!! Saya tercengang karena foto wajahnya mirip wajah saya. Ketika saya katakan hal itu lewat message FB, Buhan bilang bahwa kedua putranya pun mengira foto saya yang banyak bertebaran di blog (tanpa tahu malu itu) itu adalah ibunya. Yeeiy!

PR lagi untuk para murid : yang manakah Buhan, dan yang manakah Butut? (alamaak … singkatan nama saya kok jelek banget ya … hiks … hiks … )

 


Sama-sama berjilbab merah, sama-sama berkacamata, sama-sama cantik dan pinter, lipstikpun sama-sama merah cabe …  ya’elaaah!


Untuk kali ini, penebak jitu tidak mendapat hadiah (yeeeiy … emang kemarin ada hadiahnya?)

Di Radio, Aku Dengar …

RADIO, DUNIA SUARA SEPANJANG MASA

Di radio aku dengar lagu kesayanganmu
Kutelepon di rumahmu sedang apa sayangku
Kuharap engkau mendengar
Dan kukatakan rindu

Malam Minggu pukul tujuh aku apel ke rumahmu
Kubersiul dan bernyanyi membayangkan dirimu
Bercanda dan bercumbu duduk berdua denganmu

Reff:
Tetapi mimpi apa aku semalam
Kulihat engkau duduk berdua
Bercanda mesra dengan seorang pria
Kau cubit kau peluk kau cium

Di radio aku dengar lagu kesayanganmu
Kututupi telingaku dengan dua tanganku
Biarlah cepat berlalu dan kugadaikan cintaku

Kugantungkan cintaku … yeee..

Kugadaikan cintaku ….

Laaaa..lalala….lala..


Lirik lagu yang dinyanyikan oleh almarhum Gombloh di atas sebenarnya cukup mengenaskan, tapi mau tak mau kita tersenyum geli mendengarnya. Semula saya mengira judulnya adalah “Di Radio”, eh … sesudah nemu  di sini baru tahu kalau judulnya adalah “Kugadaikan Cintaku”. Lagu tersebut pernah sangat populer pada tahun 80-an (buat teman-teman yang lahir sesudah tahun 80, ma’ap … ). Gombloh yang memiliki nama asli Soedjarwoto Soemarsono meninggal 9 Januari 1988 pada usia 39 tahun.


Gombloh (foto : Wikipedia)

Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »